Kamis, 25 Februari 2021

7 Rekomendasi Meja Makan Minimalis iCreate.id untuk Produktif Berkarya

Februari 25, 2021 1

meja makan minimalis iCreate.id



Berada di rumah dalam waktu yang lama, bukan berarti nggak bisa produktif. Hanya saja, memang godaan untuk rebahan atau bermalas-malasan pastinya lebih besar. Padahal, sayang banget kalau waktu jadi banyak terbuang percuma. Meningkatkan produktivitas bagi saya, penting untuk terus melatih otak kita agar terus bertumbuh dan agar tubuh terus bergerak. Otak yang senantiasa terasah, tubuh yang banyak bergerak, bisa bikin perasaan dan mood juga menjadi lebih baik.


Menurut saya, menjadi produktif punya makna yang sangat luas. Produktif tidak hanya berarti kita sedang mengerjakan pekerjaan kantor, atau mengerjakan tugas dan project-project saja. Produktif menurut saya berarti mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat secara teratur. Jadi tentu aktivitasnya bisa apa saja, menulis, menggambar, memasak, berkebun, dan lain sebagainya. Bisa pekerjaan yang bersifat menghasilkan uang, atau hobi yang menghasilkan kesenangan.


Produktivitas itu memang pengaruh besarnya adalah dari diri sendiri, tapi, berdasarkan pengalaman saya, amat sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar diri yang berada di sekitar kita. Contoh gampangnya, kalau pakai sabun baru aja rasanya jadi lebih semangat mandi, kan? Hehe. Berlaku juga untuk kegiatan lainnya. 


Barang-barang penunjang aktivitas kita itu nggak kalah penting dengan niat di dalam diri kita. Karena itu ketika banyak beraktivitas di dalam rumah, furnitur yang ada menjadi elemen penting. Buat saya pribadi, kehadiran sebuah meja sebagai salah satu furnitur di rumah, adalah hal yang nggak boleh diabaikan, terutama meja makan.


Meja makan sesungguhnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat kita menghidangkan makanan dan makan bersama keluarga saja. Banyak orang yang bekerja juga di meja makan, karena bisa sekalian sambil ngemil. 


Nggak jarang juga, kan meeting virtual atau ikut webinar juga sekalian sambil makan? Atau lagi semangat-semangatnya mencoba resep menu-menu baru yang belum pernah dicoba sebelumnya? Kehadiran meja makan menjadi penting. Karena untuk yang dapurnya sempit, biasanya memotong bumbu dan menaruh bahan lainnya dilakukan di meja makan, kan? Jadi perlu banget memiliki meja makan yang menunjang untuk berbagai aktivitas.


Karena intensitasnya yang pasti lumayan sering digunakan, sangat penting untuk kita memilih meja makan yang awet dan tahan lama. Karena kalau rusak dan memang sulit diperbaiki, akan sayang sekali, mau disingkirkan pun repot.


Untuk itulah mengapa meja makan minimalis menjadi favorit dan pilihan banyak orang. Selain desainnya yang memang kece, dan juga ramping sehingga hemat ruang. Keuntungan memilih meja makan minimalis juga adalah kemudahannya untuk dipadu-padankan dengan desain ruangan yang kita punya. Belum lagi warna-warna netral dari desain furnitur minimalis memberi kesan ruang yang lebih lapang.


Nah, untuk kamu yang lagi cari-cari meja makan minimalis dengan harga terjangkau, desain yang menarik serta kualitas yang tinggi, kamu bisa pilih meja makan minimalis iCreate.id. Cocok buat makan bersama, bekerja, belajar, dan berkarya.

Berikut ini 7 Rekomendasi Meja Makan Minimalis iCreate.id untuk Lebih Produktif Berkarya.  


1. Meja Makan Bulat Motif Marmer yang Mewah

Munchen Dining Table. Foto: iCreate.id. Olah grafis: AprilTupai.com

Selain motif marmernya yang mewah, Munchen Dining Table juga hemat ruang, karena hanya terdiri dari tiga kaki yang dijamin kokoh. Dengan diameter 110 cm dan tinggi 76 cm,  meja makan minimalis ini cukup compact. Cocok untuk kamu pasangan yang baru menikah. Aktivitas makan jadi lebih akrab, bahkan kamu bisa merayakan anniversary pernikahan dengan mengadakan candle light dinner yang romantis. Tinggal tambahkan lilin yang cantik. Kalau punya meja makan motif marmer begini, kreasi masakan yang kamu buat akan lebih estetis ketika difoto. Untuk menambah kesan elegan pilihlah kursi berwarna hitam.


2. Meja Makan Bulat Warna Putih dan Abu-abu Polos


Vanda Dining Table. Foto: iCreate.id. Olah grafis: AprilTupai.com

Tidak berbeda jauh dengan meja makan varian Munchen, untuk meja makan minimalis Vanda ini juga berbentuk bulat dan memiliki tiga kaki. Hanya saja diameternya lebih kecil sedikit, yaitu 100 cm dan tingginya 75cm. bedanya lagi adalah di bagian bawah kakinya terdapat aksen besi yang membuat tampilannya tidak monoton. Jadi, kalau yang senang dengan kesan mewah bisa pilih Munchen, sedangkan untuk yang senang dengan tampilan yang lebih simple tapi tetap elegan, bisa pilih varian Vanda. Warnanya yang polos sangat mudah disesuaikan dengan warna dinding ruang makan Anda. Terdapat dua pilihan warna untuk tipe Vanda, yaitu dark grey dan white. 

 


3. Meja makan Bulat kombinasi warna putih dan cokelat

Nurnberg Dining Table. Foto: iCreate.id. Olah grafis: AprilTupai.com

Nurnberg Dining Table bisa jadi meja makan sekaligus meja kerja atau meja ruang tamu yang artistik. Dengan kaki berbahan solid beech wood berwarna cokelat ditambah aksen besi melintang berwarna hitam memberikan kesan ruangan yang warm. Kombinasi warna dengan top table warna putih membuat ruangan menjadi lebih clean. Dibanding tipe Vanda dan Munchen, meja makan ini ukurannya sedikit lebih mungil, yaitu dengan diameter 90cm dan tinggi 72cm. Tambahkan kursi seperti model di foto ini akan semakin menambah kekerenan interior rumah Anda!


