Kamis, 19 September 2019

Penyebab, Dampak, dan Penanggulangan Bencana Kabut Asap Akibat Karhutla

September 19, 2019 0


Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa... 
  
Ya, ibu pertiwi kini tengah menangis. Tangis yang menjerit-jerit. Menusuk nurani siapa saja yang melihat atau membaca berita tentang bagaimana lautan api memporak-porandakan hutan di Sumatera dan Kalimantan serta kabut asap yang mengepung masyarakat. Karhutla, atau kebakaran hutan dan lahan. Itu yang sedang melanda di sana. Mengapa disebut kebakaran? Bukankah yang terjadi adalah pembakaran? Keduanya tentu sungguh berbeda.

Motif Pembakaran Hutan untuk Membuka Lahan Perkebunan


Olah gambar: Apriltupai.com


Pada “kebakaran”, ada unsur ketidaksengajaan, sedangkan dalam “pembakaran”, jelas dilakukan karena sengaja dan terencana. Yang menjadi penyebab utama terjadinya karhutla adalah ulah manusia. Ada pelakunya yang membakar. Karena itu, narasi yang tepat adalah pembakaran, bukan kebakaran.

Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memantau langsung dari udara menggunakan helikopter BNPB dan ditemukan bahwa titik api terlihat lurus, yang berarti disengaja karena polanya terstruktur. 

“Ada indikasi dibakar dan si pembakar sudah mengerti tata letak dan arah angin. Kita harus bisa mengetahui siapa pelaku ini. Sudah berpuluh-puluh tahun terjadi seperti ini," ungkap Doni seperti dilansir dari website resmi BNPB. Inilah akar masalahnya. Kesengajaan pembakaran yang terencana ditambah seolah ada pembiaran, pengabaian dan kelalaian hingga hal ini bisa terus terjadi.

Total dari bulan Januari sampai Agustus 2019, lahan yang terbakar seluas 328.724 hektare dengan ditemukan sebanyak 4.077 titik panas. Kepala BNPB pun mengungkapkan bahwa 80% lahan yang terbakar berubah menjadi perkebunan sawit. Ini sesungguhnya sebuah hal yang dilematik. Sawit tentunya sulit untuk benar-benar dihindari dalam kehidupan sehari-hari karena masih dimanfaatkan untuk minyak goreng hingga produk kecantikan.

Hanya saja, cara membakar untuk membuka lahan jelas-jelas telah dilarang oleh pemerintah. Dilansir dari Hukumonline.com, salah satu aturan mengenai pembakaran lahan ini ditemukan dalam Pasal 26 Undang-Undang Nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan, yang berbunyi: 

"Setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara pembakaran yang berakibat terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan hidup.”

Bagi yang melanggar aturan ini diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

Meski begitu, pembakaran masih kerap dilakukan individu maupun korporasi sebagai cara untuk membuka lahan. Karena cara ini dianggap mudah, cepat, dan murah. Tapi, tentu kita sudah tahu betapa buruknya dampak membuka lahan dengan cara ini. Larangan pemerintah diabaikan, ancaman sanksi dan pidana seolah dianggap enteng. 

Padahal, pemerintah pun telah memberikan alternatif lain untuk pembukaan lahan, yaitu dengan PLTB atau Pembukaan Lahan Tanpa Bakar. Salah satunya yaitu dengan rekayasa bioteknologi melalui mikroba yang dikembangan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengurangi keasaman tanah agar cocok menjadi perkebunan.


Dampak Buruk Karhutla Bagi Manusia dan Alam

Udara adalah berkah. Tuhan memberikannya gratis kepada kita. Sayangnya, udara bersih sepertinya bukan hak mereka yang tinggal di daerah Sumatera dan Kalimantan, saat ini, khususnya yang terkena dampak kabut asap. Ini menyedihkan.



Saya mencoba melihat kualitas udara melalui aplikasi AirVisual di Palangkaraya pada tanggal 18 September 2019 pukul 23.00 menunjukkan angka 446 yang masuk dalam kategori bahaya. Sehari setelahnya, yaitu tanggal 19 September 2019 angkanya mencapai 1057! Di atas angka 300 saja sudah termasuk kategori bahaya. Apalagi di atas 1.000?

Sementara itu, di Jambi kualitas udaranya juga memprihatinkan. Tanggal 18 September 2019 pukul 8 malam, kualitas udara berada di angka 644! Tidak hanya di dua daerah itu, masih banyak daerah lainnya yang kualitas udaranya berbahaya. Bayangkan jika bayi dan anak-anak hidup dengan kualitas udara seburuk itu, bagaimana rasanya? Haruskah dibiarkan berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan?



Karhutla telah berlangsung cukup lama. Tidak heran ratusan ribu orang terkena ISPA akibat bencana ini. Dilansir dari Kompas.com (18/9/2019) BNPB dan Kementerian Kesehatan mengungkap bahwa ada lebih dari 140 ribu orang yang terkena ISPA akibat karhutla di Sumatera dan Kalimantan.
Olah gambar: Apriltupai.com

Tidak hanya membahayakan kesehatan, bagi lingkungan, karhutla juga menyumbang banyak dampak buruk. Beragam tumbuhan dan hewan terpaksa musnah. Cadangan air bisa menipis, karena hutan kehilangan kemampuan untuk menyimpan air. Potensi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor juga mengintai akibat erosi dan pendangkalan sungai akibat karhutla.
Olah gambar: Apriltupai.com


Upaya Pemerintah Mengatasi Karhutla 


Sumber: Twitter @BNPB_Indonesia


Pemerintah telah mengupayakan banyak hal untuk mengatasi karhutla. Melalui data terbaru yang dikeluarkan oleh BNPB per 19 September 2019, jumlah personil yang diturunkan sudah lebih dari 29 ribu personil yang terdiri dari gabungan BNPB, BPBD, TNI, POLRI, dan masyarakat untuk membantu memadamkan api di Sumatera dan Kalimantan.
Olah gambar: Apriltupai.com


Selain menurunkan ribuan personil, water bombing juga telah dilakukan, yakni dengan mengguyur lebih dari 250 juta liter air menggunakan 44 helikopter. Pemerintah juga mengupayakan hujan buatan dengan mencoba memodifikasi cuaca, menyegel 42 perusahaan yang terbukti membakar dan menetapkan 218 tersangka dan 5 korporasi. Untuk membantu korban, pemerintah juga mendirikan pos-pos kesehatan dan rumah oksigen serta menyiagakan puskesmas setempat.


Foto: BNPB.go.id

Pemerintah juga menekankan untuk melakukan pencegahan dari seluruh pihak, atau sinergi Pentahelix, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi. Karena tentunya sulit jika tanggung jawab ini dibebankan hanya pada satu pihak saja. Terutama para pelaku usaha. Mereka seharusnya bisa bertindak lebih bijak lagi dalam menjalankan bisnisnya. Menggunakan cara-cara yang lebih ramah lingkungan agar tidak menimbulkan bencana.

Selain kesadaran dari para pelaku usaha, yang menjadi ujung tombak adalah pemerintah daerah. Pemimpin daerah di setiap tingkatan, mulai dari kepala desa, lurah, camat, bupati, walikota, hingga gubernur seharusnya bisa lebih ketat dalam mengeluarkan izin lingkungan untuk membuka lahan dan melakukan pengawasan. Sehingga pencegahan lebih efektif, dan tidak ada praktik  ilegal pembakaran hutan lagi.

Selain pengawasan, hukum harus benar-benar ditegakkan. Para pelaku harus ditindak sesuai hukum yang berlaku dan menjalani sanksi yang telah diatur dalam peraturan agar ada efek jera.  Sehingga jangan sampai kejadian seperti ini terus menerus berulang lagi di kemudian hari.

 


Apa yang Bisa Kita Lakukan?


Sebagai masyarakat apa yang bisa kita lakukan? Untuk kamu yang berada di dekat lokasi dan terkena dampak kabut asap, lindungilah dirimu agar Siap Untuk Selamat. Gunakan masker, jaga asupan air putih yang cukup dan segera kunjungi pos kesehatan terdekat jika mulai mengalami gangguan pernapasan. Selengkapnya bisa kamu lihat di buku saku Tanggap, Tangkas, Tangguh Menghadapi Bencana yang dikeluarkan oleh BNPB pada tahun 2017 dan bisa kamu unduh di sini

Kita harus mengembangkan Budaya Sadar Bencana agar kita tahu bagaimana harus bertindak dan waspada dalam menghadapi bencana. Perlu adanya pengetahuan yang memadai tentang potensi bencana di sekitar dan bagaimana cara mengurangi risiko bencana. Kenali bahayanya, kurangi risikonya.

