Rabu, 17 Juli 2019

3 Cara Berlatih Sikap Bodo Amat Agar Hidup Lebih Waras

Juli 17, 2019


Terkadang, kewarasan itu perlu diperjuangkan. Hidup yang rumit dan semrawut selalu punya celah untuk membuat kita stres bahkan depresi. Salah satu yang bisa kita lakukan untuk untuk menjalani hidup yang lebih baik dan lebih bahagia, adalah dengan bersikap bodo amat, seperti yang Mark Manson tuangkan dalam bukunya yang berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (2018). Lantas, bagaimana cara berlatih sikap bodo amat?


1. Jangan Berusaha

Mungkin kamu sudah kenyang dengan nasihat atau kata-kata motivasi yang mengarahkanmu untuk terus berusaha. Manson memulai bukunya dengan menjabarkan pentingnya untuk jangan berusaha. Ia menceritakan kisah Charles Bukowski yang bercita-cita ingin menjadi penulis, namun karyanya selalu ditolak oleh hampir semua media dan penerbit yang ia hubungi karena tulisannya dianggap hancur dan buruk. Pada akhirnya ia memilih untuk bekerja di kantor pos sebagai penyortir surat, digaji sangat rendah, dan hidupnya tenggelam dalam alkohol, narkoba, judi dan pelacuran.

Hingga tiga puluh tahun lamanya ia menjalani hidup seperti itu. Pada akhirnya, Bukowski yang pemabuk dan pecundang itu dihubungi seorang editor dari penerbitan independen kecil yang menawarinya membuat buku. Novel berjudul Post Office pun berhasil dia selesaikan. Ia pun terus berkarya dan menerbitkan 6 novel dan ratusan puisi yang sanggup mencapai angka penjualan lebih dari 2 juta kopi.

Melihat cerita tersebut, mungkin kamu akan berpikir bahwa Bukowski sukses karena ia tidak berhenti berusaha. Pada kenyataannya, ia justru sukses karena ia tahu bahwa dirinya adalah seorang pecundang, menerima kenyataan itu, dan tidak pernah mencoba  menjadi orang lain. “Kecerdasan dalam tulisan Bukowski bukan soal memanfaatkan peluang yang luar biasa atau mengembangkan dirinya menjadi seorang sastrawan gemilang. Yang ada adalah kebalikannya. Ia hebat karena kemampuan sederhananya untuk jujur pada diri sendiri sepenuhnya dan setulusnya. Terutama mengakui hal-hal buruk yang ada pada dirinya sekalipun – dan untuk membagikan perasaannya tanpa segan atau ragu,” papar Manson dalam bukunya.

Kesuksesan Bukowski bukan karena ia berubah menjadi pribadi yang positif. Nyatanya, setelah terkenal pun, ia masih menjadi orang yang mampu mendamprat audiensnya dengan kasar pada acara pembacaan puisi. Bukoswki masa bodoh dengan kesuksesan.  Namun, justru kesuksesan itu ia raih, ketika ia berhenti berusaha, berusaha menjadi orang lain yang jelas-jelas bukan dirinya.


2. Memilih Hal-Hal yang Layak Dipedulikan

Pada kenyatannya tidak akan ada orang yang sanggup masa bodoh dengan semua hal. Otak kita dirancang untuk memedulikan sesuatu. Tapi, kita bisa memilih hal-hal apa yang pantas kita pedulikan dan mana yang memang bisa kita abaikan karena tidak bermakna. Akan tetapi, bagaimana memilihnya?

Bersikap masa bodoh yang dimaksud Manson adalah tidak peduli dengan kerasnya perjuangan, risiko kegagalan, atau hal-hal memalukan yang mungkin terjadi. Simpanlah kepedulian hanya untuk hal-hal besar yang penting, seperti teman-teman, keluarga, dan target hidup.  Bersikap masa bodoh bukan menghindari kesulitan, tapi menemukan hal sulit yang bisa dihadapi dan dinikmati.

Kita harus bisa selektif terhadap hal-hal yang memang perlu menyita perhatian dan kepedulian kita, karena itu adalah bagian dari kedewasaan. “Kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya pada sesuatu yang sangat berharga,” ungkap Manson. Karena justru menurutnya, ketika pertambahan usia dialami seseorang, perubahan akan terjadi, termasuk menurunnya energi. Akan tetapi, itu yang akan membuat identitias kita menguat. “Kita tahu siapa kita, dan kita menerimanya sepenuh hati, termasuk bagian-bagian yang sama sekali tidak membanggakan,” lanjut Manson.


3. Kamu Harus Bisa Menolak

Berhentilah untuk berkata “Ya” pada setiap hal, karena kita semua perlu menolak sesuatu. Dengan membuat penolakan, kita bisa hidup dengan tujuan yang lebih jelas serta memiliki hidup yang lebih punya arti. Jika kamu selalu mengiyakan segala hal yang datang padamu, bisa jadi kamu akan kehilangan kemudi atas hidupmu sendiri. Ketika kamu berani menolak, berarti kamu sedang membatasi diri. Batasan ini perlu agar kamu bisa menjalani hidup yang lebih baik.

“Penolakan adalah keahlian hidup yang penting dan krusial,” jelas Manson. Kamu berhak menolak untuk hal-hal yang kemungkinan besar tidak memberikan kebahagiaan padamu. Karena tidak ada satu orang pun yang ingin terjebak dalam sebuah hubungan yang tidak bahagia atau pekerjaan yang dibenci. Jadi, kamu berhak untuk memutuskan hubungan dengan orang yang hanya bisa menyakitimu atau kamu berhak pergi dari kantor yang hanya menyiksamu lahir batin.

Selain ketiga hal di atas, ada banyak lagi hal lainnya yang Manson bagikan dalam bukunya tersebut terkait dengan melatih diri untuk bersikap bodo amat. Ia mengungkapkan banyak pencerahan, tapi bukan pencerahan yang mengawang-awang penuh mimpi kebahagiaan, atau omong kosong motivasional. Dengan bahasanya yang mengalir, ia menceritakan kisah-kisah realistis, tentang betapa pentingnya belajar menyortir kepedulian kita.



Selasa, 16 Juli 2019

Gencarkan 3 Perilaku Germas untuk Cegah Risiko Penyakit Tidak Menular (PTM)!

Juli 16, 2019
Foto: Aprillia Ramadhina


Masih melekat dalam benak bagaimana masyarakat begitu berduka ketika ibu Ani Yudhoyono meninggal dunia akibat kanker darah yang dideritanya. Kita melihat kesedihan mendalam begitu dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkannya, terutama bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Siapa pun akan ikut tergetar melihat sosok pria berwibawa itu mencoba menahan kerapuhannya dan berusaha untuk tetap tegar.

Tak lama berselang dari kabar kehilangan salah satu putri bangsanya, Indonesia kembali berduka. Bapak Sutopo Purwo, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikabarkan meninggal dunia akibat kanker paru-paru stadium 4 yang sudah dideritanya sejak lama.

Setelah beliau pergi, banyak beredar videonya ketika ia mengenang saat-saat awal dirinya divonis kanker paru-paru stadium 4. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak merokok dan sudah cukup menjaga kesehatan. Ia juga menceritakan bahwa kemungkinan penyakit itu ia derita karena ia menjadi perokok pasif, di mana karyawan-karyawan lain di lingkungan tempatnya bekerja banyak yang merokok.
 
Sumber: Instagram @suara_tanpa_rokok. Video selengkapnya dapat dilihat di sini.

Sebegitu bahayanya rokok. Ayah saya pun, meninggal karena serangan jantung akibat dulunya perokok berat selama bertahun-tahun. Saat divonis sakit jantung, ia baru mengubah gaya hidupnya. Ia mulai berhenti merokok, mulai benar-benar memperhatikan asupan makanan. Karena selain rokok, baru ketahuan juga dia mengidap penyakit lainnya, yaitu diabetes dan kolesterol. Sayangnya, semuanya sudah terlanjur terlambat.


Memang takdir adalah milik sang pencipta. Kapan berakhirnya hidup seseorang hanya Tuhan yang tahu. Kematian adalah misteri Illahi yang tidak bisa ditebak atau diprediksi. Banyak perokok yang melakukan pembenaran, “Ah, kalau sudah waktunya meninggal ya meninggal saja, nggak harus karena merokok. Banyak yang perokok berat tetap bisa panjang umur, kok! Lagipula semua makhluk juga pada akhirnya akan mati.”

Bagi saya, pernyataan macam itu sangat-sangat egois dan arogan. Rokok memang bukan satu-satunya pembunuh atau penyebab sakit kanker dan jantung, tapi kita nggak bisa menutup mata, bahwa rokok bisa menyebabkan penyakit tersebut yang akhirnya berujung pada kematian. Maut memang tak bisa dihindari atau dicegah, apalagi dinegosiasikan. Tapi, paling tidak, kita bisa memberi penghargaan tertinggi terhadap kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan. Dengan cara apa? Dengan menjaga kesehatan sebaik-baiknya.


Hidup untuk sehat, dan sehat untuk hidup

Foto: dok.AprilTupai.com

Hidup yang sebaik-baiknya bagi saya adalah ketika kita bisa hidup sesehat-sehatnya. Lahir-batin, luar-dalam, jasmani-rohani, jiwa-raga, fisik-psikis. Kenapa? Karena keduanya bisa saling bersisian. Jiwa yang sakit bisa membuat kondisi fisik memburuk. Begitu pun tubuh yang tidak sehat, bisa mengacaukan pikiran.

Ketika kita sehat, ada banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Mengejar mimpi-mimpi, membahagiakan diri sendiri dan keluarga. Melakukan hal-hal yang mungkin sebelumnya tidak kita bayangkan.

Jika kita sakit, semua keinginan bisa jadi impian semata. Ada banyak keterbatasan yang tidak bisa kita tembus. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan demi sebuah kesembuhan. Padahal, bisa jadi itu semua hanyalah harga yang harus dibayar akibat kita terlalu menyia-nyiakan yang seharusnya bisa dengan mudah kita jaga dengan baik; kesehatan.


Mewaspadai Penyakit-Penyakit yang Menjadi Penyebab Kematian Terbesar di Dunia

Menurut data kematian yang dirangkum oleh WHO pada tahun 2015, penyakit jantung dan stroke menempati dua daftar teratas dari 10 penyebab kematian terbesar di dunia. Keduanya termasuk dalam jenis Penyakit Tidak Menular (PTM). Selain penyakit jantung dan stroke, masih ada banyak lagi jenis penyakit yang termasuk PTM, beberapa yang utama meliputi penyakit hipertensi, diabetes melitus, kanker dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).  

Dalam catatan “Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2015 – 2019”, yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (2015), disebutkan bahwa jumlah kematian akibat PTM terus meningkat dari 41,75% pada tahun 1995 menjadi 59,7% di 2007. Berdasarkan suvei Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2007, PTM menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia dengan proporsi (%) penyebab kematian tertinggi akibat stroke.


Sekitar 80% PTM diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya konsumsi sayur dan buah, kurangnya aktivitas fisik, tingginya konsumsi lemak, garam dan gula berlebih serta kebiasaan buruk merokok dan minum alkohol.

Tahun 2017, WHO menunjukkan sebanyak 7,2 juta kematian akibat PTM disebabkan oleh konsumsi produk tembakau. Dikutip dari laman Sehatnegeriku.kemkes.go.id, Menteri Kesehatan Nila F. Moelok mengungkapkan bahwa meningkatkanya jumlah perokok di Indonesia telah menjadi ancaman serius. 

“Rokok merupakan faktor risiko penyakit yang memberikan kontribusi paling besar dibanding faktor risiko lainnya. Seorang perokok mempunyai risiko 2 sampai 4 kali lipat untuk terserang penyakit jantung koroner dan memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kanker paru dan PTM lainnya,” ujar Menkes Nila F. Moeloek pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), di kantor Kemenkes (11/7).
  
Sementara itu, prevalensi PTM atau jumlah kasus PTM yang dikumpulkan dari data 1,2 juta jiwa yang tercatat oleh Riskedas 2018 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013. Peningkatan ini antara lain meliputi penyakit kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar jumlah penderita penyakit ini tidak semakin meningkat?


Mencegah Penyakit Tidak Menular dengan 3 Perilaku Germas

Grafis: AprilTupai.com

Germas adalah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia agar masyarakat semakin sadar untuk meningkatkan kualitas hidup dengan gaya hidup sehat.

Gerakan ini sebaiknya dimulai dari diri sendiri, kemudian ditularkan kepada keluarga. Semakin banyak keluarga yang menerapkan perilaku hidup sehat, maka masyarakat di sekitar juga perlahan akan meningkat kesadarannya.

Germas penting untuk digalakkan dalam kehidupan sehari-hari, karena daripada harus mahal-mahal mengobati penyakit, tentu jauh lebih mudah dan murah jika mencegahnya agar jangan sampai terjadi. 

Berikut ini tiga perilaku Germas yang dapat kita gencarkan untuk mencegah Penyakit Tidak Menular (PTM).

 
1. Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari

Foto: Aprillia Ramadhina

Kita mungkin langsung merasa berat ketika mengharuskan diri berolahraga. Padahal, inti dari olahraga adalah membuat tubuh bergerak aktif. Dengan beraktivitas fisik, aliran darah menjadi lebih lancar, sehingga dapat meningkatkan fungsi organ-organ di dalam tubuh kita.

Salah satu perilaku Germas yang digalakkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mencegah Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah melakukan aktivitas fisik 30 menit setiap hari. Hal ini sejalan juga dengan anjuran American Heart Association (AHA) yang mengatakan bahwa olahraga teratur atau bergerak aktif dapat memberi manfaat untuk mencegah penyakit kardiovaskular seperti: membantu menurunkan berat badan, mengurangi tekanan darah, mengurangi kolesterol jahat dan meningkatkan kolesterol baik. 

Foto: dok.Apriltupai.com

Olah raga dapat meningkatkan fungsi otot dan kekuatan serta kemampuan tubuh untuk menggunakan oksigen secara maksimal. Olahraga juga meningkatkan kapasitas pembuluh darah untuk melebar sehingga fungsi dinding pembuluh darah bisa lebih baik untuk memasok oksigen yang diperlukan tubuh. 

Berolahraga atau bergerak aktif selama 30 menit ini bisa didefinisikan sebagai aktivitas apa pun yang memiliki intensitas mirip dengan jalan cepat dengan kecepatan sekitar 3 - 4 mil per jam. Kegiatan ini bisa berupa bersepeda, berenang, berkebun, atau pekerjaan rumah lainnya.


Contoh aktivitas fisik 30 menit sehari yang bisa Anda lakukan:
- Berenang
- Bermain basket
- Berjalan-jalan di dalam mall
- Jogging di taman
- Senam
- Nge-gym
- Naik-turun tangga
- Skipping
- Olahraga dengan pekerjaan rumah tangga (menyapu, mengepel, membersihkan jendela,  dan mencuci baju).
 - dan lain-lain

Tips agar konsisten berolahraga:
Salah satu hal yang cukup sulit dari berolahraga adalah konsistensi. Komitmen terhadap diri sendiri adalah perjanjian yang biasanya paling sering dan paling mudah dilanggar.
Ini cara yang bisa dilakukan agar tidak lupa beraktivitas fisik 30 menit sehari:
- Buat pengingat atau alarm di ponsel
- Upayakan selalu berolahraga di waktu yang sama setiap harinya, agar menjadi kebiasaan
- Gunakan timer selama 30 menit ketika mulai beraktivitas.
- Siapkan playlist musik favorit selama 30 menit selama beraktivitas.

30 menit bukanlah waktu yang lama. Itu hanya 1/48 dari waktu kita selama 24 jam sehari. Siapkan waktu khusus untuk aktivitas ini, upayakan di pagi hari sebelum mulai aktivitas lainnya agar tubuh lebih segar dan bertenaga menjalani hari.


2. Mengonsumsi buah dan sayur

Grafis: Apriltupai.com

Sayur dan buah memiliki nutrisi penting yang dibutuhkan oleh manusia. Bahkan risiko penyakit kronis tertentu dapat dikurangi dengan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah-buahan. 

Menurut WHO, kurangnya konsumsi buah dan sayuran dapat membuat kesehatan memburuk dan meningkatkan risiko Penyakit Tidak Menular. Bahkan, pada tahun 2017 diperkirakan ada sekitar 3,9 juta kematian di seluruh dunia yang disebabkan kurangnya konsumsi sayuran dan buah. 


Sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber kaya vitamin dan mineral serta nutrisi lainnya seperti antioksidan. WHO menganjurkan untuk mengonsumsi lebih dari 400 gram buah dan sayuran per hari untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran secara keseluruhan serta mengurangi risiko Penyakit Tidak Menular. 

Akan tetapi, konsumsi sayur dan buah di masyarakat Indonesia masih sangat kurang. Bahkan, menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013 menyatakan sebanyak 93,5% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun masuk dalam kategori kurang makan buah dan sayur! Meski sudah tahu banyaknya manfaat sayur dan buah, ternyata masih banyak orang yang malas mengonsumsinya secara rutin.

Padahal, mengonsumi buah dan sayur itu mudah dilakukan dan murah didapatkan. Hanya saja, lagi-lagi, rasa malas biasanya yang membuat kita jarang makan buah dan sayur.

Tips agar tidak malas makan buah dan sayur:

- Untuk permulaan, mulailah dari buah yang mudah dimakan. Dalam artian tidak perlu dikupas dengan pisau, seperti pisang, salak, tomat, jambu air, jambu biji, apel, jeruk, dan stroberi.
- Setelah itu, mulailah konsumsi buah lain yang perlu dikupas atau dibelah dengan pisau seperti pepaya, semangka, mangga, alpukat, buah naga, melon, dan lain sebagainya.
- Jika bosan makan buah potong, coba selang-seling dengan dibuat jus.
- Untuk sayur, coba buka resep-resep di internet, supaya bisa masak sayur yang lebih variatif agar tidak bosan.
- Mulailah dari jenis buah dan sayur yang memang kita suka. Variasikan dengan beragam buah dan sayur lainnya agar semakin semangat membiasakan rutinitas.


3. Memeriksakan kesehatan secara rutin


Sudah rajin olahraga, rajin makan buah, tapi kapan ya terakhir kali cek kesehatan? Rata-rata orang mengunjungi rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya ketika sedang sakit saja atau ada keluhan. Saat merasa diri baik-baik saja, kita tentu enggan periksa kesehatan. Kita berlindung di balik dalih, “Ah, nggak sakit apa-apa, kok, ngapain ke dokter?”

Padahal, kadang ketika kita merasa baik-baik saja, ya belum tentu sebenarnya juga baik-baik saja. Contohnya ketika ayah saya divonis punya penyakit jantung, barulah ketahuan penyakit-penyakit lainnya yang diidapnya.

Manfaat memeriksakan kesehatan secara rutin:
-  Dapat mendeteksi dini penyakit sehingga dapat dilakukan penanganan lebih cepat sebelum keadaan bertambah parah.
- Dapat mengetahui seberapa besar risiko penyakit dan meningkatkan kewaspadaan terhadap hal-hal yang dapat memperburuk kondisi.
- Mengetahui detail kondisi tubuh secara rinci sehingga dapat lebih meningkatkan pola hidup sehat dan mencegah datangnya penyakit.

Dengan memeriksakan kesehatan kepada ahlinya, kita jadi terhindar dari berasumsi pada tubuh kita sendiri. Asumsi yang salah tentunya berbahaya. Sementara itu, jika tidak mengecek tubuh secara rutin minimal 6 bulan sekali, kita bisa jadi tidak tahu penyakit apa saja yang bersarang dalam tubuh kita, sehingga kita tanpa sadar melakukan pengabaian dan pembiaran. 

Tubuh adalah kendaraan yang kita gunakan untuk mencapai tujuan dari banyak hal di hidup kita. Tengoklah sesekali lebih dalam, agar tahu seperti apa kondisi dan fungsi organ-organ di dalamnya.

Nah, tiga perilaku Germas itu sangat mudah sekali, ya untuk dilakukan. Yuk, kita galakkan Germas, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari saat ini! Manfaat besarnya bukan hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk keluarga tercinta, dan untuk generasi selanjutnya. Karena sumber daya manusia yang sehat, tentu menjadi salah satu modal utama kemajuan suatu bangsa.


Referensi:






  • American Heart Association. (2003, 7 Januari). Exercise and Cardiovascular Health
  • Detik Health. (2017, 8 Februari). 10 Penyebab Kematian Terbesar di Dunia.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011, 18 Agustus). Penyakit Tidak Menular (PTM) Penyebab Kematian Terbanyak di Indonesia.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018, 2 November). Potret Sehat Indonesia dari Riskedas 2018.
  • P2PTM. (2017, 13 Juli). Cegah Penyakit Tidak Menular dengan Rajin Makan Buah dan Sayur dalam Rangka Memperingati Hari Buah Sedunia 2017.
  • Sehat Negeriku. (2016, 15 November). GERMAS Wujudkan Indonesia Sehat
  • Sehat Negeriku. (2019, 11 Juli). HTTS 2019: Jangan Biarkan Rokok Merenggut Napas Kita
  • World Health Organization. (2019, 11 Februari). Increasing Fruit and Vegetable Consumption to Reduce the Risk of Noncommunicable Diseases.