4. Meja Makan Extendable Motif Marmer

Waldenburg Dining Table (Expendable). Foto: iCreate.id. Olah grafis: AprilTupai.com

Waldenburg Dining Table (Expendable) ini bisa diperluas dari panjang awalnya 160cm yang muat untuk 4 orang menjadi 200cm, sehingga muat hingga 6 orang! Pastikan Anda juga punya kursi ekstra, ya! Meja extendable Ini cocok untuk dipakai ketika merayakan pesta kecil-kecilan bersama teman dan keluarga. Suasana makan bersama dijamin jadi lebih akrab dan hangat. Motif marmernya juga membuat kesan mewah, cantik ketika foto bersama.


5. Meja Makan Minimalis Persegi Panjang Motif Kayu dan Kaki Emas

Weimar Dining Table. Foto: iCreate.id. Olah grafis: AprilTupai.com

Cokelat dan emas tidak pernah salah dipadukan. Harmoni antara warna alami dengan emas yang kemewahan memberikan kesan yang dramatis pada ruangan. Berbentuk persegi panjang dengan ukuran 140cm x 80cm dan tinggi 76cm, Weimar Dining Table sangat pas untuk makan bersama keluarga. Kakinya yang ramping membuat desainnya menjadi lebih ringkas. Pilihlah kursi berkaki ramping juga agar tempilannya serasi.


6. Meja Bulat Kaca

Hamburg Dining Table. Foto: iCreate.id. Olah grafis: AprilTupai.com

Untuk yang tinggal di apartemen minimalis, Hamburg Dining Table cocok buat menerima tamu, atau bahkan tempat belajar anak. Tidak perlu cemas kalau ada tumpahan bekas makanan karena materialnya yang terbuat dari tempered glass sangat mudah dibersihkan dan mudah juga perawatannya, sehingga bisa terus cantik untuk waktu yang lama. Tambahan vas bunga dari kaca bening juga bisa menambah keindahan meja ini. 


7. Meja Makan Minimalis Berbentuk Kotak

Hannover Dining Table. Foto: iCreate.id. Olah grafis: AprilTupai.com

Meja makan minimalis berbentuk bulat dan persegi panjang sudah dibahas, kini gilirannya meja makan berbentuk kotak. Hannover Dining Table yang memiliki ukuran 80cm x 80cm dan tinggi 76cm ini sangat cantik sekali menurut saya. Asyik banget buat ngemil-ngemil sore makan biskuit sambil minum teh dan baca buku. Apalagi kalau diletakkan di dekat jendela, bisa sambil mandang hujan atau matahari terbenam. So inspiring!


Tips Mendekorasi Ruang Makan

Sebetulnya, tanpa dekorasi pun, dengan memiliki meja makan minimalis seperti di atas, sudah cukup memperindah ruang di rumah. Tapi, nggak ada salahnya juga menghiasnya agar terlihat makin cantik. Pastikan dekorasi yang Anda pilih tidak terlalu makan tempat. Apa saja dekorasi yang tepat untuk meja makan minimalis di rumah Anda?


1. Candle Holder atau Tempat Lilin yang Unik

Leiden Candle Holder. Foto: iCreate.id


Punya rencana special untuk makan malam bersama pasangan di rumah? Tempatkan lilin di wadah yang cantik. Di iCreate.id kamu bisa pilih candle holder dengan ornament burung seperti di foto. Gemas ya! Tempat lilin jadi centerpiece yang menemani suasana romantis.


2. Vas Bunga Minimalis

Tolyatti Vase Black. Foto: iCreate.id





Karena fungsi utama dari meja makan bukan sebagai meja pajangan, tidak perlu menempatkan vas dengan beragam ukiran dan berkuran besar di meja makan. Pilih saja vas bunga minimalis yang berukuran tidak terlalu besar serta desain yang sederhana dan tidak rumit.


3. Lukisan Artistik


Sabe Lukisan Dinding Minimalis. Foto: iCreate.id


Kebanyakan orang memilih dekorasi lukisan untuk ditempatkan di ruang tamu atau ruang kerja, namun, sebetulnya lukisan juga bisa menghias ruang makan di rumah. Seringnya memang ruang makan adalah ruangan yang paling minim dengan dekorasi. Padahal, kehadiran lukisan yang artistik dapat memberikan sentuhan berbeda.


Gimana udah tertarik dengan rekomendasi meja makan minimalis dari iCreate.id? Ada banyak jenis furnitur lainnya juga di iCreate.di, mulai dari kursi, meja, sofa, aksesoris, penyimpanan dan kasur. Kalau mau beli, cara paling praktisnya dengan belanja furniture online. Anda nggak perlu ke luar rumah, barang pun diantar. Bahkan kalau belanja furnitur online di iCreate.id, untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung gratis ongkos kirim dan instalasi, lho! Enak banget, kan!


Cara Belanja Furniture Online di iCreate:

1. Buka iCreate.id

2. Pilih produk yang diinginkan

3. Klik tombol "Add to Cart"


4. Produk akan masuk ke keranjang belanja

5. Klik keranjang belanja Anda yaitu berupa gambar tas belanja di pojok atas sebelah kanan

6. Isi Shipping Address. Lengkapi data diri mulai dari nama, email, telepon, alamat lengkap, dari propinsi, kabupaten/kota, kecamatan.


7. Pilih Payment Method yang digunakan. Untuk pembayaran, Anda bisa memakai kartu kredit, ATM Mandiri, ATM BCA, ATM Bersama, dan Gopay

8. Lalu klik Checkout


Selain lewat website, Anda juga bisa belanja furnitur iCreate.id melalui: ShopeeTokopediaLazada dan Blibli. Jika butuh informasi lainnya, Anda juga bisa DM ke Instagram mereka  di: @icreate.id. Selamat belanja! 






 


Selasa, 16 Februari 2021

Pengalaman Jadi Co-Writer Naskah Teater Musikal "Anugerah Terindah"

Februari 16, 2021 5

 

teater musikal anugerah terindah

Tahun 2020 memang sudah lewat, tapi ada satu peristiwa terbaik yang saya alami di tahun itu yang mungkin akan sulit saya lupakan hingga tahun-tahun mendatang, yaitu menjadi partner Mas Agus Noor sebagai penulis naskah teater musikal Anugerah Terindah. Pertunjukan ini dimainkan oleh Sal Priadi, Mikha Tambayong, Ayushita, Asmara Abigail dan Roy Sungkono. Pertunjukan ini merupakan produksi kerja sama Titimangsa Foundation dan Mola TV, serta dapat disaksikan sejak tanggal 5 Desember 2020 di Mola TV.


Saya sendiri nggak menyangka bisa terlibat dalam pertunjukan tersebut, terlebih menjadi co-writer bersama Mas Agus Noor. Saya sendiri adalah penggemar karya-karya Agus Noor sejak saya kuliah. Bahkan, beberapa cerpen yang saya tulis gayanya terinspirasi dari gaya menulisnya. Saya akan bercerita tentang bagaimana awalnya saya bisa terlibat di project ini.


Di bulan September 2020, saya sedang scroll Facebook dan menemukan status Mas Agus Noor yang menginfokan bahwa dia sedang menggarap dua project untuk bulan Oktober. Di salah satu project tersebut ia menyebutkan bahwa akan menggarap pertunjukan musikal dari sebuah band dan membutuhkan penulis muda untuk membantunya. Jika ada yang ingin merekomendasikan seseorang atau dirinya sendiri silakan tulis di kolom komentar beserta link karyanya.


Saya pun ikutan komentar dengan nekat, mengajukan bahwa diri saya bersedia untuk membantu dan menyertakan link buku Turn on the Radio. Setelah meninggalkan jejak di kolom komentarnya, saya tidak berharap terlalu banyak. Karena untuk bisa sampai dipilih rasanya kok ya kayak mimpi yang ketinggian. Saat itu di statusnya bahkan saya tidak tahu pertunjukan ini akan diproduksi oleh siapa, pemainnya siapa, dan band yang dimaksud band apa saya juga tidak tahu. 


Tapi, memang bukan itu yang terpenting bagi saya. Bisa kerja bareng dengan Mas Agus Noor merupakan sebuah pengalaman yang pastinya berharga banget buat saya. Saya juga sudah pasti yakin ini sebuah project yang keren, karena project apa pun yang dikerjakan oleh Mas Agus Noor nggak ada yang nggak keren deh kayaknya, hehe.


Beberapa hari setelah komentar di statusnya itu, dia membalas komentar saya, bahwa saya diminta mengirim email padanya. Saya pun segera kirim email dengan mengenalkan kembali diri saya. Tidak lama setelah itu, ia pun membalas email saya dan langsung menceritakan tentang project yang awalnya masih rahasia itu. 

pemain anugerah terindah
Bersama para pemain teater musikal "Anugerah Terindah"

Saat itu saya belum tahu siapa pemainnya, hanya saja dia mengutarakan bahwa pertunjukan ini dibuat berdasarkan lagu-lagunya Sheila on 7. Wow! Rasanya kayak nggak percaya sewaktu nerima email-nya. Saya ngerasa saya sedang bermimpi. Sheila on 7 adalah band yang turut memeriahkan masa remaja saya. Bahkan saya dan teman-teman sekolah dulu pernah bikin drama ala-ala yang pakai lagu-lagunya Sheila. Nggak nyangka sekian tahun setelahnya saya malah ikutan bikin drama benerannya.


Setelah ngobrol-ngobrol lewat Whatsapp dan email, kami pun berencana meeting di kantornya Titimangsa bersama Pimpinan Produksinya yaitu Mbak Tia. Saat meeting pertama itulah saya baru dikasih tahu para pemainnya, dan rasanya makin nggak percaya pas lihat nama-nama mereka. Ini serius bakalan mereka yang main? 

Terus malam itu berlangsung dengan seru sekali. Kami bertiga diskusi soal karakter tokoh, alur cerita, dan karena berdasarkan lagu, jadi kami juga nyesuain dengan 8 judul lagu Sheila on 7 yang akan dimasukkan dalam cerita. Kalau biasanya bikin cerita dulu lalu cari soundtrack, ini kebalikannya, dari lagu lalu dibuat ceritanya. Rasanya kayak mimpi ngolah cerita bareng Mas Agus Noor.

Meeting pertama di kantor Titimangsa


Dari pertemuan pertama itu, saya dan Mas Agus pun membuat naskah versi kami masing-masing. Dengan waktu yang relatif singkat, saya nulis cerita sambil setiap waktu ditemani lagu-lagunya Sheila on 7 untuk bener-bener ngebayangin adegan dan dialognya. 

Setelah itu naskah dari saya diolah oleh Mas Agus Noor dengan cerita yang juga sudah dia buat dan dia meminta saya untuk menambahkan dialog di beberapa bagian. Kemudian kami pun zoom meeting pertama dengan para pemain untuk membaca naskah awal. Saat zoom meeting tersebut juga ikut serta Mbak Happy Salma selaku produser dan Mbak Ana selaku asisten sutradara. Setelah pertemuan virtual itu, berlanjutlah ke latihan-latihan yang diadakan di Titimangsa. 

Bersama sutradara, produser, dan pimpinan produksi teater musikal "Anugerah Terindah"

Sebelum latihan, kami berempat, yaitu saya, Mas Agus, Mbak Happy dan Mbak Tia juga meeting dulu untuk merampungkan naskah yang akan kami berikan ke para pemain. Walau malam-malam meeting-nya entah kenapa rasanya nggak capek sama sekali, dan setelah itu pun langsung nambahin dialog ke naskah, sesuai yang diminta Mas Agus.


Besoknya, pas latihan pertama saya pun datang. Pemain yang hadir saat itu hanya Roy Sungkono dan Sal Priadi. Saat itu rasanya masih kayak mimpi, sih. Prosesnya nggak lama, terus setelah beberapa hari latihan di Titimangsa, kita pun latihan langsung di Gedung Kesenian Jakarta.


Yang bikin cukup tercengang juga adalah orang-orang yang berada di belakang layarnya. Mulai dari penata rias, kostum, musik, tari, cahaya, dan lain-lain semuanya bukan orang sembarangan. Mereka semua memang orang-orang yang berbakat dan berdedikasi di bidangnya masing-masing.  

tim kerja anugerah terindah
Bersama Asisten Sutradara, penata rias, penata kostum, penata tari, dan pemusik teater musikal Anugerah Terindah

Menjelang pementasan, lebih kaget lagi ternyata Reza Rahadian dan Dira Sugandi ikutan tampil juga. Bener-bener kejutan banget buat saya, terutama Reza Rahadian. Tahun 2012/2013-an pernah ketemu dia waktu wawancara untuk rubrik profil di Koran Jakarta, eh tiba-tiba ketemu lagi di project yang sama. Sungguh, kebayang aja nggak sebelumnya. Udah gitu, karena ini dialihwahanakan ke dalam bentuk film untuk tayang di televisi, ada sutradara visual yang melakukannya, yaitu Kamila Andini. Bener-bener project yang jadi anugerah terindah dalam hidup saya di tahun 2020. 


Waktu nonton tayangannya di Mola TV dan ngelihat nama sendiri muncul di credit title ternyata rasanya semagis itu. Rasanya mau banget untuk bisa punya kesempatan ngebuat naskah lagi. Semoga ada jalannya, ya! Amin.

Cara Menonton Teater Musikal Anugerah Terindah

Teater musikal ini dapat ditonton di Mola TV dengan klik link di sini
Cukup berlangganan sebulan dengan membayar Rp12.500 sudah bisa menyaksikannya dan juga bisa menonton tayangan lainnya di Mola TV.

Teater Musikal Anugerah Terindah




Pemain: Mikha Tambayong, Roy Sungkono, Ayushita, Sal Priadi, Asmara Abigail
Penampilan khusus: Dira Sugandi, Happy Salma, Reza Rahadian
Produser: Happy Salma
Sutradara: Agus Noor
Penulis Naskah: Agus Noor dan Aprillia Ramadhina
Penata Artistik: Iskandar Loedin, Penata Video: Deden Jalaludin Bulqini
Penata Cahaya: Deray Setyadi
Penata Musik: Agus Wahyudi & Prince of Fireflies
Penata Tari: Josh Marcy
Penata Kostum: Retno Ratih Damayanti
Penata Rias: Oscar Daniel & Sariayu Martha Tilaar
Penata Suara: Anton Gendel
Asisten Sutradara: Heliana Sinaga
Manajer Panggung: Doni Lazuardi
Pimpinan Produksi: Pradetya Novitri
Foto Poster: Tompi
Sutradara Visual: Kamila Andini

Sinopsis Teater Musikal Anugerah Terindah

Teater musikal Anugerah Terindah bercerita tentang lima orang sahabat yang terdiri dari tiga orang perempuan pemilik butik dan dua orang pemilik kafe, yang kedua toko mereka bersebelahan. Pertunjukan dibuka dengan lagu "Tunjuk Satu Bintang" dan diakhiri dengan lagu "Melompat Lebih Tinggi". 

Bianca (Mikha Tambayong) memiliki pacar seorang influencer yaitu Arya (Roy Sungkono), teman Roy, yaitu Hed (Sal Priadi) juga suka dengan Bianca. Sementara itu, dua sahabat Bianca yaitu Abidari (Ayushita) mencintai Arya, dan Tie (Asmara Abigail) menyukai Hed.
 
Kisah cinta segi lima ini menjadi rumit karena jika mereka memperjuangkan cinta mereka masing-masing, maka akan ada hati yang harus terluka. Lantas apa yang harus mereka korbankan? Cinta ataukah persahabatan?

Publikasi

Berita tentang teater musikal Anugerah Terindah di berbagai media:


- Tirto.id: Sinopsis Anugerah Terindah, Teater Musikal yang Tayang di Mola TV

- Kapanlagi.com: Review: Teater Musikal Anugerah Terindah, Visualisasi Magis dari Lagu Hits Karya Eross Candra

- CNNIndonesia.com: Anugerah Terindah, Teater Musikal Adaptasi Lagu Sheila On 7

- Kompas.com: Tayangkan Teater Musikal Anugerah Terindah, Mola TV Dukung Teater Indonesia

- Antaranews.com: Teater musikal "Anugerah Terindah" angkat lagu-lagu Sheila On 7

- Grid.id: Yuk Nonton! Teater Musikal Anugerah Terindah Kolaborasi Indah dari Titimangsa Foundation dan Mola TV

- Detik.com: Teater Musikal Anugerah Terindah Tayang di Mola TV

- Tribunnews.com: Teater Musikal Anugerah Terindah Siap Tayang di Mola TV, 8 Artis Ini Bakal Tampil, Ada Reza Rahadian

 

Jumat, 12 Februari 2021

Review Film Story of Kale: Perpaduan Maksimal antara Manis dan Pedih yang Terlalu

Februari 12, 2021 0

Tokoh Kale muncul tidak terlalu banyak di film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI). Tapi tak bisa dimungkiri, banyak sekali yang mengidolakan tokoh ini. Apalagi Kale di film NKCTHI diceritakan sebagai sosok laki-laki pemberi harapan palsu kepada tokoh Awan. Karena itu, ketika Visinema merilis film Story of Kale: When Someone’s in Love, sudah pasti banyak sekali yang menunggu-nunggu.


Penggemar Ardhito Pramono yang jatuh cinta pada suara dan musiknya, mungkin akan bertambah jumlahnya setelah melihat kemampuan Ardhito bermain sebagai tokoh utama di film ini. Akting Ardhito cukup baik untuk orang yang belum pernah jadi peran utama dalam sebuah film. Memang banyak sekali musisi yang bermain film, tapi tidak banyak juga yang bisa berakting dengan cukup baik.


Sinopsis Story of Kale

sinopsis Story of Kale
Sumber gambar: instagram.com/storyofkale

Untuk yang belum nonton filmnya, tulisan berikut ini tentu akan berisi spoiler, jadi lebih baik nonton filmnya aja dulu. Tapi, kalau emang penasaran, nggak apa-apa banget baca sinopsis Story of Kale di sini, biar makin mantap pas nontonnya nanti.


Jadi, film ini bercerita tentang kisah percintaan Kale sebelum Kale kenal Awan di film NKCTHI. Kale di sini belum jadi manajer band Arah. Awalnya manajer Arah itu perempuan bernama Dinda yang diperankan oleh Aurelie Moeremans. Kale kenal Dinda karena ya namanya juga anak band, jadi saling kenal karena sering ketemu di acara musik.


Film ini dibuka dengan Dinda yang minta putus sama Kale, tapi Kale setengah mati minta penjelasan dan nggak rela kalau Dinda mutusin dia dan pergi dari hidup dia. Alurnya pun maju-mundur, antara masa lalu dan masa kini. Jadi masa kininya cuma nampilin gimana Dinda bersusah payah mau putus dari Kale, dan gambaran masa lalunya di sini untuk kasih lihat ke penonton apa yang ngebuat Dinda mau putus dari Kale, dan itu ditarik dari awal mereka jalin hubungan.


Di salah satu acara musik di mana Arah tampil dan tentu ada Kale juga, pacarnya Dinda, yaitu Argo (Arya Saloka) ngamuk-ngamuk ke Dinda karena rencananya mereka mau ketemu neneknya Argo tapi Dindanya malah nemenin Arah di acara musik. Padahal Dinda udah bilang kalau dia nggak bisa datang nemuin neneknya itu dari jauh-jauh hari katanya. Tapi Argo tetep nggak terima. Ributlah mereka berdua, Argo banting-banting barang, terus pas Argo mau mukul Dinda, datanglah Kale sebagai si penyelamat. Mereka berdua berantem dan Kale rela babak belur gitu demi Dinda.


Abis mereka kelar berantem, si Argo nggak dikasih lihat lagi, mungkin yaudah dia nemuin neneknya sendirian. Si Kale sok-sokan nyadarin Dinda, kalau Argo tuh kasar, kalau Argo memang sayang sama Dinda, nggak seharusnya Argo kayak gitu. Ya gombal ala-ala orang yang mau PDKT gitulah. Kale sok meyakinkan Dinda kalau Dinda pantas dapetin cowok yang lebih baik. Tentu yang dimaksud Kale cowok yang lebih baik itu ya dirinya sendiri. Sungguh percaya diri sekali memang si Kale ini.


Hubungan mereka berdua pun terus bergulir. Manis bangetlah pokoknya. Ada adegan di mana mereka berduaan di studio, bikin lagu berdua, terus ciuman di studio. Iya, mereka ciuman padahal hubungannya masih belum punya nama gitu, alias hubungan tanpa status. Terus pas Kale jadi additional player di band Arah, Kale nyatain perasaannya ke Dinda. Romantisnya gemes gitu, semacam di rest area dia nyatain perasaannya, waktu Dinda abis beli makanan di mini market. Yang intinya, Kale mau hubungan mereka punya nama, dan itu bukan temen. Tsahhh… coba kalian yang lagi terjebak friend zone, ngomong gini ke gebetan kalian, biar nggak kelamaan di gantung dalam hubungan yang nggak jelas.


Singkat cerita mereka pacaran, terus manis bangetlah pokoknya. Tapi, hubungannya yang tampak manis banget itu ternyata menyimpan racun yang tersembunyi. Sosok Kale yang bagaikan penyelamat Dinda di awal cerita, perlahan berubah jadi monster yang menakutkan, yang nyatanya nggak beda jauh dari Argo, mantannya Dinda. Awalnya Kale posesif, ngelihat Roy (Roy Sungkono) vokalisnya Arah curhat sama Dinda dia cemburu, padahal saat itu dia belum jadian sama Dinda dan sebenernya wajar banget juga personil band curhat sama manajernya.


Puncaknya konflik mereka itu waktu Kale ketemu Argo di lift hotel tempat Dinda nginep. Kale udah suudzon aja kalau Dinda sama Argo ngelakuin hal yang nggak-nggak berdua di kamar. Padahal tuduhan Kale itu nggak terbukti dan nggak beralasan sama sekali. Dinda bilang Argo nyamperin dia cuma buat ngasih undangan. Ya padahal bisa aja kasih undangan lewat whatsapp yekan? Atau pake pos, atau ya ketemu di lobby hotel.


Kale yang udah kalut malah ngamuk-ngamuk. Segala barang dibanting. Kale mikirnya Dinda masih cinta sama Argo. Kelakuan Kale yang barbar dan brutal ini ngingetin Dinda sama kelakuan Argo dulu yang suka ngamuk-ngamuk. Jadi, saat Kale minta maaf dan meluk Dinda di lantai sambil duduk gitu, muka Dinda udah datar banget. Kelihatan banget kalau di situ Dinda udah mulai mikir untuk udahin hubungan dia sama Kale.


Tapi, namanya orang budak cinta yang beracun dan cinta sama orang cuma buat menuhin egonya sendiri, Kale mana mau lepasin Dinda gitu aja. Karena itu Dinda bilang kalau dia udah selingkuh dan mau nikah sama selingkuhannya itu. Nggak tahu itu dia beneran selingkuh, atau dia cuma ngada-ngada aja biar Kale beneran mau lepasin dia. Ternyata, ya Kale tetep mau Dinda sama dia dong biarpun Dinda selingkuh.

 
Film yang Digarap dengan Sangat Matang

Sumber gambar: instagram.com/storyofkale


Kalau melihat dari skenarionya, film ini nyaris nggak ada kurangnya menurut saya. Strukturnya rapi banget. Peningkatan konfliknya benar-benar dipikirkan dengan matang. Puncaknya ketika Kale kalut di kamar hotel membanting barang-barang, lalu dia di lantai meluk Dinda, saat itu tatapan Dinda udah kosong. Udah nggak kayak sebelumnya yang masih ada rasa cinta. Di situ kelihatan betul rasa Dinda ke Kale kayak mulai menguap karena ngelihat Kale ternyata nggak jauh beda dengan mantan pacarnya Dinda, Argo.


Berkembangnya tokoh Dinda juga tidak ujug-ujug. Dari dia yang menerima disakiti oleh Argo, sampai kemudian bisa lepas dari Argo, lalu akhirnya juga berani memutuskan Kale, sungguh terlihat sangat natural. Begitu juga bagaimana memperlihatkan sifat asli Kale ke penonton yang awalnya hanya posesif biasa kemudian berlanjut menjadi begitu toxic. Film ini memberi gambaran bahwa toxic relationship terkadang bisa sesamar itu terlihatnya. Bisa butuh beberapa waktu berjalan dulu untuk benar-benar ketahuan.


Alur yang silih berganti antara masa lalu dan masa kini sekila mengingatkan pada film Blue Valentine. Sangat smooth dan tidak mengganggu. Masa lalu yang ditampilkan benar-benar membantu penonton untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan mereka. Berkali-kali Dinda berkata kalau alasan dia mau putus cuma mau pergi. Itu benar-benar alasan yang nyata dan sesungguhnya tak terbantahkan lagi. Walaupun menurut Kale alasan ingin putus yang cuma sekadar “mau pergi dan nggak mau di sini lagi” itu terlalu mengada-ngada.


Sesunguhnya itulah alasan yang paling kuat ketika seseorang memang sudah begitu jengah berada dalam sebuah hubungan. Dinda selingkuh dan mau nikah dengan orang lain, mungkin aja hanya alasan yang dibuat-buat agar Kale benar-benar mau melepas dia. Karena rasanya orang seperti Kale nggak akan melepas kalau alasannya menurut dia nggak terlalu kuat.


Udah dibilang Dinda selingkuh aja dia masih mau nerima Dinda. Orang-orang kayak gini memang beneran ada. Udah tahu kalau dia disakitin dan udah tahu pasangannya udah nggak mau sama dia tapi masih aja ditahan-tahanin. Kadang, ya cuma buat egonya aja karena dia nggak mau kehilangan. Bukan karena bener-bener sayang sama pasangannya juga. Dia nggak peduli kalau pasangannya udah nggak bahagia bareng dia.


Penutupnya bikin saya benar-benar bertepuk tangan. Saat Kale nyanyi lagu “Sudah” dan perlahan perabotan hilang satu per satu, bersama hilangnya si Kale. Lalu langit perlahan berubah jadi pagi. Ruangan yang kosong rasanya kayak ngegambarin perasaan Kale. Begitu juga langit yang perlahan cerah. Dua hati yang awalnya bersama, memilih untuk pergi dan menyusuri jalannya sendiri-sendiri. Ruang kosong itu di satu sisi kelihatan kayak sunyi dan hampa, tapi juga terasa lega. Seolah apa yang menghimpit perlahan sirna pelan-pelan. Penutup yang sangat puitis.


Semuanya digarap dengan matang, mulai dari adegan, dialog, struktur, sampai ke soundtrack-nya. Salut buat sutradaranya, Angga Dwimas Sasongko dan penulis skenarionya, Irfan Ramli. Nggak ada yang nanggung dalam film ini. Gambaran kisah orang yang lagi jatuh cinta bener-bener ngegambarin jatuh cinta yang manis banget, tapi pas di akhir, ngegambarin patah hatinya juga yang pedih banget. Manisnya sampai ke puncak, nyerinya juga sampai ke puncak. Berasa banget naik-turun yang drastis dan begitu mengguncang. Sungguh luar biasalah pokoknya.


Bertabur Dialog yang Quotable

Bertabur banyak sekali quotes di film ini yang menarik. Misalnya waktu Dinda bilang kalau seseorang nggak bisa bertanggung jawab untuk kebahagiaan orang lain, karena yang bertanggung jawab sama kebahagiaannya ya cuma dirinya sendiri. Ini saya agak lupa persis kata-katanya kayak gimana, tapi kurang lebih itu yang saya tangkep. Banyak juga dialog yang nampol banget, terutama alasan kenapa Dinda selingkuh. Karena katanya di orang baru itu, Dinda nemuin kebebasan, dia nemuin dirinya sendiri, yang itu semua sayangnya nggak ditemuin waktu Dinda jalin hubungan bareng Kale. Asli, nyelekit banget sih ini.

 

 
Soundtrack Story of Kale

Sumber gambar: instagram.com/storyofkale

Yang juga paling berkesan dari film ini adalah soundtrack-nya. Lagu “I Just Couldn't Save You Tonight” super duper manis nan romantik liriknya, musiknya, bener-bener ngegambarin dua orang yang lagi jatuh cinta berat dan dimabuk asmara.




Lihat aja potongan liriknya di sini

Falling in love is a new world for me

Do you wanna be my company?

From thousand of miles you will like gettin' here

No need no anniversary

 

And maybe you wanna be a star

It may seem you wanna be in love

I don't care it taking me apart

But I just couldn't save you tonight


Walau kisah Kale dan Dinda udah berakhir, lagu ini rasanya punya umur yang lebih panjang, karena biarpun ini sebenernya cuma ngegambarin kisah mereka berdua, tapi lagu ini cocok banget buat siapa aja yang lagi jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan seseorang.


Selain lagu ini, ada lagu lainnya yang jadi penutup kesedihan Kale di akhir cerita, yaitu lagu “Sudah”. Lagu ini berkisah tentang seseorang yang ingin melupakan kenangan dan masa lalunya, berharap bahwa masa depan yang lebih indah akan datang.




Semua penderitaan nantinya akan hilang perlahan terobati. Sebuah lagu yang sesungguhnya sedih, tapi menyiratkan akan harapan, walau masa lalu itu juga tidak akan terulang lagi. Untuk yang sedang patah hati, coba dengerin lagu ini sering-sering biar bisa menimbulkan optimis kalau setelah hujan pasti akan ada pelangi. Dunia bakal terus berputar kayak biasa dan hidup bakal baik-baik aja.


Cara Nonton Story of Kale

Story of Kale full movie bisa kamu tonton secara legal di Bioskop Online, dengan klik link ini: bioskoponline.com/story-of-kale

Cukup bayar Rp10.000 aja udah bisa nonton film ini. Selamat menonton dan selamat jatuh cinta dan sekaligus patah hati!



Selasa, 09 Februari 2021

[CERPEN] Ulang Tahun ke-30

Februari 09, 2021 0


Hari ini ulang tahunku yang ke-30. Dulu, saat masih kuliah dan mulai berpikir tentang masa depan, aku membayangkan bahwa saat usia 30 tahun hidupku sudah mapan dan matang. Nyatanya, beginilah aku sekarang. Terlunta-lunta dan terkatung-katung. Tanpa pendamping hidup dan tanpa pekerjaan yang jelas.


Waktu usiaku masih 20 tahun, aku pernah membayangkan bahwa akan menikah di sekitar usia 25 tahun. Nyatanya? Saat usia tersebut aku justru baru putus dari pacarku setelah menjalin hubungan yang cukup serius selama lima tahun. Lima tahun yang nyatanya sia-sia begitu saja dan kini hanya tinggal menjadi kenangan.


Setelah lulus kuliah, aku membayangkan sudah punya jabatan yang bagus di usia kepala tiga. Nyatanya karir yang kurintis mandek di tengah jalan. Perusahaan tempat aku bekerja bangkrut dan kini aku bekerja serabutan. Apa saja kukerjakan yang penting aku bisa makan. Persetan dengan mereka yang bilang passion harus dikedepankan. Mereka belum merasakan yang namanya uang tinggal recehan dan perut keroncongan.


“Vi, bantuin gue bikin brosur ya.”

“Oke.” 


Temanku Nadia menghubungiku lewat Whatsapp. Dia butuh dibuatkan desain brosur untuk kafe barunya.


Beginilah kerjaanku, sebagai desainer grafis lepas. Aku sering mendesain berbagai kebutuhan bisnis orang lain, mulai dari logo, kartu nama, spanduk, banner, dan lain sebagainya. Kadang pemasukan bisa cukup besar, lebih seringnya pas-pasan. Aku sering iri melihat para klienku. Rata-rata mereka masih berusia cukup muda dan sudah berani buka usaha bahkan tidak hanya satu bisnis saja.


Ada satu klienku yang sudah punya kafe, kemudian buka restoran. Ada juga klienku yang lain yang mendirikan online shop menjual berbagai sepatu, baju dan tas kemudian membuat bisnis bimbingan belajar dengan bayaran yang fantastis.


Yang aku kerjakan mungkin juga bisa dikatakan bisnis walaupun kecil-kecilan. Untung yang kudapat masih di skala pedagang, belum di taraf pengusaha. Tapi aku syukuri saja. Sambil terus melamar kerja di mana-mana. Karena aku tetap butuh penghasilan rutin bulanan.


Bekerja serabutan mungkin menyenangkan. Aku bisa bepergian di saat orang terjebak di kantor. Aku bisa tidur siang saat orang menahan kantuk di meja kerjanya. Aku bisa nonton televisi saat orang-orang mengutuk di tengah kemacetan.


Hanya saja aku butuh kestabilan. Aku merindukan yang namanya bersenda gurau dengan rekan kerja. Aku merindukan aktivitas berulang setiap harinya. Supaya aku merasa lebih punya tujuan.

*

 

Aku memandangi wajahku di cermin. Kerutan-kerutan halus mulai timbul di sana. Terutama di bagian sekitar mata. Flek hitam mulai muncul di mana-mana. Kulitku juga jadi semakin kering dari sebelumnya. Dadaku mulai kendur tak lagi seperti gadis belia.


Tampaknya aku mulai khawatir menghadapi penuaan. Walau menjadi tua itu sebuah proses alami, aku tetap saja takut. Apa jadinya kalau tiba-tiba fisik kita jadi tak sebugar dulu? Apa jadinya kalau otak kita mengalami kemunduran?


Tiba-tiba panggilan masuk dari ibuku di ponsel membuyarkan lamunanku tentang masa senja yang entah akan kuhabiskan seperti apa.


“Ya, Bu, ada apa. Tumben telepon?”

“Via, Selamat ulang tahun, ya. Semoga kamu panjang umur. Sehat selalu. Cepet dapet jodoh dan kerjaan yang bagus,” ujar ibu di seberang sana.

“Amin. Makasih, Bu. Ibu sehat-sehat aja di sana?”

“Ibu agak nggak enak badan sebenernya. Kamu pulang, ya? Ibu udah bikinin kue ulang tahun buat kamu.”


Aku diam sejenak. Aku ngekost di selatan Jakarta. Karena kadang aku harus bertemu klien atau meeting dengan banyak pihak. Itulah mengapa aku memilih tidak tinggal di rumah ibuku di Bekasi. Selain Bekasi itu lumayan jauh dari Jakarta, aku juga malas dipandang oleh tetangga-tetangga ibu sebagai pengangguran, hanya karena aku tidak berangkat pagi-pagi ke kantor seperti karyawan pada umumnya. Karena itu, kadang aku hanya pulang sebulan dua kali atau sebulan sekali ke rumah ibu. Tapi, berhubung ibu sudah bikin kue ulang tahun untukku, sepertinya aku akan pulang hari ini.


“Iya, hari ini aku pulang, Bu. Tapi, mungkin agak sorean, ya. Ibu nggak enak badan kenapa? Sakit?”

“Agak pusing-pusing keliyengan. Mungkin kolesterol ibu lagi kambuh.”

“Yaudah, ibu tunggu sebentar, ya. Nanti Via pulang, ini ada kerjaan yang harus diselesaikan sekarang juga.”


Aku pun segera mengakhiri panggilan dan langsung membuka laptop. Ada pesanan desain proposal dari klien yang harus segera kukerjakan revisinya.

*

 

Butuh waktu beberapa jam dari Setiabudi menuju Bekasi. Aku melihat ibuku terbaring lemas di ranjangnya. Ibu tinggal berdua dengan adikku di rumah. Adikku masih SMA. Kulihat dia sedang menyuapi ibu semangkuk bubur.


Ibu tampak senang melihat kedatanganku. Wajahnya terlihat pucat dan sudah tampak semakin menua. Maklum, usianya sudah 60 tahun. Sehari-hari ia jualan kue di pasar. Tapi, sering nggak jualan karena ibu udah sakit-sakitan.


Uang hasil jualan juga tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Untungnya, saudara ibu yaitu paman dan bibiku kadang masih membantu masalah keuangan keluarga kami dan membiayai sekolah adikku.


“Kamu udah kerja, lagi?” tanya ibu.

Yang ibu maksud dari kerja lagi ini adalah kerja kantoran. Menurut dia yang aku kerjakan sekarang ini ya bukan sejenis pekerjaan.

“Doain aja, Bu. Via udah ngelamar ke mana-mana. Semoga ada yang nyangkut.”

Sebenarnya selama ini bukan tak ada perusahaan yang memanggilku. Hanya saja, besaran gajinya tidak ada yang kuanggap sesuai.

“Ibu selalu doain, Nak. Tapi kalau kamunya aja nggak salat ya, gimana Allah mau kabulin.”


Salat, katanya. Dulu, waktu ayah masih ada, aku termasuk anak yang rajin beribadah. Tidak hanya salat, aku juga rajin mengaji. Semakin dewasa konsep beragama menjadi sedikit berbeda di mataku.


Sewaktu kecil, aku sudah diberikan buku doa-doa. Di dalamnya ada doa masuk ke kamar mandi, ketika bercermin, ketika keluar rumah, dan segala macam aktivitas sederhana lainnya. Aku pun mencoba menghapal itu semua, tapi tetap saja tidak bisa hapal.

“Ibu pengin lihat kamu salat.”

Permintaan yang cukup aneh tiba-tiba keluar dari mulut ibuku. Ibadah itu kan urusan makhluk dengan ciptaan-Nya. Sebenarnya tidak penting apakah dilihat makhluk lain atau tidak.

“Ibu udah lama nggak lihat kamu salat.”

Baiklah. Ibu sedang sakit. Orang sakit lebih baik dituruti. Akhirnya aku mengambil air wudhu. Kemudian menggelar sajadah di samping tempat tidurnya. Kuakhiri salatku dengan doa semoga ibu kembali sehat.


Aku melihat ke arahnya yang masih terbaring. Matanya terpejam tanda tertidur. Kuperhatikan raut wajah ibu yang kulitnya sudah mulai menyusut di banyak tempat. Rambut putihnya sudah bertumbuh semakin banyak. Dulu, ubannya masih bisa dihitung jari. Sekarang tampaknya justru rambut hitamnya yang semakin sedikit.

*

 

“Kamu udah punya pacar lagi, belum Vi?”

“Belum, Bu.”

“Masih belum bisa lupain Bisma?”


Bisma itu pacarku yang terakhir. Yang menjalin hubungan denganku selama lima tahun kemudian berpaling begitu saja dengan mudahnya ke perempuan lain hanya karena dia bilang perasaannya padaku sudah tak sekuat dulu.


Memang setelah putus dari Bisma aku tidak jomlo nelangsa begitu saja. Beberapa kali aku mencoba menjalin hubungan tapi hanya sebentar-sebentar dan kandas begitu saja di tengah jalan. 


Entah kenapa pengkhianatan yang dilakukan Bisma dan kata-katanya yang menyiratkan seolah cinta bisa kedaluwarsa membuatku berpikir ulang berkali-kali jika ingin membangun hubungan yang serius kembali dengan orang lain.


“Jodoh itu di tangan Tuhan, Bu. Kalau belum waktunya ketemu, ya nggak ketemu.”

“Paling nggak, kalau nggak kerja ya kamu nikah. Kalau nggak nikah ya kamu kerja. Bisa dua-duanya lebih bagus. Kalau udah nggak kerja, nggak nikah juga, Ibu sedih, Nak.”


Aku ke luar dari kamar ibu dan terduduk sendiri di meja makan. Memandangi kue black forest yang sudah disediakan oleh ibu. Menatap angka 30 yang tertancap di atasnya. Aku nyalakan korek api di atas lilin berbentuk angka itu, lalu meniupnya begitu saja. Tanpa membuat permintaan apa-apa terlebih dulu.


Entah rasa apa yang menjalari dada. Ketika melihat api itu padam begitu saja. Sulit sekali aku definisikan. Sepertinya, setelah aku kembali ke kostan, aku tidak akan pulang ke rumah ibu dulu untuk waktu yang lama.

*

*Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel