Jumat, 21 Juni 2019

Meningkatkan Kepercayaan Diri dengan Merawat Tubuh dan Memaksimalkan Potensi yang Dimiliki

Juni 21, 2019
Kepercayaan diri ternyata sebuah hal yang dinamis. Ia bisa naik-turun. Kepercayaan diri pernah berada di titik tertinggi dan terendah beberapa kali dalam hidup saya. Saya sendiri merasa sangat percaya diri ketika usia saya 26 tahun. Saat saya merasa telah meraih banyak hal dalam hidup.

Saya telah mengunjungi banyak kota di Indonesia karena pekerjaan saya sebagai jurnalis. Saya meliput banyak pameran seni yang keren, mewawancarai khusus tokoh publik dari berbagai profesi, mulai dari seniman, arsitek, aktor dan aktris, hingga wakil menteri.

Saya pun melahirkan buku yang sangat membuat saya bangga. Kepercayaan diri bukan sesuatu yang perlu saya upayakan saat itu, karena terasa muncul begitu saja dengan sangat alami.

Tapi, semua itu kemudian menjadi sebatas kejayaan masa lalu. Saya merumahkan diri saya saat tengah hamil besar, melahirkan dan memutuskan untuk bersama anak saya sampai saatnya lagi nanti saya kembali bekerja. Kurang lebih satu setengah tahun saya di rumah.

Walaupun tidak benar-benar berhenti bekerja dan tetap bekerja dari rumah, saya kehilangan banyak momen untuk berkomunikasi langsung dengan orang luar. Komunikasi untuk pekerjaan yang dilakukan hanya sebatas chat dan e-mail, semua yang serba maya. Sampai saya berada di satu titik di mana, saya benar-benar kehilangan kepercayaan diri saya karena merasa terlalu lama “hanya” berada di rumah.

Saya melihat dunia di sekitar saya berlari begitu kencang, dan saya hanya menjadi penontonnya. Saya melihat semua orang bergerak sementara saya hanya seperti berjalan di tempat bahkan mundur ke belakang. Tak ada lagi pencapaian. Tak ada lagi pengalaman yang membanggakan.

Semua hanya kegemilangan di masa lalu, yang seolah-olah dibekukan waktu. Kepercayaan diri saya runtuh karena saya merasa tak lagi bisa berkarya, dan itu sungguh menyedihkan. Sampai saatnya saya kembali bekerja dan memulai semuanya dari nol lagi. Saya mengalami kesulitan berkomunikasi.

Saya mengalami kecemasan akan kebisaan melakukan sesuatu. Ke mana seorang April yang nggak pernah takut melakukan apa-apa? Kenapa sekarang jadi penuh ketakutan? Menjadi orang yang minderan tidak pernah ada di dalam kamus saya. Lagipula, apa jadinya Arina kalau ibunya tidak percaya diri.

Karena itu, ketika kembali bekerja lagi sebagai pegawai kantoran, saya setengah mati memupuk rasa percaya diri saya lagi. Apa yang saya lakukan?


1. Memperhatikan Kesehatan Pikiran dan Mental


Pikiran dan mental adalah hal paling penting yang harus dijaga kesehatannya. Karena banyak penyakit fisik yang bisa dipicu atau diperparah karena kondisi mental yang berantakan. Untuk menjaganya, yang saya lakukan adalah memfasilitasi setiap emosi untuk mengalir dengan lebih baik. Kalau sedih, nggak apa-apa nangis, kalau kesal, nggak apa-apa marah. Tapi penyalurannya harus yang sehat. Kita nggak akan bisa maksain diri kita untuk selalu berpikir positif.  Karena segala bentuk emosi dan perasaan yang kita alami, itu yang membentuk kita menjadi manusia. 

Cara yang saya lakukan untuk membuat pikiran tetap sehat adalah rutin menulis jurnal, terutama di saat perasaan dan pikiran sedang tidak menentu. Ini cukup membantu untuk menumpahkan emosi dan membuat mental jadi kembali seimbang.


2. Banyak Membaca dan Belajar Hal Baru



Ini salah satu alasan kenapa saya ngotot jadi ibu yang tetap bekerja. Karena dengan bekerja, saya memaksa diri saya untuk terus membaca dan belajar. Meski sudah banyak pengalaman bekerja, saya tidak berhenti untuk mempelajari hal baru, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan saya

Percayalah, orang yang pintar, tingkat kecantikannya akan bertambah beberapa persen. Dan karena kita bisa lebih menghargai diri kita dengan merasa diri kita cantik, otomatis kepercayaan diri kita juga akan timbul. Setelah memutuskan bekerja lagi, saya menyadari, banyak ilmu yang harus saya pelajari lagi. Dunia sudah berlari terlalu jauh, walau agak ngos-ngosan untuk kejar-kejaran dengan perkembangan dunia, tapi, cobalah ikuti pelan-pelan.

Kini, ilmu sudah tersebar di mana-mana, tergantung kita mau mempelajarinya atau nggak. Setelah saya merasa kemampuan saya meningkat, baik dari segi teknis dan nonteknis di dunia kerja, secara langsung, saya juga jadi lebih percaya diri. Karena buat saya, musuh utama percaya diri, adalah merasa diri nggak punya kemampuan apa-apa. Nggak punya kualitas yang bisa ditonjolkan.


3. Menerima Diri



Setelah jadi ibu, pasti bentuk tubuh nggak keruan. Nggak banyak perempuan yang setelah melahirkan, lalu kembali ke bentuk badan semula sebelum hamil. Saya salah satunya. Melihat tumpukan lemak di mana-mana, dan bagian tubuh yang nggak lagi sekencang dulu, ada sedikit rasa insecure di dalam diri. Namun, saya belajar banyak tentang penerimaan diri. Bentuk tubuh boleh jadi tidak seramping dan seseksi saat masih muda, tapi dari tubuh ini, telah lahir sebuah kehidupan baru, seorang manusia baru. Tubuh ini telah menjadi perantara Tuhan mewujudkan ciptaan-Nya ke dunia. Jadi, sangat luar biasa, kan?


4. Lebih Peduli terhadap Kesehatan Fisik


Setelah fase penerimaan diri, tentunya saya juga harus lebih menghargai fisik saya. Bukan mengubahnya, tapi sebagai bentuk penghargaan terhadap tubuh yang sudah membantu saya melakukan banyak hal. Saya pun mulai lebih memperhatikannya dengan lebih rajin merawat diri. Merawat fisik ini tentunya dengan berbagai cara, mulai dari makan makanan yang sehat, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.


5. Merawat Kecantikan


Seperti apa bentuk wajah kita, apa pun jenis dan warna kulit kita yang paling penting untuk dilakukan adalah terus merawatnya dengan baik. Percuma cantik kalau nggak dirawat, karena umur nggak bisa bohong. Sayang banget, kalau masih muda tapi udah banyak kerutan atau flek hitam. 

Makanya, saya juga jadi lebih rajin pakai skin care, karena kalau saya merasa kulit saya dalam keadaan terbaiknya, saya pun juga jadi lebih percaya diri. Nggak perlu lagi ada ketakutan sebelum waktunya. Jadi, nantinya kalau pun kerutan tetap muncul, ya nggak masalah. Karena munculnya ya memang sudah waktunya aja, bukan karena kurang perawatan. Ini juga membantu saya lebih bijak memandang pertambahan usia.


6. Menjaga Keindahan Bagian Tubuh yang Tersembunyi


Bagian-bagian tubuh yang tidak terlihat juga sangat perlu dirawat. Karena yang membuat kita percaya diri itu bukan semata tentang seberapa baik diri kita dilihat orang lain, tapi seberapa baik kita memandang diri kita sendiri. Intinya, apakah kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Karena itu, penting untuk merawat yang mungkin tidak selalu dilihat oleh orang lain, salah satunya adalah ketiak. Bagaimana cara merawatnya? Usahakah ketiak selalu tampil mulus dan nggak ada bulu-bulu yang mengganggu.


7. Veet, Solusi Menghilangkan Bulu Ketiak Tanpa Rasa Sakit


Sejak mulai tumbuh bulu-bulu halus di bawah ketiak pada saat remaja, saya pun merasa tak nyaman jika bulunya tumbuh lebat. Tapi, saya takut bercukur, ya sesederhana takut luka aja gitu kena silet. Apalagi, kan ketiak kulitnya tipis dan lunak, jadi pasti gampang banget luka. Terutama untuk kulit saya yang memang gampang tergores. Jadi, bercukur pakai pisau cukur jelas bukan pilihan. Terlebih waxing, nggak kebayang sakitnya. Di otak saya udah horror aja ngebayanginnya. 

Nah, untuk menghilangkan bulu-bulu halus di ketiak, saya gunakan cara yang paling nyaman, yaitu dengan Veet Hair Removal Cream. Untuk orang-orang yang juga takut shaving dan waxing, ada baiknya coba produk ini, karena lebih aman dan nyaman.
  

8. Review Veet Hair Removal untuk Kulit Kering


Kalau dihitung-hitung, Veet sudah menemani saya bertahun-tahun! Iya, sejak produk ini muncul saya selalu pakai Veet dan terus pakai sampai saya punya anak. Selama itu, saya selalu nyaman-nyaman aja pakainya.

Awalnya, karena saya pikir takut nggak cocok, jadi saya pakai Veet yang kemasannya warna biru untuk kulit sensitif.

Setelah beberapa kali pakai yang biru, dan aman-aman aja, saya pun coba pakai yang untuk kulit normal, yang warnanya pink. Ini varian yang paling gampang ditemuin di mini market.

Nah, menjelang usia 30 tahun, nyaris semua kulit saya jadi lebih kering, mulai dari wajah hingga kaki. Saya pun coba yang kemasan warna hijau, yang varian untuk kulit kering. Senang banget, karena Veet tersedia dalam berbagai varian sesuai jenis kulit. Jadi pakainya juga lebih nyaman.

Cara pakai Veet Hair Removal Cream varian untuk Kulit Kering untuk menghilangkan bulu ketiak:

1. Aplikasikan krim Veet pada punggung spatula.
2. Oleskan pada bagian dalam ketiak secara tebal dan merata hingga menutupi seluruh bulu.
3. Tunggu sekitar 3 menit. Jangan dibiarkan sampai lebih dari 6 menit.
4. Dengan bagian ujung spatula, bersihkan krim yang menempel beserta sisa bulu yang terangkat.
5. Bilas dengan air bersih dan keringkan.
Gampang banget, kan!

Tekstur:
Teksturnya berbentuk krim. Kental, tapi tidak terlalu padat, juga tidak terlalu encer, jadi mudah diaplikasikan.

Aroma:
Aromanya nggak menganggu. Nggak terlalu soft, tapi juga nggak terlalu menyengat. Tetap nyaman selama digunakan dan langsung hilang setelah dibersihkan.

Yang saya suka dari Veet Hair Removal Cream varian untuk Kulit Kering

- Praktis
Kemasannya gampang dibawa ke mana-mana. Cara pakainya juga gampang banget, bisa dipakai sewaktu mandi. Bisa pakai sendiri, nggak perlu bantuan orang lain dan bisa dilakukan di rumah, nggak perlu ke salon seperti waxing.

Hanya dengan krim dan spatula sudah dapat merontokkan bulu.
Karena saya tipe yang takut untuk menggunakan pisau cukur dan takut merasa sakit karena waxing, maka menghilangkan bulu dengan bersenjata hanya krim dan spatula adalah pilihan terbaik.

Menghilangkan bulu hingga mendekati akar dan tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali.
Saya suka pakai Veet karena produk ini dapat menghilangkan bulu sampai mendekati akar. Itu berarti, tumbuhnya bulu jadi lebih lama. Dan bulu yang tumbuh juga lebih halus. Nggak tajem dan nusuk-nusuk.

Cepat merontokkan bulu
Nggak perlu lama-lama kalau pakai Veet, bulu di ketiak udah langsung rontok semua. Saya pakai Veet yang varian untuk kulit kering, cukup didiamkan 3 – 6 menit, sudah langsung rontok nggak bersisa!

Produknya mudah ditemukan di mana-mana
Gampang banget menemukan produk Veet Hair Removal Cream. Di semua mini market juga ada. Harganya pun terjangkau! Saya beli Veet kemasan 60 gr di Tokopedia harganya cuma sekitar Rp 22.000

- Menjaga kelembaban
Karena ini untuk kulit kering, jadi kelembaban kulit juga lebih terjaga. 

Nah, itu semua adalah cara-cara yang saya lakukan untuk meningkatkan rasa percayadiri. Kalau fisik dan psikis terawat dengan baik serta senantiasa mempercantik otak dengan pengetahuan dan wawasan, maka keindahan dalam diri akan terpancar dengan sendirinya, kepercayaan diri pun akan meningkat drastis! 













Sabtu, 11 Mei 2019

Mengatasi Keterlambatan Bicara pada Anak di Atas Umur Dua Tahun dengan Terapi Sensori Integrasi

Mei 11, 2019


Terapi sensori integrasi dapat membantu anak-anak yang terlambat bicara.

Menginjak dua tahun, Arina belum bisa mengucap banyak kata. Kata yang keluar tidak lebih dari 10 kata. Bahkan, merangkai kalimat dengan dua kata pun ia tak bisa. Timbul rasa khawatir bahwa ia mengalami keterlambatan bicara.

Jika melihat artikel berjudul Keterlambatan Bicara yang ditulis oleh Amanda Soebadi dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM di website Ikatan Dokter Anak Indonesia atau Idai.or.id Arina mengalami perkembangan yang cukup normal sampai usia 1 tahun. Hanya saja, menjelang usia 18 bulan, tidak ada perkembangan dari kata-kata baru yang diucapkannya.
Infografis: Aprillia Ramadhina


Namun, saya mencoba terus bersabar dan terus melatihnya. Tapi, sampai usia dua tahun empat bulan, karena tak ada perkembangan yang signifikan, saya dan suami memutuskan untuk memeriksakannya ke klinik tumbuh kembang.

Setelah konsultasi dengan dokter, dan dites beberapa hal, Arina dirujuk untuk assessment dan terapi sensori integrasi. Dokter bilang, memang sedikit ada keterlambatan, tapi belum terlalu parah. Meski begitu, tetap harus segera diatasi, agar keterlambatannya tidak bertambah parah.

Infografis: Aprillia Ramadhina


Dokter di klinik tumbuh kembangnya menyarankan Arina untuk:
1. Terapi Sensori Integrasi di klinik
2. Terapi Sensori Integrasi di rumah
3. Ikut kegiatan atau kelas nursery.
4. Dimasukkan ke daycare (supaya sering bermain dengan teman sebaya)

Setelah konsultasi ke dokter, Arina pun menjalani assessment. Saya harus mengisi sejumlah informasi mengenai perkembangannya. Dimulai dari riwayat kehamilan saya, hingga kemampuan apa yang sudah ia bisa. Terapisnya juga menanyakan banyak hal, termasuk apakah sebelumnya Arina pernah mengalami keterlambatan atau tidak. Tidak. Tumbuh kembang Arina awalnya baik-baik saja. Ia tumbuh sebagaimana mestinya. Dari mulai tengkurap, duduk, merangkak dan berjalan, semua ia capai di usia yang wajar.

Mengapa Terapi Sensori Integrasi dan Bukan Terapi Wicara?

Telat bicara, kok terapinya sensori integrasi? Awalnya saya juga tidak begitu paham, sampai terapisnya Arina menjelaskan mengenai piramida Central Nervous System. Bisa dilihat pada foto berikut.


Sensori terletak pada bagian dasar piramida tersebut, sementara kemampuan bicara atau auditory languange skill ada di bagian atas (perceptual motor). Itu artinya, untuk bisa berada di tahap bicara yang baik, maka level-level di bagian dasar piramida itu harus bisa dilewati dengan baik.

Input sensorik sendiri berkaitan dengan apa yang kita lihat, dengar, raba, kecap, cium, dan rasakan dari sekitar kita dan dari badan kita sendiri. Bagaimana kita mengolah input tersebut, menentukan perilaku yang dipilih untuk memahami diri sendiri, lingkungan dan sekitarnya, serta bagaimana berinteraksi dengan lingkungan tersebut.

Itulah mengapa terapi yang harus dijalani Arina bukanlah terapi wicara melainkan terapi sensori integrasi. Singkatnya, untuk mencapai tahap kemampuan bicara, harus punya kemampuan sensori yang baik terlebih dulu. Lagipula, terapi wicara baru bisa dilakukan untuk anak yang sudah bisa duduk tenang. Ditambah, Arina perhatiannya sulit terfokus, karena itu, penting untuk memaksimalkan kemampuan sensoriknya, agar nantinya lebih mudah belajar bicara.

Setelah diberi Home Program atau terapi sensori integrasi yang harus dilakukan di rumah, terapisnya bilang begini;

“Bu, satu hal yang harus diingat. Mau terapi berapa kali juga, itu akan percuma, kalau di rumah juga nggak sering dilatih. Karena biar bagaimana pun juga, yang paling penting itu latihan di rumah.”

Walaupun saya tahu itu, saya cukup tertohok. Saya merasa ternyata selama ini kurang memperhatikan Arina. Kurang rajin melatihnya, kurang telaten mengajarinya. Dan lebih dari itu, mungkin juga kurang sering mengajaknya bicara. Baru dua tahun usianya, sudah banyak kesalahan yang saya buat.

Iya, saya lalai. Dari kelalaian itu, Arina yang harus terima imbasnya. Sungguh tidak adil, ya. Dia tidak minta dilahirkan ke dunia, tapi mengapa orangtuanya tidak mengurusnya dengan tepat. Sekarang yang bisa saya lakukan adalah berupaya untuk membantunya terapi, baik di tempat terapi, di rumah, dan melibatkannya pada kegiatan-kegiatan anak seusianya.


Memulai Terapi Sensori Integrasi di Rumah


Ini yang saya lakukan untuk terapi Arina di rumah berdasarkan rujukan Home Program yang ditentukan oleh terapisnya.

Terapi awal sensori integrasi Arina di rumah:
1. Main pasir
2. Memasang puzzle
3. Berjalan di tempat sempit atau pinggir trotoar
4. Bermain tepung pakai air
5. Mengelem
6. Berdiri di atas bangku sambil melempar bola
7. Mengelompokkan bola-bola dalam satu warna
8. Memakai dan melepas pakaian sendiri
9. Bermain ayunan
10. Melompat di tempat

Ini kegiatan yang dilakukan selama dua minggu. Ke depannya tentu akan lebih banyak lagi variasi latihan yang harus Arina lakukan. 

Semua latihan ditujukan agar Arina bisa belajar seimbang, tidak lagi gampang merasa jijik dengan yang lengket-lengket dan bisa lebih aware dengan diri sendiri dan sekitar. Lambat laun, ketika kemampuan-kemampuan dasar ini berkembang, otak Arina akan lebih mudah memproses informasi yang berkaitan dengan bahasa.

Infografis: Aprillia Ramadhina


Meningkatkan Kemampuan Bicara pada Anak Melalui Kelas Nursery

Selain terapi di klinik dan di rumah, dokter juga menyarankan memasukkan Arina ke daycare atau kelas nursery supaya sering bermain dengan teman sebaya. Kelas nursery merupakan salah satu bagian awal dari pendidikan anak usia dini di luar rumah.

Manfaat yang didapatkan anak jika mengikuti kelas nursery:


1. Membantu kesiapan anak untuk sekolah 
Anak-anak bergaul dengan anak-anak lain, sehingga akan lebih siap jika nanti akan sekolah. Mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar, memiliki keterampilan sosial yang besar dan merasa aman di lingkungan yang berbeda.

Selain itu, kelas nursery juga dapat membantu anak lebih mandiri, seperti mencuci tangan, merapikan mainan, dan bermain bergantian dengan anak lain. Mereka akan lebih tahu tentang bagaimana seharusnya berperilaku. 

2. Meningkatkan kepercayaan diri
Dengan bermain bersama anak-anak lain, maka mereka akan lebih percaya diri dan tetap aktif. Karena itu, penting untuk memberikannya kegiatan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Anak-anak juga akan lebih bersemangat dan bergembira jika bermain bersama teman-teman sebaya. 


Kelas Pre-nursery dan Kelas Nursery di Apple Tree Pre-School BSD

Sumber: https://www.appletreebsd.com/

Saya pun mencari tahu di mana kelas-kelas nursery diadakan dan menemukan Apple Tree Pre-School BSD. Bahkan selain kelas nursery untuk anak umur 3 - 4 tahun, juga ada kelas pre-nursery untuk anak usia 2-3 tahun.

Kelas pre-nursery ini melatih transisi anak-anak yang biasa di rumah dengan sekolah. Jadi, membantu Anda agar lebih siap memasuki masa sekolah. Sementara di kelas nursery, pengetahuan dan keterampilan sosial anak-anak semakin dikembangkan. Aspek-aspek pembelajaran semakin ditekankan di sini. 

Sepertinya, ke depannya untuk membantu Arina semakin lancar bicara, saya berniat memasukkannya ke kelas nursery. Tentunya, Apple Tree Pre-School BSD bisa menjadi pilihan. Karena, rumah saya yang di Tangerang, tidak terlalu jauh dari lokasi Apple Tree Pre-School di BSD.
Sumber gambar: https://www.appletreebsd.com/. Infografis: Aprillia Ramadhina

Selain itu, ada banyak keunggulan lainnya yang ada di Apple Tree Pre-School BSD, yatu kurikulumnya yang mengadopsi kurikulum di Singapura, bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris dan Mandarin, serta tersedia kelas untuk beragam usia, mulai dari 1,5 tahun hingga 6 tahun (pilihan kelas yang ada dapat dilihat di sini). Kualitasnya tentu tak perlu diragukan lagi, karena sudah ada lebih dari 20 sekolah Apple Tree Pre-School yang tersebar di Indonesia.

Saya tertarik dengan slogan Apple Tree Pre-School BSD yang berbunyi "Tree of Knowledge, Wisdom and Growth". Itu menandakan bahwa di sana, bukan hanya fokus pada pertumbuhan dan pengetahuan saja yang ditanamkan, tapi juga kebijaksanaan. Ini menjadi penting, mengingat makin hari kita semakin sering menemui orang yang sukses dan pintar, tapi sayangnya kurang bijaksana.


Harapan Itu, Hanya Melihat Arina Tumbuh dan Berkembang Sebagaimana Mestinya


Ketika menjadi ibu, kebahagiaan saya tidak pernah muluk terhadap Arina. Saya hanya ingin dia tumbuh sehat, bahagia, dan sebagaimana mestinya. Karena itu, jika dia terlambat bicara begini, saya sedih. Tapi, yang perlu disedihkan bukan kemampuannya yang minim. Tapi saya sedih, mengapa tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk dia.

Tampaknya, bukan Arina saja yang perlu latihan dan terapi. Saya, ibunya juga harus terus belajar. Belajar bagaimana menumbuh kembangkan Arina dengan baik. Karena semua yang ia dapat sejak kecil, adalah bekal yang akan dia bawa kelak sampai ia sewasa. Pendidikan anak usia dini adalah dasar, yang membantunya membangun fondasi dari karakternya nanti di masa depan.

Menjadi ibu, adalah peran yang harus dilakoni seumur hidup. Tanggung jawabnya adalah anak. Bagaimana ia bisa hidup dengan baik dan layak sampai ia bisa memegang kendali atas hidupnya sendiri. Menjadi orangtua tidak ada sekolahnya. Mempelajari ilmu dari orangtua kita terdahulu juga terkadang sudah tidak relevan.

Untuk memberikan pendidikan pada anak usia dini, tidak hanya ibu yang harus terlibat, tapi juga para ayah, dan keluarga atau pengasuh di rumah. Karena secanggih apa pun pendidikan yang ia dapat di luar, jika di rumah juga tidak belajar apa-apa, akan percuma. 

Peran keluarga dalam pendidikan anak usia dini sangatlah penting. Semua itu bergantung pada orangtuanya, mau terus belajar atau tidak untuk melatih anaknya. Karena menjadi orangtua, berarti menjadi pembelajar yang harus terus melatih diri untuk menjadi pendidik utama anak-anaknya. 
#appletreebsd