Kamis, 30 Desember 2021

Alvin Theodorus, Berjuang Memberikan Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang Komprehensif kepada Anak Muda Melalui Tabu.id

Desember 30, 2021 0


Foto: https://www.instagram.com/tabu.id/


Pergerakan yang dilandasi ketulusan akan bertumbuh besar. Perjalanan yang diawali keinginan memberi manfaat untuk banyak orang, akan punya umur yang panjang. Keyakinan untuk melangkah tanpa keraguan akan membawa pada kemajuan. Itulah tiga hal yang saya pelajari dari seorang Alvin Theodorus, salah satu pendiri dari Tabu.id, sebuah platform atau media edukasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi untuk anak muda.


Saya berkesempatan berbincang-bincang cukup panjang dengan Alvin melalui virtual meeting mengenai perjuangannya mendirikan dan membesarkan Tabu.id pada Kamis, 30 Desember 2021.

 

Meski Kalah dalam Perlombaan, Tapi Tetap Semangat Mewujudkan

Tabu.id didirikan oleh empat orang mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yaitu Alvin Theodorus, Neira Ardaneshwari Budiono, Adelina Kumala, dan Patricia Agatha pada tahun 2018. Keempatnya berinisiatif membentuk Tabu.id untuk diikutsertakan pada sebuah lomba project inovasi kesehatan untuk masyarakat Indonesia yang diadakan di Solo.


Hanya saja Tabu.id tidak berhasil memenangkan kompetisi tersebut, namun mendapatkan feedback yang cukup positif dari para juri. Karena itu, keempatnya yakin untuk merealisasikan project tersebut menjadi kenyataan.


“Pendidikan seksual yang komprehensif masih sangat minim di Indonesia, padahal dampaknya cukup besar. Dari beberapa penelitian yang dilakukan di luar negeri, anak muda yang tidak mendapatkan pendidikan seksual yang komprehensif, tingkat kehamilan yang tidak diinginkan lebih tinggi, selain itu juga lebih rentan mengalami atau melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Karena itu, kami merasa sangat penting untuk membangun Tabu dengan serius,” ujar Alvin.


Melalui artikel ilmiah yang ditulis oleh Annisa Rizkianti dari Centre for Research and Development of Public Health Efforts, National Institute of Health Research and Development (NIHRD), Indonesia bersama rekan-rekan lainnya melakukan sebuah survei mengenai hubungan seksual pada remaja usia sekolah. Studi ini dipublikasikan di Journal of Preventive Medicine & Public Health pada tahun 2020.


Survei tersebut melibatkan 11.110 siswa dari 75 sekolah di Indonesia. Data yang ditemukan adalah 5,3% siswa pernah berhubungan seks. Dan dari jumlah tersebut, sebanyak 72,7% anak laki-laki dan 90,3% anak perempuan melakukan hubungan seks pertama kali sebelum usia 15 tahun. Temuan ini menurut para peneliti menjadi desakan kebutuhan untuk mengembangkan pendidikan kesehatan seksual yang lebih komprehensif serta efektif.


Para peneliti pun berkesimpulan bahwa dalam upaya menunda hubungan seksual dan mencegah infeksi menular seksual, remaja harus diberikan pendidikan kesehatan seksual selama masa pubertas. Hal ini penting agar remaja mendapat informasi yang baik tentang hubungan yang sehat dan bertanggung jawab.

 

Terbatasnya Sumber Daya, Tak Jadi Penghalang untuk Memberi Impact yang Besar

Foto: https://www.instagram.com/tabu.id


Ada banyak keterbatasan yang dialami Alvin dan para pendiri Tabu.id, mulai dari terbatasnya sumber daya manusia, finansial, dan waktu. Meski begitu, mereka tetap bertekad untuk bisa memberi impact yang besar. Karena itulah, platform media sosial Instagram dipakai Tabu.id sebagai media edukasi. “Instagram cukup populer di kalangan anak muda, sehingga bisa menjangkau lebih banyak orang meski dengan keterbatasan yang kami miliki,” jelas Alvin.


Sekitar satu tahun, Tabu.id fokus di Instagram saja, namun tetap konsisten untuk mengelolanya. Kini (per tanggal 30 Desember 2021) akun Instagram Tabu.id sudah memiliki lebih dari 118 ribu followers. Kini Tabu.id juga merambah ke platform lainnya yaitu dalam bentuk podcast di Spotify, serta media sosial lainnya seperti Tiktok dan Twitter.


Meski dikelola oleh para relawan, konten yang dibuat Tabu.id tidak main-main. Tim Tabu.id melakukan riset dalam membuat perencanaan konten, dan menyusunnya ke dalam tema serta topik yang dilengkapi dengan sumber-sumber yang valid dan relevan seperti dari jurnal ilmiah, textbook atau artikel yang dibuat oleh kalangan profesional.


Berawal dari Media Sosial dan Komunitas, Kini Menjadi Yayasan

Foto: https://www.linkedin.com/company/tabu-id/


Alvin melalui Tabu.id merupakan salah satu Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards 2021 Tingkat Provinsi dari DKI Jakarta di bidang Kesehatan. Ajang tersebut merupakan apresiasi yang diberikan oleh Astra kepada anak bangsa yang memberi manfaat bagi masyarakat.


Tim yang berada di naungan Tabu.id kini sudah berjumlah 90 orang, yang terdiri dari para relawan yang punya ketertarikan yang sama dan punya tujuan yang sama.


Tabu.id juga sudah berbentuk sebagai yayasan dan memiliki legalitas sebagai Yayasan Tabu Indonesia Berdaya yang berdiri di awal tahun 2021. Hal ini diperlukan untuk lebih memantapkan langkah Tabu dalam menjaga keberlangsungan dalam menjalankan program-program yang diusungnya.  


Tabu.id memiliki 3 program utama antara lain:

1. Bergerak di bidang pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi di berbagai media sosial.

2. Riset orisinal tentang topik kesehatan seksual dan reproduksi untuk diajukan ke konferensi atau jurnal ilmiah.

3. Pengembangan komunitas dengan melakukan kolaborasi dan kerja sama. Baik itu bersama komunitas atau organisasi lain, serta kerja sama dengan sekolah juga universitas untuk memberikan edukasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi.

 


Tantangan Membangun Tabu.id

Foto: https://www.tiktok.com/@tabu.id


Mengelola tim yang terdiri dari 100% relawan yang punya kesibukan utama masing-masing, tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mengelola Tabu.id dan menjalankan konsistensi program yang dicanangkan. Tentu dibutuhkan koordinasi yang sangat baik, agar setiap tim tetap berada dalam koridornya dan menjalankan perannya dengan maksimal. Selain itu, ada dua hal lainnya yang menjadi tantangan tersendiri bagi tim Tabu dalam memberikan pemahaman edukasi seksual.


1. Mengolah Bahasa Ilmiah Menjadi Format Informasi yang Menarik untuk Dibaca

Bicara soal seksualitas dan reproduksi dalam jurnal ilmiah tentu penuh istilah ilmiah yang membuat anak muda berjarak untuk membaca apalagi memahaminya. Tabu.id mengolah hal-hal tersebut dalam bentuk meme, video, yang relate dan relevan sehingga informasinya bisa lebih mudah sampai dan diterima. Ini adalah salah satu tantangan yang dihadapi Tabu.id.


2. Mendapat Pertentangan dan Kecaman Ketika Membahas Topik Sensitif

Berkecimpung di pendidikan seksual tentu mau tidak mau akan menyentuh ranah yang cukup sensitif. Tabu.id juga pernah mengalami respon yang cukup keras dan negatif dari netizen ketika kontennya mencoba mengangkat topik yang sifatnya sensitif, seperti misalnya persoalan persetujuan seksual, LGBTIQ (gay, bisexual, transgender, intersex, queer), HIV Aids, aborsi dan aktivitas seksual di luar pernikahan.


Untuk menghindari persepsi atau sentimen negatif, Tabu menyiasatinya dengan memberikan pesan yang memiliki nilai yang dapat dipegang secara universal, terlepas dari keyakinan politik, agama, atau budaya  tertentu, tapi melalui pendekatan yang netral.


Untuk itu Tabu.id membuat community guideline juga agar tercipta suasana yang kondusif dalam berdiskusi, sehingga terwujudnya ruang belajar yang nyaman untuk semua orang.

 

Membedah Masalah Krusial dalam Persoalan Pemahaman Seksualitas di Tengah Masyarakat

Dengan follower yang semakin banyak, jangkauan audiens yang juga semakin besar, Tabu.id pun mendapatkan insight berkaitan tentang masalah krusial seputar kesehatan seksual dan reproduksi di Indonesia, yaitu:


1. Kurangnya pemahaman mengenai tubuh diri sendiri, kurang mengenal dengan baik organ reproduksi yang dimiliki.


2. Kurangnya pemahaman tentang persetujuan. Persetujuan tentu penting dalam relasi apa pun, bukan hanya relasi seksual dan romantik, tapi juga dalam pertemanan dan keluarga. Ketika melakukan sesuatu yang melibatkan orang lain, perlu adanya persetujuan atau izin karena itu berkaitan erat dengan kekerasan fisik, psikis, dan seksual.

 


Apa Saja yang Kurang dari Pendidikan Seksual di Sekolah dan Keluarga?

Bicara soal pendidikan seksual, tentu tidak akan lepas dari pendidikan di institusi sekolah dan dalam keluarga. Alvin pun menyoroti apa saja yang kurang dari pendidikan seksual di Indonesia.


1. Kurangnya iklim komunikasi yang positif dalam keluarga untuk pembahasan aspek seksualitas. “Orangtua dan anak tidak tidak cukup terbuka, karena anak sudah cemas atau takut berhadapan dengan justifikasi atau penghakiman dari orangtuanya. Sementara orangtua juga banyak yang kesulitan tidak tahu bagaimana cara memulai bicara yang nyaman dengan anaknya terkait seksualitas,” papar Alvin.


2. Kurangnya sumber informasi yang terpercaya. Informasi terlalu banyak berseliweran, tapi tidak diimbangi dengan literasi digital yang baik, sehingga sulit memilah informasi mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak.


3. Kurangnya pengintegrasian topik kesehatan seksual dan reproduksi di sekolah. Pendidikan seksual tidak hanya seputar biologis saja yang perlu dibahas, tapi juga aspek sosial dan psikologisnya. “Seharusnya pendidikan seksual masuk ke dalam kurikulum dan wajib diajarkan oleh guru di sekolah,” lanjut Alvin

 
Dampak Minimnya Pendidikan Seksual pada Anak-anak dan Remaja

Foto: https://www.instagram.com/tabu.id

Tim Tabu.id pernah melakukan riset independen mengenai anak sekolah SMP di Jabodetabek dan ditemukan hasil bahwa sebagian besar mereka percaya jika vagina yang dicuci setelah berhubungan seksual bisa mencegah kehamilan, dan sperma akan mati jika perempuan mandi air panas setelah berhubungan seksual. “Ini dampak buruknya jika usia pubertas seperti remaja tidak memiliki pemahaman edukasi seksual yang baik. Mereka percaya konsepsi yang salah, ketika muncul gairah seksual, mereka melampiaskannya tanpa tahu risikonya,” ujar Alvin.


Selain itu, mereka juga akan bingung tentang apa yang terjadi dalam tubuh mereka ketika pubertas. "Contohnya, jika anak perempuan tidak diberikan informasi yang benar tentang menstruasi, dia bisa trauma ketika melihat dari vaginanya keluar darah dan mengira bahwa dia sakit atau terluka. Sementara untuk anak laki-laki, ketika mereka mimpi basah, jika yang ada di benak mereka bahwa itu adalah hal mesum dan tidak baik, maka mereka akan mengecap negatif terhadap aspek seksual diri mereka sendiri yang padahal adalah proses yang alami,” lanjut Alvin.

 


Rencana ke Depan dari Tabu.id


Foto: linkedin.com/company/tabu-id


Kini, Tabu.id memiliki 90 orang tim yang terbagi dalam 5 departemen, yaitu Departemen Program, Departemen Komunikasi, Depertamen Pengadaan Sumber Daya, Departemen Riset dan Pengembangan, Departemen Sumber Daya Manusia.


Dengan timnya tersebut, Tabu.id memiliki rencana ke depannya untuk membuat website, memperbanyak kunjungan ke sekolah dan universitas, membuka chapter Tabu di berbagai daerah terutama yang belum dapat mengakses media sosial dengan baik, juga membangun Pejuang Muda Tabu yang nantinya akan menjadi brand ambassador Tabu. Pejuang Muda Tabu ini akan diberikan serangkaian pelatihan dari para ahli di bidang kesehatan seksual dan reproduksi, aktivasi media sosial, dan social impact.

 

Melihat keseriusan pergerakan Alvin dan tim Tabu.id, dengan segala keterbatasan, tujuan mulia masih bisa menjadi penggerak meski dari segi pemasukan finansial belum terlihat. Terkadang memang Tabu.id juga menerima project dari pihak eksternal yang butuh dibuatkan konten. Ke depannya, selain mengikuti berbagai ajang lomba juga, Tabu.id akan fokus pada fundraising ke donatur yang memang punya concern di topik kesehatan seksual dan repsoduksi dan visi yang sejalan dengan tabu.id.


Jalan yang tidak mudah, sering kali menjadi jalan yang panjang. Karena itu, meski banyak tantangan, Alvin dan tim Tabu.id tidak lantas pantang menyerah. Alvin, yang memilih kuliah di jurusan Psikologi karena ketertarikannya kepada pikiran dan tingkah laku manusia, mengalihkan cita-citanya menjadi psikolog dengan jalan yang ia pilih sekarang, karena agar bisa menolong lebih banyak orang.


“Saya cukup beruntung memiliki akses informasi yang cukup dan keluarga yang memahami pentingnya pendidikan seksual. Karena itu saya ingin bagikan kesempatan yang sama ke lebih banyak orang. Saya percaya, orang yang diberikan informasi mumpuni yang baik, mereka juga akan bisa mengambil keputusan yang baik untuk diri mereka. Saya berharap para anak muda di Indonesia bisa lebih terbuka lagi bicara soal kesehatan seksual dan reproduksi. Tidak perlu malu, cari tahu dan banyaklah bertanya. Karena aspek seskualitas itu aspek integral kita sebagai manusia. Kalau kita mau jadi manusia seutuhnya, kita juga harus mau menerima dan memahami aspek seksual dari diri kita,” tutup Alvin.

 

 

 

 

Selasa, 31 Agustus 2021

Balada Sepasang Kekasih Gila: Ketika Tuhan Menjadi Solusi di Tengah Dehumanisasi

Agustus 31, 2021 1

Ketika kewarasan dan kegilaan melebur, kemanusiaan terkubur, ketuhanan justru menderas muncul. Itu yang tampak jelas dalam film berjudul Balada Sepasang Kekasih Gila yang diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Han Gagas.


Film ini disutradarai oleh Anggy Umbara dan dibintangi oleh Denny Sumargo sebagai Jarot dan Sara Fajira sebagai Lastri. Jarot dan Lastri diceritakan sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sudah tidak memiliki keluarga, tidak diterima masyarakat, kemudian saling jatuh cinta dan menikah, tapi sayangnya kisah romansa mereka harus berakhir tragis.


 

Ketimpangan Relasi Kuasa yang Membuat ODGJ Selalu Kalah

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat karakter ODGJ apalagi dijadikan sebagai peran utama. Mari kita lihat dari beberapa film yang rilis tidak jauh dari film Balada Sepasang Kekasih Gila yaitu Tak Ada yang Gila di Kota Ini (2019) dan film Selesai (2021).


Film Tak Ada yang Gila di Kota Ini merupakan karya sutradara Wregas Bhanuteja yang diadaptasi dari cerpen Eka Kurniawan. ODGJ dalam film ini terlihat disingkirkan sekaligus diperalat dengan menjadi objek pertunjukan yang memungut bayaran lumayan mahal dari para penontonnya yang mayoritas adalah turis asing.


Sementara di film Selesai, yang disutradari oleh Tompi, isu gangguan jiwa memang tidak menjadi isu utama dalam filmnya, hanya saja tokoh utama diperlihatkan berada di rumah sakit jiwa karena tekanan batin akibat ulah suami yang selalu selingkuh. ODGJ selalu menjadi orang yang kalah, berada di level yang lebih rendah dari orang-orang “normal”.


Untuk melengkapi pengalaman menonton Balada Sepasang Kekasih Gila, saya rasa penonton perlu menonton film dokumenter berjudul Memory of My Face (2019) produksi Elemental Productions.


Dalam film itu, sosok Bambang seorang ODGJ pengidap schizoaffective disorder bercerita tentang pengalamannya bagaimana dia awalnya sakit mental, yaitu ketika putus cinta dari cinta pertamanya, dan bagaimana dia juga memiliki keinginan untuk sembuh serta ingin mencari uang untuk membelikan buku untuk anaknya agar anaknya gemar membaca karena menurut Bambang hal itu penting untuk masa depan anaknya.


Film dokumenter ini menceritakan adanya sebuah upaya, kesadaran dari ODGJ untuk memiliki kehidupan yang normal yang sayangnya itu tidak ditemukan di film Balada Sepasang Kekasih Gila. Memang keduanya memiliki muatan isu yang agak berbeda.


Tapi, bukankah berakar dari kepedulian yang sama? Bahwa ODGJ punya derajat yang sama, bahwa kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan untuk bisa menerima ODGJ di lingkungannya, dan bahwa ODGJ perlu diperlakukan dengan manusiawi seperti layaknya manusia lainnya.  


Selalu ada kenyataan yang sengaja "dihidupkan" dalam sebuah film, demi realitas yang dibutuhkan untuk dibangun, bahkan dalam film dokumenter sekalipun. Sayangnya, kenyataan dalam film Balada Sepasang Kekasih Gila tidak berupaya untuk memberi harapan bahwa ODGJ punya harapan atau punya kesempatan untuk bisa memperbaiki hidupnya. Agar ODGJ tidak melulu ditampilkan sebagai orang yang hanya bisa kalah.


Padahal, sepertinya bisa cukup menarik jika ada sedikit cerita bagaimana Jarot dan Lastri mencoba untuk tidak melulu kalah. Apalagi Jarot yang sudah dinyatakan sembuh dengan jelas. Mungkin akan semakin menarik jika diperlihatkan adanya upaya mereka untuk bisa diterima di masyarakat atau pun upaya dari pihak masyarakat yang mencoba menerima mereka.

 

Sejak awal, sampai film berakhir, diskursus antar keduanya tidak pernah ada, karena yang tampil hanya selalu benturan dan pertentangan antara Jarot dan Lastri yang ODGJ dengan masyarakat yang “normal”. Bukankah akan lebih baik dan juga menarik jika diperlihatkan adanya tujuan kuat dari karakter serta perkembangan karakter, begitu pun perkembangan dunia di sekitarnya yang terus menerus melawan dan menolak mereka. Akan tetapi, itu tidak tampak dalam film ini.

 

Hanya ada satu adegan di mana segelintir orang mau mengakui mereka, yaitu ketika mereka hendak menikah di hadapan penghulu. Mereka dinikahkan sebagaimana mestinya. Mungkin, apakah memang hanya orang beragama yang punya nurani untuk berbuat kebaikan terhadap mereka? Rasanya, film ini masih menyimpan kenaifan semacam itu.

 

Padahal, sejak awal, diperlihatkan bagaimana Jarot kelaparan di jalan, tapi tidak ada yang mau memberikannya makan dan sampai akhir tidak jelas bagaimana Jarot keluar dari masalah kelaparannya itu. Seolah ketika dia menikah dengan Lastri, dia tidak lagi pusing soal rasa lapar lagi.

 

Tapi ya balik lagi misinya mungkin memang ingin memperlihatkan bahwa mereka yang sudah terpinggir akan terus terusir. Bahkan ketika mereka tinggal di kuburan di mana itu adalah tempatnya orang mati, masih saja mereka harus tergusur.

 

Jadi, tidak perlu heran jika kedua orang yang jelas-jelas kalah di awal cerita terlihat hanya akan terus menerus kalah sampai akhir cerita. Satu-satunya yang berhasil mereka menangkan adalah mereka berhasil bertemu lagi setelah sempat terpisah, mereka bisa bersama bahkan menikah. Mungkin kemenangan lainnya adalah kedua pasangan ini bahagia di alam yang lain karena tampak gambar Jarot dan Lastri yang bergandengan tangan dengan bahagia, di penutup film.

 

Kebahagiaan yang didapat di alam lain ini diperkuat dengan suara narator (yang sejak awal dikisahkan sebagai anaknya yang ternyata adalah anak yang tidak sempat terlahirkan ke dunia) ketika adegan Jarot dan Lastri yang (sepertinya) meninggal di kuburan yang menjadi tempat tinggal mereka itu, mengatakan, “kami pun sadar bahwa hal ini adalah yang terbaik untuk kita semua demi mendapatkan kebahagian sejati, nanti.” Bagian ini juga semakin menekankan aspek spiritualitas dan ketuhanan yang memang ditampilkan dari kedua karakter dalam film ini.

 


Kentalnya Spiritualitas dan Konsep Ketuhanan di Tengah Kebanalan

Sulit sekali rasanya membayangkan Jarot dan Lastri adalah dua manusia tak berakar yang lepas dari segala bentuk ikatan masa lalu dan latar belakangnya. Karena berbagai atribut identitas masih begitu melekat dari berbagai potongan dialog dan gestur karakter yang menurut saya amat disayangkan tidak ada penjelasan tentang bagasi seperti apa yang mereka bawa. Mungkin tidak penting bagi pembuat film karena pastinya akan sangat memperpanjang durasi.

 

Lastri mengaku dirinya beragama Kristen dan menyimpan Alkitab, sementara Jarot ketika ingin menolong Lastri dari orang-orang yang memaksanya kembali ke tempat pelacuran mengatakan, “Menyelamatkan satu manusia itu sama halnya dengan menyelamatkan seribu umat manusia, itu kata bapakku”. Kalimat ini merupakan bagian dari tafsir Al Quran Surat Al-Ma’idah Ayat 32. Jarot juga memilih menikahi Lastri karena dia takut berdosa kalau zina.

 

Konsep ketuhanan semakin kental terasa ketika suara narator yang sejak awal sampai akhir terdengar seperti ceramah. Narator mengucapkan kata-kata yang kurang lebih berbunyi “ketika kita mengenal diri kita berarti kita mengenal Tuhan kita”, ketika Jarot kelaparan menyusuri gang-gang sempit dan diusir pemilik warung yang bahkan lebih memilih memberi makan kucing dibanding dirinya. Jarot terus berjalan sampai dia di hutan berdialog dengan “Pelayan Tuhan” dan di sawah  merasa bisa melihat Tuhan.

 

Berbagai unsur ini semakin memperlihatkan bahwa di tengah dehumanisasi yang menimpa Jarot dan Lastri, ketuhanan masih menjadi sandaran yang diandalkan. Entah mengapa solusi dari kemanusiaan yang biadab masih dimuarakan pada persoalan ketuhanan. Seolah dengan bersandar pada pengalaman ketuhanan maka permasalahan dehumanisasi yang dialami ODGJ dapat selesai.

 


Masih Menyimpan Stigma

Sekalipun nilai kemanusiaan disorot begitu tajam, sayangnya, film ini masih menyimpan stigma negatif ODGJ. Padahal, film sebagai produk budaya menjadi tidak hanya menjadi perekam jejak peradaban sebuah bangsa baik secara gamblang maupun metaforik yang tidak selalu melulu ditarik ke realitas karena film bisa mencipta realitasnya sendiri yang bisa menggoyahkan kemapanan pemikiran sehingga ada tatanan baru yang bisa terbentuk.


Film ini belum menjadi film yang memiliki muatan perlawanan besar terhadap stigma. Sejak awal penonton akan mendengar Jarot yang teriak-teriak di rumah sakit jiwa karena dikurung dalam ruang isolasi yang sempit atau Lastri yang ngamuk ketika diganggu oleh anak-anak kecil. Memang aksi mereka ini merupakan sebuah reaksi dari pengalaman tidak menyenangkan yang mereka alami, tapi hal ini yang membuat Lastri diusir dari lingkungannya karena dianggap meresahkan warga sekitar.


Kemudian Lastri juga diperlihatkan membunuh para pemerkosanya. Sebuah tindakan yang memang sangat beralasan kuat, namun tetap saja menempatkan sosok ODGJ sebagai sosok pembunuh. Apalagi ketika membunuh, Lastri juga diperlihatkan sambil tertawa-tawa seolah begitu menikmatinya. Jarot pun diceritakan juga pernah membunuh orang yang jahat padanya, walau tidak dijelaskan terlalu rinci perbuatan jahat apa yang dilakukan orang tersebut sampai dia membunuhnya.


Stigma bahwa ODGJ menjadi rentan berbuat jahat atau tindakan kriminal masih melekat. Sepertinya permasalahan ini bukan hanya menjadi tantangan di film Indonesia, tapi juga di luar negeri. Dr. Stacy L. Smith, seorang Founder dan Director di Media, Diversity, and Social Change Initiative di Annenberg School for Communication & Journalism, University of Southern California, pernah mengungkap mengenai kecenderungan stigma ODGJ dalam film melalui penelitiannya yang berjudul Mental Health Conditions in FIlm & TV: Potrayals that Dehumanize and Trivialize Characters pada bulan Mei 2019 yang dapat dilihat di Annenberg.usc.edu


Dalam penelitian tersebut, Smith mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan mental sangat jarang ditampilkan di film dan acara tv popular. Dari 4.598 karakter dalam 100 film terlaris yang tayang di tahun 2016, hanya sekitar 1,7% atau 76 karakter yang menggambarkan kondisi kesehatan mental. Bahkan ketika ditampilkan pun masih membawa stigma negatif.


Dalam tulisannya tersebut Smith lebih jauh mengungkap bahwa sekitar 47% karakter ODGJ di film selalu diremehkan dan dihina atau menjadi bahan ejekan berbalut humor. Sebagian besarnya  juga ditampilkan sebagai pelaku kekerasan. Sekitar 46% karakter ODGJ di film tampil agresi dan "berbahaya" bagi masyarakat yang diperkuat dalam penggambaran di film.


Melalui penelitiannya tersebut, Smith berharap bahwa pembuat konten dalam hal ini film dan televisi dapat berkolaborasi dengan para ahli untuk menggambarkan kondisi kesehatan mental dan pengalaman terkait dengan menghadirkan cerita yang tidak memberikan stigma dengan cara menjadikan cerita dan karakter bernuansa kompleks yang menggambarkan tantangan, kemenangan, kekuatan mereka dalam memperjuangkan kesehatan mental serta penyembuhan juga pencarian dukungan. Sehingga cerita dapat memperluas kesadaran kolektif penonton dan masyarakat.


Jika bercermin di Indonesia, jumlah film yang menampilkan ODGJ tentu lebih sedikit lagi, ditambah belum ada yang cukup siginifikan mengangkat jenis-jenis kondisi mental tertentu. Sehingga ODGJ yang digambarkan masih saja sama dan seragam, yaitu berantakan, kotor, sering meracau, mengacau dan semacamnya. Padahal kondisi mental atau gangguan jiwa ada banyak jenisnya. ODGJ dalam film masih rentan mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari sekitarnya.


Semoga dengan memperlihatkan betapa hinanya perlakukan manusia "normal" pada ODGJ di film ini mampu menyadarkan penonton untuk memperlakukan ODGJ dengan lebih baik dalam dunia nyata. Karena tampaknya mengangkat cerita tentang perlakuan manusiawi kepada ODGJ dalam sinema Indonesia masih butuh upaya dan perjalanan yang cukup panjang.

 

Rabu, 02 Juni 2021

Vagina Gatal Saat Menstruasi? Ini Cara Cegah Iritasi Miss V

Juni 02, 2021 3


vagina gatal saat menstruasi

Pernah nggak kamu pakai pembalut lebih dari 4 jam ketika sedang menstruasi? Ternyata itu sangat nggak sehat, lho! Karena jika pembalut tidak diganti secara rutin, maka akan membuat lembap di area kewanitaan dan bisa bikin vagina gatal bahkan iritasi dan infeksi.

 

Hal itu merupakan salah satu yang diungkap dalam webinar bertajuk “Sehat dan Bersih Saat Menstruasi” (27/5/2021) yang diselenggerakan atas kerja sama Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) pada, Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia dan Mundipharma Indonesia.

 


Webinar ini diadakan dalam rangka Hari Kebersihan Menstruasi yang jatuh pada tanggal 28 Mei dengan tujuan meningkatkan pemahaman perempuan mengenai pentingnya Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) juga diluncurkannya kampanye edukatif #YangIdeal dari Mundipharma Indonesia yang mengajak perempuan Indonesia untuk lebih menjaga kebersihan dan kesehatan area kewanitaan dalam keseharian maupun ketika sedang haid.

 

Dalam webinar ini, Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), MPH dari Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) membicarakan tentang masalah kesehatan yang dapat timbul akibat kurangnya menjaga kebersihan saat menstruasi serta cara yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.

 

Sementara itu, dr. Dwi Oktavia, TLH, M.Epid selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memaparkan mengenai apa saja kegiatan pemerintah dalam mendukung manajemen kebersihan menstruasi.

 


Kegiatan itu antara lain diselenggarakannya program yang mendukung kesehatan reproduksi remaja mulai dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Posyandu Remaja, penyuluhan kesehatan reproduksi dan penyakit infeksi menular seksual ke sekolah-sekolah, serta vaksinasi HPV yang menyasar anak kelas 5 dan 6 SD untuk mengurangi risiko kanker serviks.

 

Acara dilanjutkan dengan pemaparan Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, yang membahas tentang peran ibu untuk mengedukasi anak perempuan mengenai kesehatan dan kebersihan saat menstruasi.

 

Menstruasi

Foto: Pexels.com/Cliff Booth


Menstruasi adalah proses biologis yang normal terjadi pada perempuan berupa keluarnya darah dari vagina selama beberapa hari dalam satu periode atau siklus bulanan. 

 

Menstruasi pada seorang perempuan menandakan tubuhnya dapat bereproduksi (memiliki anak) karena haid ditandai oleh proses matangnya sel telur yang dapat dibuahi. Keluarnya darah merupakan peluruhan bagian lapisan dinding rahim yang menebal karena tidak terjadinya pembuahan.

 
Siklus Menstruasi

Foto: Unsplash.com/Oana Cristina

Siklus menstruasi merupakan rangkaian fase menstruasi dalam satu  bulan yang dihitung dari hari pertama pada satu periode haid hingga hari pertama di periode berikutnya. Biasanya dalam satu siklus, haid berlangsung selama 3 - 7 hari dalam satu periode bulanan yang terjadi sekitar 21 - 35 hari.

 

Mengetahui siklus menstruasi juga dapat membantu mengetahui masa subur perempuan. Untuk siklus haid yang berada di rentang waktu 27 - 30 hari, berarti masa subur kamu adalah di hari ke-9 hingga hari ke-19 dihitung dari hari pertama haid.

 
Tanda-tanda Menstruasi

Foto: Unsplash.com/Julien L

Tanda-tanda menstruasi biasanya muncul sekitar 1 – 2 minggu sebelum haid hari pertama. Perubahan hormon yang terjadi pada saat haid menimbulkan beberapa gejala yang dirasakan oleh tubuh. Berikut ini tanda-tanda menstruasi seperti dilansir dari situs Alodokter.com.

1. Nyeri pada payudara

2. Perut kembung

3. Muncul jerawat

4. Meningkatnya nafsu makan

5. Kram pada perut dan punggung bagian bawah

6. Mood yang mudah berubah (lebih sensitif dan emosional)

 

Menstruasi yang Sehat

Foto: Pexels.com/Karolina Grabowska


Berikut ini siklus menstruasi yang sehat seperti disarikan dari Halodoc.com.

1. Siklus berada dalam kurun waktu 21 - 35 hari (tidak kurang atau lebih)

2. Terjadi setiap periode bulan. Tidak lewat sampai tiga siklus berturut-turut.

3. Aliran darah tidak lebih sedikit atau jauh lebih banyak dibanding menstruasi yang biasa dialami.

4. Tidak merasakan nyeri yang berlebihan hingga mual dan muntah

5. Tidak mengalami pendarahan di luar siklus. Baik itu sebelum maupun setelah selesai haid.

 

Penyebab Vagina Gatal Saat Menstruasi

Saat menstruasi, kondisi "Miss V" menjadi lebih tertutup karena adanya pembalut, ditambah darah yang keluar dan keringat dari tubuh, membuat area kewanitaan menjadi lebih lembap sehingga jadi tempat berkumpulnya bakteri dan jamur. 

 

Jika kebersihan area kewanitaan kurang terjaga dengan baik, maka bakteri dan jamur bisa menyebabkan iritasi serta infeksi pada "Miss V" yang membuat vagina gatal, bahkan perih dan bengkak.

 

4 Masalah Kesehatan yang Dapat Muncul Jika Tidak Menjaga Kebersihan Vagina Saat Menstruasi



Kondisi vagina gatal yang berlebihan bisa jadi salah satu tanda adanya iritasi atau infeksi. Prof. Dr. dr. Dwiana Ocvitanti, SpOG(K), MPH dalam webinar mengungkapkan apa saja masalah kesehatan yang bisa timbul jika tidak menjaga kebersihan area kewanitaan saat menstruasi.

  • Infeksi bakteri

Infeksi vagina karena jumlah bakteri alami di area kewanitaan yang tidak seimbang disebut Vaginosis Bakterialis. Tidak berbahaya tapi dapat menimbulkan keputihan dan gatal.

  • Infeksi jamur

Infeksi jamur pada vagina disebut juga Kandidosis Vulvovaginalis. gejalanya adalah gatal ekstrem dan bengkak di organ intim serta keputihan yang menggumpal

  • Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Gejala ISK antara lain demam, sakit di perut dan panggul, nyeri saat buang air kecil.

  • Kanker Serviks

Infeksi bakteri dan jamur yang sudah dalam kadar serius dan tidak tertangani dengan baik bisa meningkatkan risiko kanker serviks.

 

Bagaimana Cara Merawat Kebersihan Diri Saat Menstruasi?

Foto: Pexels.com/Archie Binamira


Berikut ini cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari berbagai masalah vagina gatal karena jamur dan bakteri yang bisa menimbulkan masalah kesehatan saat menstruasi.

1. Gunakan pembalut yang bersih

2. Selalu cuci tangan dengan sabun sebelum serta sesudah mengganti pembalut

3. Ganti pembalut maksimal 4 jam sekali

4. Jika pembalut dalam keadaan basah dan lembap, ganti pembalut bahkan jika darah belum tertampung banyak, atau bahkan jika belum sampai 4 jam

5. Basuh vagina dengan air mengalir yang bersih dari arah depan ke belakang

6. Cuci bersih pembalut dengan air dan peras lalu masukkan pada kertas pembungkus atau kantong plastik.

7. Buang pembalut ke tempat sampah

8. Mandi 2x sehari agar tubuh tetap bersih dan segar

9. Untuk jaga kebersihan ekstra, bila perlu gunakan cairan pembersih vagina yang sesuai dengan pH vagina

 

Betadine Feminine Care, Rangkaian Produk yang Lengkap untuk Menjaga Kebersihan Vagina

betadine feminine


Betadine Feminine Care menyediakan berbagai rangkaian produk yang bisa digunakan sesuai kebutuhan. Untuk penggunaan sehari-hari, kamu bisa menggunakan Betadine Feminine Wash Foam atau Betadine Feminine Wash Natural Daun Sirih. Produk ini sudah disesuaikan dengan keseimbangan pH di area kewanitaan dan mengandung prebiotics. Selain itu juga bebas dari paraben.

 

Untuk kamu yang suka bepergian, bisa gunakan Betadine Feminine Wipes yang praktis dibawa ke mana-mana. Sementara untuk penggunaan saat haid, terdapat varian Betadine Feminine Hygiene yang mengandung antiseptik dapat mengatasi infeksi kuman yang bisa menyebabkan iritasi dan gatal.

 

Ada juga produk Betadine Vaginal Douche untuk mengatasi infeksi. Tapi, untuk penggunaan produk ini sebaiknya dikonsultasikan terlebih dulu dengan tenaga kesehatan. Rangkaian lengkap produk Betadine Feminine Care bisa kamu beli di Tokopedia dengan klik link ini: Betadine Official Store di Tokopedia.

 

Selain menyediakan produk pembersih khusus area kewanitaan, Betadine juga terus mengedukasi perempuan Indonesia mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan area kewanitaan dan telah membagikan buku saku “Sehat dan Bersih Saat Menstruasi” ke lebih dari 1 juta perempuan di Indonesia. 

 

“Melalui kegiatan edukasi ini, kami berharap perempuan Indonesia semakin mengerti cara menjaga kebersihan dan kesehatan area kewanitaannya sedini mungkin, serta dapat terus beraktivitas dengan nyaman tanpa terhalang menstruasi,” ujar Mada Shinta Dewi, Country Manager Mundipharma Indonesia.

 

Udah tahu, kan betapa nggak enaknya kalau sampai area kewanitaan banyak jamur dan bakteri akibat kurang jaga kebersihan? Yuk, makin peduli dan perhatian sama organ intim kita!



Feature image:

Foto: Pexels.com/Karolina Grabowska

Olah digital: Aprillia Ramadhina with Canva

 

Referensi:

Azanella, Luthfia Ayu. 2021. “Ramai soal Patung Merlion di Madiun, Ini Penjelasannya”, https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/01/200500865/ramai-soal-patung-merlion-di-madiun-ini-penjelasannya-, diakses pada 2 Januari 2020 pukul 14.05.


Adrian, Kevin. 2018. “Tanda-Tanda Menstruasi Akan Segera Tiba”, https://www.alodokter.com/tanda-tanda-menstruasi-akan-segera-tiba, diakses pada 2 Juni 2021 pukul 11.31.

 

Verona, Verury. 2020. “Ini Perbedaan Siklus Haid yang Normal dan Tidak”, https://www.halodoc.com/artikel/ini-perbedaan-siklus-haid-yang-normal-dan-tidak, diakses pada 2 Juni 2021 pukul 11.33.

 

Tamin, Rizki. 2021. “Cara Menghitung Masa Subur Setelah Haid”, https://www.alodokter.com/menghitung-masa-subur-wanita-setelah-haid, diakses pada 2 Juni 2021 pukul 11.34.