Untuk kamu yang berada jauh dari lokasi dan ingin memberikan bantuan, kamu bisa berkontribusi melalui pihak yang menggalang dana dan bantuan untuk korban karhutla, mulai dari pengiriman masker, oksigen dan upaya lain yang dilakukan. Kita bisa ikut memberikan bantuan melalui gerakan-gerakan tersebut. Pilihlah lembaga atau pihak yang memang terpercaya agar bantuan tersalurkan dengan tepat. Berikut ini beberapa pihak yang bisa kamu pilih untuk membantu korban Karhutla.


Kitabisa
Sumber: Kitabisa.com

Banyak orang yang menggunakan platform Kitabisa untuk menggalang dana. Akan tetapi atas nama Kitabisa sendiri, mereka juga membuka donasi yang akan digunakan untuk penyediaan posko kesehatan, masker dan tabung oksigen. 

Selengkapnya bisa dilihat di sinihttps://kitabisa.com/campaign/bisabebasasap.


Aksi Cepat Tanggap
Gambar: Facebook Aksi Cepat Tanggap

Aksi Cepat Tanggap juga membuka donasi untuk kamu yang ingin menolong mereka yang terkena bencana kabut asap. Kamu bisa menyalurkan donasi melalui rekening BNI Syariah 66 0000 4443 atas nama Aksi Cepat Tanggap atau bisa juga kunjungi link: bit.ly/actemergencyresponse.
Jika sudah berdonasi, konfirmasi di sini: https://act.id/donasi/konfirmasi


Dompet Dhuafa
Gambar: Instagram @dompet_dhuafa

Dompet Dhuafa telah melakukan Program Tebar Masker di beberapa titik keramaian, menyediakan Safe House yang terbuka untuk masyarakat yang membutuhkan asupan oksigen. Selain itu, Dompet Dhuafa juga membuka layanan donasi untuk korban kabut asap. 
Kamu bisa berdonasi melalui rekening:
BCA 237.304.7171
BSM 7.000.523.757
A.n Yayasan Dompet Dhuafa Republika

Selain ketiga lembaga itu, tentunya masih banyak lagi orang-orang yang bergerak untuk membantu. Sekecil apa pun kontribusimu, tentunya akan sangat berarti bagi mereka di sana. Bayangkan, bagaimana kalau kita yang ada di posisi mereka? Jika kamu tidak bisa berdonasi pun, bantulah dengan apa yang kamu bisa. Misalnya, dengan menulis di blog atau di media sosial tentang fakta yang terjadi di lapangan. 

Kamu juga bisa menyebarluaskan tentang bencana ini dengan berbagai cara. Supaya informasi tentang pembakaran ini tidak mereda dan berbagai pihak tetap sigap bertindak, karena api belum padam. Jika kamu tidak bisa juga melakukannya, cara paling mudah yang bisa kamu lakukan adalah: berdoa.

Manusia sangat bergantung pada alam, tapi alam tidak bergantung pada kita. Kita yang berutang banyak pada alam. Sementara alam punya mekanismenya tersendiri untuk bisa tetap hidup, tanpa manusia sebenarnya mereka bisa baik-baik saja. Hanya saja, untuk bisa bertahan hidup, manusia butuh untuk mengambil manfaat dari alam. Jika manusia ingin terus mendapatkan manfaat dari alam, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah menjaganya. Cara menjaga yang paling mudah adalah dengan tidak merusaknya.

Jika alam senantiasa lestari, yang diuntungkan manusia juga, kan? Semua upaya menjaga alam pada akhirnya untuk memberikan dunia yang baik untuk kehidupan generasi-generasi selanjutnya.

Sudah saatnya semua pihak, terutama pemerintah meningkatkan pengawasan mengenai hal ini. Jika ada indikasi titik api, harus segera diketahui dan segera dipadamkan sehingga tidak langsung menyebar hingga ke banyak titik. Karena lahan gambut pada musim kemarau akan sangat kering dan sangat mudah terbakar, sehingga jika ada api akan sulit dipadamkan.

Akan tetapi, haruskah kita hanya pasrah menunggu turunnya hujan lebat sebagai harapan untuk mematikan api? Semoga ke depannya tidak perlu ada lagi kejadian-kejadian seperti ini. Di mana manusia menjadi ancaman utama yang menciptakan bencana untuk manusia lainnya dan alamnya sendiri. 

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu...

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa...


#BudayaSadarBencana
#KenaliBahaya
#SiapkanStrategi
#SiapUntukSelamat
#KitaJagaAlam
#AlamJagaKita


Sumber referensi:

Senin, 09 September 2019

Potensi Chatbot dan Masa Depan Customer Service Berbasis Manusia

September 09, 2019 0
Gambar oleh Peggy und Marco Lachmann-Anke dari Pixabay 

Kamu punya bisnis? Semakin canggihnya zaman, persaingan bisnis pun semakin ketat. Kecepatan pun menjadi tuntutan utama. Apa pun jenis bisnis yang kamu jalankan, garda depannya adalah mereka yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Sebagus apa pun produk yang kamu punya, akan sia-sia jika pelanggan disepelekan. Loyalitas pelanggan adalah hal yang sulit diraih, apalagi dipertahankan.

Di masa seperti sekarang ini, bisnis yang sejenis dengan usaha kamu tentu tidak sedikit. Pelanggan bisa dengan mudah pindah ke lain hati jika merasa tidak puas, atau sesederhana tidak dilayani dengan baik. Karena itu, peran Customer Service menjadi penting untuk membantu kamu membangun kepercayaan pelanggan dan menjaga reputasi. Mereka jugalah yang menentukan apakah pelanggan kamu akan kembali lagi berkali-kali atau malah lari.
Dimensional Research, sebuah perusahaan market research di Amerika Serikat pada tahun 2013 membuat laporan yang berjudul Customer Service and Business Results: A Survey of Customer Service from Mid-size Companies. Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa 52% pelanggan berhenti membeli sebuah produk setelah mengalami pelayanan yang buruk. Penelitian ini melibatkan 1046 partisipan yang pernah berinteraksi dengan Customer Service, dan ketika mereka mendapatkan pengalaman buruk, 95% dari mereka membagikannya kepada orang lain. Jadi, bisa dibayangkan bukan, betapa berita negatif bisa lebih cepat menyebar dan membuat reputasi bisnis Anda hancur dalam waktu singkat.
Fakta lainnya adalah, 88% dari mereka mengatakan bahwa keputusan untuk membeli sebuah produk terpengaruh oleh ulasan online mengenai pelayanan pelanggan. Kalau memang pelayanan baik tentu berdampak baik. Sayangnya, orang jarang sekali mengulas pelayanan baik yang mereka terima.

Seringnya, orang-orang yang tidak puaslah yang pastinya membuat ulasan yang berisi protes atau komplain mereka. Ini yang harus dicegah, atau jika tidak mungkin paling tidak diminimalkan. Lantas apa indikator yang dapat dikategorikan pelayanan yang baik? masih dari survey tersebut, dilaporkan bahwa kecepatan penyelesaian masalah adalah faktor utama yang menentukan bahwa pelayanan Customer Service terbilang baik.
Hanya saja, bagaimana mengupayakan kecepatan pelayanan yang menjadi tuntutan, sementara kapasitas manusia memiliki keterbatasan untuk menghadapi banyak pelanggan dengan segudang pertanyaan dan keluhan? Manusia juga tentu tidak bekerja 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, bukan? Mereka perlu istirahat pastinya. Sementara bagaimana nasib para pelanggan yang butuh bantuan layanan di luar jam dan hari kerja? Serahkan saja pada chatbot! Chatbot merupakan layanan percakapan yang sistem pengoperasiannya diprogram menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).


Keuntungan Menggunakan Chatbot

Chatbot dapat membantu dan mendukung kamu untuk melakukan otomatisasi layanan Customer Service. Apa saja keuntungannya menggunakan chatbot untuk perkembangan bisnis kamu? Seperti dilansir dari website resmi Botika, sebuah perusahaan penyedia layanan chatbot asal Yogyakarta ini 5 keuntungan menggunakan chatbot yang bisa didapatkan jika menggunakan chatbot sebagai penunjang kegiatan bisnis:


1. Customer Service tersedia 24 jam dan 7 hari dalam seminggu


Setiap pelanggan punya karakter berbeda-beda. Ada saja yang membutuhkan informasi dari bisnis kamu di malam hari atau di hari libur. Banyak dari mereka yang tentunya tidak sabaran menunggu Customer Service kamu menjawab pertanyaan mereka di hari kerja. Karena itu, peran chatbot sangatlah penting. Paling tidak, pelanggan kamu mendapatkan respon atau jawaban, sehingga mereka tidak merasa digantung atau dikacangin. Dengan selalu merespon setiap pertanyaan pelanggan tentunya akan membantu kamu untuk menjaga hubungan, baik dengan pelanggan baru atau lama.


2. Chatbot menangani pelanggan dengan baik dan cepat

Apa keuntungan chatbot dibanding Customer Service berbasis manusia? Selain mereka dapat tersedia kapan pun dan menjawab dengan cepat, ya tentu saja tidak punya emosi. Serewel apa pun pelanggan, mereka tak akan kehilangan kesabaran menghadapinya. Semenyebalkan apa pun pelanggan, mereka tidak akan mengabaikannya dan tetap merespon sebagaimana mestinya.

3. Menghemat biaya operasional bisnis

Chatbot dapat meladeni banyak pelanggan sekaligus tanpa membuat mereka harus menunggu waktu lama untuk mendapat jawabannya. Sehingga sebagai pemilik bisnis kamu tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak biaya operasional, dalam hal ini biaya belanja pegawai. Kamu bisa menghemat pengeluaran untuk gaji karyawan, karena kamu tidak lagi memerlukan penambahan banyak karyawan hanya untuk sebatas melayani pertanyaan dan keluhan pelanggan.

4. Memberikan kepuasan maksimal kepada pelanggan

Pelayanan yang cepat dan tersedia kapan saja ketika dibutuhkan tentu akan meningkatkan kepuasan pelanggan. Pelanggan tidak perlu menunggu waktu lama mendapat balasan chat dari penjual, karena balasan bisa langsung didapat saat itu juga.


5. Pekerjaan yang berulang dapat diotomatisasi

Pada saat awal pembelian, biasanya chat pelanggan cenderung sama dan seragam. Tentu melelahkan jika harus menjawabnya satu per satu, dengan jawaban yang mirip-mirip. Apalagi jika sudah banyak tanya, ternyata pelanggannya tidak jadi beli juga, pasti kesel, kan? Kalau pakai chatbot kita nggak perlu capek-capek begitu, karena pekerjaan berulang ini bisa diotomatisasi. 

Dengan keuntungan di atas, bisnis kamu akan berkembang lebih optimal. Penghematan biaya operasional juga tentunya menguntungkan bisnis kamu, karena kamu bisa mengalokasikan budget usaha atau bisnis kamu untuk bagian lain yang membutuhkan dana lebih, seperti promosi dan pemasaran, misalnya.

Masa Depan Customer Service Berbasis Manusia

Kehadiran chatbot memang bisa membuat biaya pengeluaran untuk belanja karyawan menjadi lebih efisien. Akan tetapi, mungkin akan muncul pertanyaan baru, apakah peran manusia sebagai Customer Service akan tergusur? Manusia yang berperan sebagai customer service akan tetap dibutuhkan, karena kehadiran chatbot bukan berarti menggantikan posisi manusia, tapi justru mempermudah pekerjaannya. Lantas, bagaimana masa depan dari Customer Service berbasis manusia dengan adanya chatbot?

1. Beban kerja dan tingkat stres Customer Service berkurang

Tahukah kamu bahwa pekerjaan menjadi Customer Service adalah salah satu pekerjaan yang berpotensi besar membuat stres? Di tahun 2017, Robert Half International, sebuah perusahaan konsultasi Sumber Daya Manusia yang berpusat di California, membuat survei mengenai pekerjaan yang paling membuat stres dengan melibatkan lebih dari 12.000 partisipan yang merupakan pekerja di Amerika Serikat dan Kanada.

Hasilnya, posisi pekerja di bagian Customer Service atau pelayanan pelanggan termasuk dalam daftar 8 pekerjaan yang tingkat stresnya paling tinggi. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, beban kerja yang banyak, belum lagi jika harus berhadapan dengan komplain yang tak berhenti, ditambah gaji yang tidak seberapa serta jam kerja yang tidak kenal waktu dan hari libur tentu menjadi faktor-faktor yang membuat Customer Service berpotensi mengalami stres.
Dengan adanya chatbot, beban kerja mereka akan berkurang. Mereka tidak perlu menangani semua masalah atau pertanyaan berulang yang tentunya bisa terselesaikan dengan mudah dengan adanya chatbot. Mereka hanya perlu menyelesaikan masalah yang butuh penanganan lebih lanjut oleh manusia.

2. Energi dan waktu Customer Service dapat teralokasikan lebih efektif dan efisien

Semakin hari orang semakin sering dan mudah protes. Terkadang, untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting dan pertanyaan yang diajukan pun banyak yang berulang dan itu-itu saja. Komplain-komplain sederhana ini tentunya serahkan saja kepada chatbot, sehingga customer service manusia dapat fokus untuk masalah yang penting dan genting saja, yang memang tidak bisa diselesaikan oleh chatbot.

3. Kreativitas dalam memecahkan masalah dan kemampuan komunikasi Customer Service dapat meningkat


Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay 
Creative Intelligence dan Social Intelligence yang dimiliki manusia adalah hal yang tidak bisa diotomatisasi sehingga nyaris mustahil tergantikan. Chatbot memang mahir bercakap-cakap dengan pelanggan karena telah tersusun berdasarkan kumpulan data. Akan tetapi untuk pemecahan masalah yang membutuhkan kemampuan komunikasi manusia, empati dan kreativitas atau, tetaplah penting.
Dengan menangani permasalahan yang sudah tersaring (tidak berkutat pada persoalan kecil saja) maka kreativitas dan kemampuan komunikasi Customer Service akan meningkat. Tentunya ini bisa melatih mereka menjadi SDM yang lebih unggul.


Botika, Penyedia Layanan Chatbot untuk Semua Jenis Bisnis

Di masa depan, dunia bisnis akan semakin membutuhkan chatbot. Teknologi ini akan sangat membantu kemudahan menjalankan bisnis. Jika kini kamu merasa butuh menggunakan chatbot, salah satu perusahaan penyedia layanan chatbot yang bisa kamu pilih adalah Botika. Mengapa Botika?


Botika telah diulas oleh media-media terpercaya



Salah satu cara untuk mengetahui kredibilitas sebuah startup adalah dengan menelusuri beritanya di internet. Jika telah diulas oleh media-media yang kredibel, tentu menjadi nilai lebih. Botika telah diulas oleh dua media besar yang fokus memberitakan tentang startup yaitu Daily Social dan Tech In Asia Indonesia.

Botika telah menangani klien-klien besar


Selain diulas oleh media besar, Botika juga telah dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar. Berdiri tahun 2016, startup yang berasal dari Yogyakarta dan didirikan oleh Ditto Anindita, Galuh Koco Sadewo, Vita Subiyakti serta Prima Yoga Kharisma ini telah menangani kebutuhan chatbot untuk klien-klien besar, seperti XL, Sampoerna, Bank Bukopin, Aqua, dan Angkasa Pura II. Jadi, nggak perlu diragukan lagi kualitasnya.

Tapi tenang aja, kalau bisnis kamu belum sebesar mereka pun tetap bisa pakai layanan chatbot Botika. Karena salah satu produk yang mereka tawarkan adalah Chatbotika Commerce, yang tidak hanya bisa digunakan untuk komunikasi dengan pelanggan tapi juga melayani pemesanan barang. Layanan ini cocok untuk kamu yang punya online shop atau UKM. Kamu bisa lihat produk-produk lainnya dari Botika di sini. Botika bisa menjadi solusi untuk kamu yang sangat memerlukan asisten virtual untuk menjawab chat pelanggan.
Yuk, buat bisnis kamu semakin canggih dan tumbuh semakin pesat pakai Botika!

Kamu bisa menghubungi mereka melalui form kontak yang ada di website mereka:
Contact Botika
Atau melalui media sosial mereka:
Instagram: @botikaonline
Twitter: @BotikaOnline
Facebook: Botika
LinkedIn: Botika



Tim Botika. Sumber: Botika

Sumber referensi: