Sabtu, 11 Mei 2019

Mengatasi Keterlambatan Bicara pada Anak di Atas Umur Dua Tahun dengan Terapi Sensori Integrasi

Mei 11, 2019


Terapi sensori integrasi dapat membantu anak-anak yang terlambat bicara.

Menginjak dua tahun, Arina belum bisa mengucap banyak kata. Kata yang keluar tidak lebih dari 10 kata. Bahkan, merangkai kalimat dengan dua kata pun ia tak bisa. Timbul rasa khawatir bahwa ia mengalami keterlambatan bicara.

Jika melihat artikel berjudul Keterlambatan Bicara yang ditulis oleh Amanda Soebadi dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM di website Ikatan Dokter Anak Indonesia atau Idai.or.id Arina mengalami perkembangan yang cukup normal sampai usia 1 tahun. Hanya saja, menjelang usia 18 bulan, tidak ada perkembangan dari kata-kata baru yang diucapkannya.
Infografis: Aprillia Ramadhina


Namun, saya mencoba terus bersabar dan terus melatihnya. Tapi, sampai usia dua tahun empat bulan, karena tak ada perkembangan yang signifikan, saya dan suami memutuskan untuk memeriksakannya ke klinik tumbuh kembang.

Setelah konsultasi dengan dokter, dan dites beberapa hal, Arina dirujuk untuk assessment dan terapi sensori integrasi. Dokter bilang, memang sedikit ada keterlambatan, tapi belum terlalu parah. Meski begitu, tetap harus segera diatasi, agar keterlambatannya tidak bertambah parah.

Infografis: Aprillia Ramadhina


Dokter di klinik tumbuh kembangnya menyarankan Arina untuk:
1. Terapi Sensori Integrasi di klinik
2. Terapi Sensori Integrasi di rumah
3. Ikut kegiatan atau kelas nursery.
4. Dimasukkan ke daycare (supaya sering bermain dengan teman sebaya)

Setelah konsultasi ke dokter, Arina pun menjalani assessment. Saya harus mengisi sejumlah informasi mengenai perkembangannya. Dimulai dari riwayat kehamilan saya, hingga kemampuan apa yang sudah ia bisa. Terapisnya juga menanyakan banyak hal, termasuk apakah sebelumnya Arina pernah mengalami keterlambatan atau tidak. Tidak. Tumbuh kembang Arina awalnya baik-baik saja. Ia tumbuh sebagaimana mestinya. Dari mulai tengkurap, duduk, merangkak dan berjalan, semua ia capai di usia yang wajar.

Mengapa Terapi Sensori Integrasi dan Bukan Terapi Wicara?

Telat bicara, kok terapinya sensori integrasi? Awalnya saya juga tidak begitu paham, sampai terapisnya Arina menjelaskan mengenai piramida Central Nervous System. Bisa dilihat pada foto berikut.


Sensori terletak pada bagian dasar piramida tersebut, sementara kemampuan bicara atau auditory languange skill ada di bagian atas (perceptual motor). Itu artinya, untuk bisa berada di tahap bicara yang baik, maka level-level di bagian dasar piramida itu harus bisa dilewati dengan baik.

Input sensorik sendiri berkaitan dengan apa yang kita lihat, dengar, raba, kecap, cium, dan rasakan dari sekitar kita dan dari badan kita sendiri. Bagaimana kita mengolah input tersebut, menentukan perilaku yang dipilih untuk memahami diri sendiri, lingkungan dan sekitarnya, serta bagaimana berinteraksi dengan lingkungan tersebut.

Itulah mengapa terapi yang harus dijalani Arina bukanlah terapi wicara melainkan terapi sensori integrasi. Singkatnya, untuk mencapai tahap kemampuan bicara, harus punya kemampuan sensori yang baik terlebih dulu. Lagipula, terapi wicara baru bisa dilakukan untuk anak yang sudah bisa duduk tenang. Ditambah, Arina perhatiannya sulit terfokus, karena itu, penting untuk memaksimalkan kemampuan sensoriknya, agar nantinya lebih mudah belajar bicara.

Setelah diberi Home Program atau terapi sensori integrasi yang harus dilakukan di rumah, terapisnya bilang begini;

“Bu, satu hal yang harus diingat. Mau terapi berapa kali juga, itu akan percuma, kalau di rumah juga nggak sering dilatih. Karena biar bagaimana pun juga, yang paling penting itu latihan di rumah.”

Walaupun saya tahu itu, saya cukup tertohok. Saya merasa ternyata selama ini kurang memperhatikan Arina. Kurang rajin melatihnya, kurang telaten mengajarinya. Dan lebih dari itu, mungkin juga kurang sering mengajaknya bicara. Baru dua tahun usianya, sudah banyak kesalahan yang saya buat.

Iya, saya lalai. Dari kelalaian itu, Arina yang harus terima imbasnya. Sungguh tidak adil, ya. Dia tidak minta dilahirkan ke dunia, tapi mengapa orangtuanya tidak mengurusnya dengan tepat. Sekarang yang bisa saya lakukan adalah berupaya untuk membantunya terapi, baik di tempat terapi, di rumah, dan melibatkannya pada kegiatan-kegiatan anak seusianya.


Memulai Terapi Sensori Integrasi di Rumah


Ini yang saya lakukan untuk terapi Arina di rumah berdasarkan rujukan Home Program yang ditentukan oleh terapisnya.

Terapi awal sensori integrasi Arina di rumah:
1. Main pasir
2. Memasang puzzle
3. Berjalan di tempat sempit atau pinggir trotoar
4. Bermain tepung pakai air
5. Mengelem
6. Berdiri di atas bangku sambil melempar bola
7. Mengelompokkan bola-bola dalam satu warna
8. Memakai dan melepas pakaian sendiri
9. Bermain ayunan
10. Melompat di tempat

Ini kegiatan yang dilakukan selama dua minggu. Ke depannya tentu akan lebih banyak lagi variasi latihan yang harus Arina lakukan. 

Semua latihan ditujukan agar Arina bisa belajar seimbang, tidak lagi gampang merasa jijik dengan yang lengket-lengket dan bisa lebih aware dengan diri sendiri dan sekitar. Lambat laun, ketika kemampuan-kemampuan dasar ini berkembang, otak Arina akan lebih mudah memproses informasi yang berkaitan dengan bahasa.

Infografis: Aprillia Ramadhina


Meningkatkan Kemampuan Bicara pada Anak Melalui Kelas Nursery

Selain terapi di klinik dan di rumah, dokter juga menyarankan memasukkan Arina ke daycare atau kelas nursery supaya sering bermain dengan teman sebaya. Kelas nursery merupakan salah satu bagian awal dari pendidikan anak usia dini di luar rumah.

Manfaat yang didapatkan anak jika mengikuti kelas nursery:


1. Membantu kesiapan anak untuk sekolah 
Anak-anak bergaul dengan anak-anak lain, sehingga akan lebih siap jika nanti akan sekolah. Mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar, memiliki keterampilan sosial yang besar dan merasa aman di lingkungan yang berbeda.

Selain itu, kelas nursery juga dapat membantu anak lebih mandiri, seperti mencuci tangan, merapikan mainan, dan bermain bergantian dengan anak lain. Mereka akan lebih tahu tentang bagaimana seharusnya berperilaku. 

2. Meningkatkan kepercayaan diri
Dengan bermain bersama anak-anak lain, maka mereka akan lebih percaya diri dan tetap aktif. Karena itu, penting untuk memberikannya kegiatan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Anak-anak juga akan lebih bersemangat dan bergembira jika bermain bersama teman-teman sebaya. 


Kelas Pre-nursery dan Kelas Nursery di Apple Tree Pre-School BSD

Sumber: https://www.appletreebsd.com/

Saya pun mencari tahu di mana kelas-kelas nursery diadakan dan menemukan Apple Tree Pre-School BSD. Bahkan selain kelas nursery untuk anak umur 3 - 4 tahun, juga ada kelas pre-nursery untuk anak usia 2-3 tahun.

Kelas pre-nursery ini melatih transisi anak-anak yang biasa di rumah dengan sekolah. Jadi, membantu Anda agar lebih siap memasuki masa sekolah. Sementara di kelas nursery, pengetahuan dan keterampilan sosial anak-anak semakin dikembangkan. Aspek-aspek pembelajaran semakin ditekankan di sini. 

Sepertinya, ke depannya untuk membantu Arina semakin lancar bicara, saya berniat memasukkannya ke kelas nursery. Tentunya, Apple Tree Pre-School BSD bisa menjadi pilihan. Karena, rumah saya yang di Tangerang, tidak terlalu jauh dari lokasi Apple Tree Pre-School di BSD.
Sumber gambar: https://www.appletreebsd.com/. Infografis: Aprillia Ramadhina

Selain itu, ada banyak keunggulan lainnya yang ada di Apple Tree Pre-School BSD, yatu kurikulumnya yang mengadopsi kurikulum di Singapura, bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris dan Mandarin, serta tersedia kelas untuk beragam usia, mulai dari 1,5 tahun hingga 6 tahun (pilihan kelas yang ada dapat dilihat di sini). Kualitasnya tentu tak perlu diragukan lagi, karena sudah ada lebih dari 20 sekolah Apple Tree Pre-School yang tersebar di Indonesia.

Saya tertarik dengan slogan Apple Tree Pre-School BSD yang berbunyi "Tree of Knowledge, Wisdom and Growth". Itu menandakan bahwa di sana, bukan hanya fokus pada pertumbuhan dan pengetahuan saja yang ditanamkan, tapi juga kebijaksanaan. Ini menjadi penting, mengingat makin hari kita semakin sering menemui orang yang sukses dan pintar, tapi sayangnya kurang bijaksana.


Harapan Itu, Hanya Melihat Arina Tumbuh dan Berkembang Sebagaimana Mestinya


Ketika menjadi ibu, kebahagiaan saya tidak pernah muluk terhadap Arina. Saya hanya ingin dia tumbuh sehat, bahagia, dan sebagaimana mestinya. Karena itu, jika dia terlambat bicara begini, saya sedih. Tapi, yang perlu disedihkan bukan kemampuannya yang minim. Tapi saya sedih, mengapa tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk dia.

Tampaknya, bukan Arina saja yang perlu latihan dan terapi. Saya, ibunya juga harus terus belajar. Belajar bagaimana menumbuh kembangkan Arina dengan baik. Karena semua yang ia dapat sejak kecil, adalah bekal yang akan dia bawa kelak sampai ia sewasa. Pendidikan anak usia dini adalah dasar, yang membantunya membangun fondasi dari karakternya nanti di masa depan.

Menjadi ibu, adalah peran yang harus dilakoni seumur hidup. Tanggung jawabnya adalah anak. Bagaimana ia bisa hidup dengan baik dan layak sampai ia bisa memegang kendali atas hidupnya sendiri. Menjadi orangtua tidak ada sekolahnya. Mempelajari ilmu dari orangtua kita terdahulu juga terkadang sudah tidak relevan.

Untuk memberikan pendidikan pada anak usia dini, tidak hanya ibu yang harus terlibat, tapi juga para ayah, dan keluarga atau pengasuh di rumah. Karena secanggih apa pun pendidikan yang ia dapat di luar, jika di rumah juga tidak belajar apa-apa, akan percuma. 

Peran keluarga dalam pendidikan anak usia dini sangatlah penting. Semua itu bergantung pada orangtuanya, mau terus belajar atau tidak untuk melatih anaknya. Karena menjadi orangtua, berarti menjadi pembelajar yang harus terus melatih diri untuk menjadi pendidik utama anak-anaknya. 
#appletreebsd


Jumat, 26 April 2019

Teruntuk Harapan-Harapan yang Tak Pernah Menjadi Kenyataan

April 26, 2019



Katanya, kunci untuk tidak terlalu banyak kecewa, adalah jangan terlalu tinggi berharap. Atau kalau tidak mau kecewa, tidak usah berharap sekalian. Padahal, harapan itu, kadang walau tidak kita inginkan, sudah tumbuh duluan.

Kadang, kita nggak bisa mengukurnya seberapa tinggi, nggak bisa mencegahnya berkembang seberapa besar. Ingin berusaha melenyapkan dan meniadakannya pun sulit. Semakin berusaha mencegahnya ada, justru ia hidup dengan sendirinya. Tak dirawat dan tanpa kesengajaan.

Tiga puluh tahun usia saya. Saya sudah akrab dengan banyak harapan-harapan yang gugur. Berapa kali berhadapan dengan pintu yang tertutup, menghadapi penolakan-penolakan dan kekalahan-kekalahan. Menggenggam peluang-peluang yang terhempas. Membuang banyak waktu untuk kesia-siaan.

Nyatanya, memang ada yang sia-sia di dunia ini, juga ada hal-hal yang mustahil di semesta ini. Mereka yang bilang bahwa tak ada yang mustahil selagi mau berusaha dengan gigih, mungkin sesederhana mereka belum menemukan kemustahilan itu saja. Atau mencoba mengubah sudut pandang. Menutup mata terhadap yang tidak mungkin dan langsung mengalihkan diri kepada yang memang jelas-jelas mungkin.

Kekalahan tidak selalu kemenangan yang tertunda. Kekalahan, kan memang kemenangan yang tidak kejadian. Menyebutnya sebagai kemenangan tertunda hanya bisa menjadi bentuk penghiburan diri semata. Karena kalau pun kemenangan itu terjadi di masa depan, kemenangan itu untuk suatu yang berbeda, bukan menang dari apa yang dulu pernah kita harapkan, kan?

Akui saja bahwa kita pernah kalah, atau sering kalah di beberapa arena. Tapi, mungkin kita memang bisa menang di arena yang lain; di pertarungan dan pertempuran yang lain.

Teruntuk harapan-harapan saya yang tidak pernah menjadi kenyataan, semua pintu yang pernah tertutup untuk saya, semua kesempatan yang dengan terpaksa dilewatkan, terima kasih banyak telah membentuk menjadi saya yang sekarang.

Terima kasih untuk semua kemustahilan dan kesia-siaan yang pernah datang. Semua itu mengajarkan saya bahwa hidup, tidak melulu berisi hal yang baik-baik saja, kan? Tapi bukan berarti kita menutup mata terhadap hal-hal baik yang terberikan untuk kita.

Semua kepahitan itu membuat saya bisa lebih meresapi yang manis-manis di hidup saya. Menghargai hal-hal sederhana dan mensyukuri hal-hal kecil, tak melulu membanggakan pencapaian-pencapaian besar.

Tak apa jika ingin menyerah sekarang. Masih ada besok untuk bangkit. Tak apa jika ingin menepi hari ini. Masih ada esok untuk berlari. Tak apa lelah dan kalah kini. Nanti berjuang lagi dengan semangat berapi-api dan penuh berani; tentunya dengan amunisi yang lebih mumpuni.





Minggu, 24 Maret 2019

Hijrah dari Wartawan: Career Pivot

Maret 24, 2019


Sebenarnya, agak berat melepas profesi yang begitu membuat saya nyaman. Tapi, hidup terkadang hanya perihal menggenggam dan melepaskan. Karena, nyaman belum tentu aman. Selama jadi wartawan, saya merasakan dua kali perusahaan media tempat saya bekerja tutup. Sudah jadi rahasia umum, jangan kerja di media kalau tujuannya mau kaya.

Kemudian saya berpikir, sampai kapan saya akan menggeluti profesi ini. Saya senang menulis. Tapi, tentu saya tahu betul, bahwa menjadikan menulis sebagai sebuah pekerjaan, tidak lantas hanya harus jadi wartawan saja. Ada banyak peluang lainnya, toh saya udah ngerasain sendiri, di mana saya dibayar sebagai blogger, sebagai orang yang nulis press release, sebagai pengisi konten di website perusahaan-perusahaan, penulis buku. Jadi ada banyak saluran menghasilkan uang dari menulis, nggak mesti jadi wartawan.

Career Pivot

Karena itulah saya hijrah. Sekarang saya jadi Digital Content Strategist di sebuah startup. Ini challenging banget menurut saya. Karena selama kerja dari tahun 2011, saya nggak pernah jadi anak Marketing. Sekarang, divisi itulah tempat saya berada. Biarpun saya juga udah berkecimpung dari tahun 2013 di media online, tapi tetap aja dunia digital itu nggak saya paham-paham banget.

Saya tahunya cuma liputan, nulis, ngedit, tayangin tulisan, udah. Selebihnya bukan bagian saya. Tapi namanya manusia, ya kalau mau naik kelas, harus ada keterampilan baru yang dipunya. Walaupun sekarang kerjanya di startup, karena perkembangannya lumayan bagus, startup ini punya empat lini bisnis. Jadi, ya lumayan banget, kan kerjanya. Hahaha. 

Ada yang bilang, “Karir itu tumbuhnya ke atas, bukan ke samping”. Bodo amat. Emang kenapa kalau karier saya bukan meninggi tapi melebar? Di usia 29 tahun, saya mulai semuanya dari nol lagi. Menggarap tulisan yang mungkin nggak keren di mata banyak orang. Nulis tentang laundry. Tapi, yang mungkin juga nggak banyak orang tahu. Yang kami kerjakan di startup ini adalah bagian dari misi merevolusi industri laundry.

Industri yang dianggap banyak orang nggak keren. Industri yang nggak seksi. Yang isinya orang-orang gaptek. Tapi, kami semua percaya. Bahwa bukan hal yang mustahil membantu mereka “naik kelas” dengan bantuan teknologi.

Bertumbuh dan Bertansformasi

Sumber gambar: Instagram @motivated.mindset


Orang yang pernah lihat CV saya pernah bilang, "Kamu ini berubah-ubah ya. Ini multi talent apa emang bingung?" dengan nada yang agak ngerendahin. Padahal andai dia paham kalau saya begitu karena memang saya memilih untuk pivot. Untuk menyesuaikan apa yang saya bisa dengan perkembangan zaman. Bahwa saya menolak untuk "gitu-gitu aja". Berpindahnya saya adalah untuk bertumbuh. Lagipula apa yang salah dengan menjadi orang yang bingung? Memangnya kenapa jadi orang yang berjalan tanpa tahu arah?

Saya hijrah dari wartawan karena saya tahu, kalau mau di jalur ini terus, paling nggak ke depannya harus kayak Najwa Shihab atau Andy Noya. Tapi nyatanya saya nggak kepikiran mau ke arah sana. Itulah mengapa, 7 tahun saya on-off dari dunia media, saya rasa cukup untuk saat ini saya memulai menjelajah ke ranah yang lain. Walau saya nggak tahu sampai kapan. Tapi, yang saya tahu pasti, semua yang saya kerjakan punya satu benang merah; menulis.




Senin, 31 Desember 2018

2018, Tahun (Kembali) Ngantoran yang Luar Biasa!

Desember 31, 2018


Jadi, waktu akhir 2017, saya nulis salah satu resolusi saya di tahun 2018 adalah ngantor lagi. Biar lebih stabil, biar nggak sering-seringlah ngandelin hadiah lomba atau kompetisi hahaha. Dan, itu terkabul. Bahkan di saat usia saya pas menginjak 29 tahun. Saya bekerja di sebuah media lagi. Walau, pada akhirnya saya tidak terlalu lama di sana. Tepat 5 bulan saya bekerja, saya mengajukan resign.

Saat itu, keadaan tampak tidak memungkinkan untuk saya bekerja di tempat yang jauh dari rumah, sementara saya juga masih menyusui. Iya, saya nggak sefleksibel waktu masih single. Bisa ngekos di mana-mana. Dan entah kenapa, Arina juga jadi sering sakit sejak saya kerja lagi. Kerja jauh dari rumah juga membuat energi saya habis di perjalanan. Pulang larut, pagi-paginya harus berangkat lagi.

Waktu saya sama Arina jadi sangat minim. Bahkan, pernah saya benar-benar sampai di rumah jam 12 malam karena ada acara yang harus diliput. Pernah juga saat ada acara kantor di mana peran saya cukup penting, saya terpaksa meninggalkan Arina yang kebetulan juga sedang sakit. 

Tanggung jawab saya berbenturan saat itu. Tapi, mau tidak mau saya harus tuntaskan pekerjaan saya, karena acara tersebut, berhubungan dengan banyak orang di luar kantor. Saat persiapan acaranya pun, beberapa kali saya harus pulang larut malam dari kantor. Saat itu, kehidupan saya nggak seimbang, sehingga saya harus memilih.

Akhirnya, setelah acara tersebut selesai, saya memilih mengundurkan diri. Cukup nekat memang, saya belum punya kerjaan baru lagi. Tapi, saat itu seperti momentum aja buat saya. Saya mau kembali ke rumah lagi, walau saya tahu itu untuk sementara. Sampai keadaan membaik, sampai saya merasa bisa menyeimbangkan diri lagi.

Setelah resign, saya sempat merasa insecure. Mungkin itu disebabkan karena yang tadinya punya rutinitas ke kantor, jadi nggak ada. Yang tadinya terima gaji bulanan, jadi nggak terima. Bahkan saya sempat merasakan penolakan yang cukup membuat saya kecewa karena saya nggak diterima kerja di tempat yang menurut saya, "Gue banget!". Saya coba ikhlas, walau cukup berat. Karena itu kerjaan semacam dream job saya, sesuai sama passion saya. Tapi, yaudahlah ya, kalau kita nggak dapetin sesuatu, intinya emang sesuatu itu ya bukan untuk kita.

Akhirnya, setelah dua bulan di rumah dan keadaan di rumah mulai membaik, dalam artian Arina udah nggak sering sakit lagi. Saya pun diterima bekerja di sebuah startup. Mungkin memang agak sedikit jauh dengan latar belakang saya yang bekerja selalu di media. Tapi, kantornya deket banget! Cuma sekitar 10 – 15 menitlah naik ojek online. Dengan ongkos cuma sekitar 10 ribu sekali jalan.

Mungkin agak kurang klop ya udah usia nyaris 30 tahun gini kerja di startup yang bisa jadi nggak settle. Ya namanya juga startup, struggling terus dong ya. Tapi, lumayan sih startup tempat saya bekerja ini masuk daftar 44 calon unicorn menurut Kominfo. Jadi, ada harapan besar di depan sana. Dan, udah ada contohnya kan, suksesnya Traveloka, Gojek, Bukalapak, Tokopedia, mereka juga sebelumnya nggak sebesar sekarang.

Pas saya masuk kerja pun, sering banget saya lihat HRD wawancara calon karyawan baru. Dan setelah saya kerja pun, dalam waktu beberapa hari, ada sekitar 5 karyawan baru yang diterima. Berarti, biarpun startup, perkembangannya ada banget. Terbukti dari adanya perekrutan karyawan-karyawan baru.

Intinya, resolusi 2017 saya terkabul untuk kerja kantoran lagi di 2018. Bahkan nggak tanggung-tanggung, nyicipin 2 kantor sekaligus. Pencapaian luar biasanya mungkin nggak ada yang gimana-gimana ya. Tapi beradaptasi dari yang tadinya hampir 2 tahun di rumah dan kerja freelance kemudian menyesuaikan untuk ngantoran lagi, itu udah salah satu pencapaian tersendiri sih bagi saya.

Oh, ya satu lagi resolusi yang tercapai adalah blog saya sekarang jadi TLD (Top Level Domain), jadi nggak ada embel-embel blogspot.com nya lagi, hehehe. Evaluasi 2018 nya gitu aja kali, ya. Tahun depan resolusinya kayaknya bakal agak serius, lebih spesifik dan detail. Bahkan mungkin perlu saya bagi per kategori, dari resolusi di kerjaan, personal, dan keluarga.

Intinya saya mau hidup saya tahun 2019 lebih teratur dan lebih rapi. Lebih punya tujuan dan rencana. Jadi, belajar untuk hidup nggak ngalir-ngalir aja kayak sebelum-sebelumnya. Karena kadang kalau cuma ngalir-ngalir aja, malah jadi ngambang nggak jelas. Iyalah, 2019 itu saya udah 30 tahun, udah ogah berkubang dalam ketidakjelasan, hehehe.


Minggu, 30 Desember 2018

7 Cara #CerdasDenganUangmu Agar Berhenti Jadi Generasi Sandwich

Desember 30, 2018



Tahu, kan apa itu generasi sandwich? Dalam artian sederhananya, generasi sandwich merupakan sebutan untuk orang-orang yang terhimpit dengan tanggung jawab (finansial) dalam mengurus anak dan orangtua. Biasanya generasi sandwich memiliki anak-anak yang masih kecil (di bawah 18 tahun) yang tentunya belum mandiri secara finansial, dan orangtua yang juga bergantung padanya, karena tidak punya penghasilan atau dana pensiun.

Saya, termasuk dalam generasi yang terhimpit itu. Apakah kamu juga sama seperti saya? Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk terbebas dari menjadi generasi sandwich dan memutus mata rantainya? Berikut ini 7 cara #CerdasDenganUangmu agar berhenti jadi generasi sandwich.


1. Gaya hidup minimalis, gaji maksimalis, tabungan fantastis!





Foto: Aprillia Ramadhina

Semenjak baca buku Marie Kondo, yang judulnya The Life-Changing Magic of Tidying Up, saya jadi mulai rajin berbenah. Dengan membuang benda-benda yang tidak lagi saya butuhkan, saya merasa seperti memasuki lembar baru dalam hidup. Ternyata, saya bisa hidup dengan sedikit barang dan hidup saya baik-baik aja, tuh. Sedikit banyak, kebiasaan berbenah ini juga berdampak ke urusan finansial. Apa yang saya lakukan untuk meminimalisir gaya hidup?

Identifikasi apa yang biasanya bikin keuangan bocor dan gimana cara mengatasinya. Kalau saya misalnya, seperti ini untuk per bulannya:


Biaya ngopi < Rp 50 ribu 
Ngopi di kafe, sekalinya bisa abis berapa? Minimal Rp 50 ribu. Untuk saya yang doyan ngopi untuk ngisi bahan bakar kreativitas, duh angka ini mah bisa bikin bangkrut. Tapi, ini bisa diakalin dengan mengurangi intensitas dan cari kafe yang harganya lebih terjangkau. Atau alternatifnya ya minum kopi sachet, atau kopi-kopi instan yang dijual di mini market. Harganya ada yang cuma Rp 5 ribu.

Kalau biasanya sebulan empat kali bisa Rp 200 ribu (kalau sekali beli RP 50 ribu), kalau minum kopi instan 4 kali sebulan cuma abis Rp 20 ribu, hahaha. Atau ya udah minum kopi agak mahal, tapi sekali aja sebulan. Atau sebulan dua kali tapi di kafe kecil yang harga kopinya 15 – 20 ribu. Intinya budget cuma 50 ribu. Terserah gimana alokasiinnya.



Belanja fashion, make up, skin care, dan nyalon < Rp 500 ribu
Coba itu, perlu banget nggak punya baju sampai dua lemari? Nggak, karena nggak mungkin juga dipakai semuanya. Perlu nggak punya lipstik sampai 10 biji? Nggak, karena bakal banyak yang belum abis tapi udah kedaluwarsa duluan. Jadi, masing-masing jenis makeup cukup punya satu aja untuk foundation, eyeliner, eyeshadow, dan lain-lain. Lipstik nggak apa-apa deh tiga, untuk warna bold, warna soft, dan nude, hahaha.

Sepatu? Cukup dua kalau saya; satu sneakers dan satu flat shoes. Tas juga dua, satu tas tenteng, satu tas ransel. Nyalon? Pijit aja paling, maskeran dan luluran ya bisa sendiri di rumah, hehehe.

Buku < Rp 200 ribu
Nah ini yang susah. Bisa-bisa keluar Rp 500 ribu per bulan buat buku diri sendiri, kalau nggak dikontrol hahaha. Tapi, nggak lah kalau udah punya anak. Ya paling satu buku buat dia, satu buku buat saya. Yang penting tiap bulan ada beli buku. Kalau satu bulan pengin dua buku, beli satu aja dulu, yang satunya bulan depannya lagi. Biasanya kalau buku baru, atau buku laris, bulan depan pasti masih ada stoknya di toko buku.

Perlengkapan anak < Rp 300 (di luar susu dan popok, karena dua hal itu wajib, hehe)
Untuk keluarga yang sudah punya anak, pasti nggak bisa dimungkiri, kebocoran akan banyak terjadi di sini. Saya sih ngakalinnya dengan dua cara; beli barang baru kalau udah nggak muat dan jangan beli barang yang anak nggak suka.

Lihat dress anak lucu-lucu amat, pengin. Lihat sepatu gemes-gemes amat, mau. Ini mah yang mau emaknya, kan? Hahaha. Tapi, kalau untuk Arina, dari bayi saya juga udah terapin hidup minimalis. Waktu Arina belum bisa jalan, dia nggak pernah dibeliin sepatu. Kenapa? Ya buat apa, dia belum bisa jalan juga, hahaha. Kemana-mana ya pakai kaos kaki aja. Pas udah setahun mulai jalan, latihannya juga nggak pakai sepatu biar makin lancar. Sekarang dia cuma punya satu sandal dan satu sepatu. Karena percuma beli banyak, kalau nggak bisa dipakai lama-lama.

Saya juga nggak beli barang yang jelas-jelas dia nggak suka. Contohnya bando. Arina ini nggak doyan pakai bando! Hahaha. Jadi, yaudah ngapain juga kan dibeliin bando macem-macem kalau anaknya aja nggak suka pakai. Boros doang, tapi nggak berfaedah.

Hidup minimalis, tapi gaji harus maksimalis dong. Untuk punya gaji maksimalis, saya fokus upgrade kebisaan diri. Dengan kita selalu tingkatin skill, kita jadi punya nilai tawar lebih ketika bekerja. Dengan punya gaji maksimalis dan gaya hidup minimalis, kita bisa punya tabungan fantastis!


2. Set your money goals!

Foto: Aprillia Ramadhina

Untuk apa kita kerja? Untuk apa kita nyari uang? Cuma untuk survive, bertahan hidup? Ya nggak ada salahnya, sih. Tapi hidup akan sangat terasa membosankan kalau kita nggak set tujuan.

Hidup tanpa tujuan yang mengalir bagaikan air cuma akan bikin kita terbentur-bentur dan mengambang tanpa arah. Begitu juga soal keuangan. Pantas aja kok saldo bikin sedih terus, ya karena kita nggak kasih tujuan ke uang yang kita punya. Tanpa tujuan jelas, nafas kita akan selalu terengah-engah dan langkah kita terseok-seok.


Udah ngirit sana-sini tapi nggak mempan. Udah nambah penghasilan tapi akhir bulan tetap engap-engapan. Apa yang salah? Karena kita biarin uang kita ngalir gitu aja kayak air. Anyut, bos! Supaya tahu ini duit pada larinya ke mana dan memastikan mereka berakhir menjadi hal yang berfaedah, ya tetapin tujuannya.


3. Membagi tabungan berdasarkan tujuan

Gambar: Canva.

Tiap orang pasti punya tujuan yang berbeda-beda. Saya men-set untuk membuat tabungan bagi masing-masing tujuan. Saat ini berlibur ke luar negeri, bukanlah tujuan. Karena saya cukup bahagia bisa nginep di hotel dalam kota. Definisi berlibur bagi saya terkadang sesederhana bisa dapat istirahat yang cukup di tempat yang tenang. Itu aja.

Nanti, kalau Arina udah agak gedean, pengin juga sih ke luar negeri, tapi itu nggak dalam waktu dekat pastinya. Jadi, saya nggak bikin budget tabungan untuk liburan.

Saya bagi tabungan menjadi tiga:
- Dana darurat dan pensiun
- Biaya pendidikan
- Rumah atau mobil (untuk tahu cara menabung supaya bisa beli mobil dan rumah bisa baca di sini: Biar Impian Beli Rumah Cepat Terwujud, Ikuti 4 Tips Menabung Mudah Ini dan di sini: Target Beli Mobil Tahun Depan? Ikuti 5 Tips Menabung Ini Biar Bisa Dapat Duit Banyak.

Tiap bulan saya alokasikan dari gaji saya dan suami minimal 20% dibagi ke pos masing-masing tujuan itu. Kalau nanti dana darurat udah sampai 9 kali gaji, selebihnya tetap diisi untuk pensiunan.



4. Menumbuhkan respek terhadap uang


Tahu, kan uang itu didapatnya dari mana? Dari hasil kerja (kerja ini bisa berbentuk kerja di kantor, kerja sampingan, atau berjualan dan sebagainya, ya. Intinya aktivitas yang menghasilkan uang). Dalam bekerja, apa aja yang udah kita “tukar” untuk mendapat uang? Keringat dan air mata, hahaha. Eh, tapi serius deh, untuk kerja kita udah menggadaikan waktu, tenaga, uang (untuk ongkos, makan siang, dan lain-lain), perasaan kita (tetap harus kerja walau penuh tekanan, tetap harus kerja walau sedang banyak masalah).

Bahkan, terkadang kerja juga bisa jadi mempertaruhkan kewarasan kita. Semua itu menjadi nilai tukar kita untuk berlembar-lembar kertas bernama uang yang masuk ke rekening. Yakin, semua yang udah kita dapatkan itu cuma untuk sekadar numpang lewat? Cuma untuk ngalir gitu aja kayak air di sungai menuju lautan yang antah berantah?

Respect your money. Sering kali kita menganggap remeh uang, karena mikirnya, uang akan selalu bisa dicari. Tapi, dengan kita respek terhadap uang, itu berarti kita juga respek terhadap bagaimana cara kita mendapatkannya. Sama saja seperti kita respek terhadap kerja keras kita. Masa’ mau hasilnya kebuang-buang gitu aja nggak jelas?


5. Spend less, but earn, save, and give more!

Gambar: Canva.


Hidup minimalis itu sebaiknya hanya diberlakukan untuk pengeluaran, tapi nggak untuk pendapatan, tabungan dan sedekah. Nggak usah mikir bahwa dengan memberi kita akan mendapatkan lebih. Ini pamrih, namanya. Tumbuhkan rasa bahwa kita memberi karena memang butuh giving back to others. Segala hal yang kita dapatkan itu ada campur tangan Tuhan dan ada bantuan dari orang-orang sekitar. Dengan kita memberi ke orang lain lagi, itu tanda kita bersyukur sama apa yang kita punya dan kita dapatkan. Karena selalu ada hak orang lain dari setiap rezeki yang kita terima.


6. Hidup cuma sekali, mau miskin terus atau jadi orang kaya adalah pilihan

Foto: Aprillia Ramadhina

Sebelum punya anak, saya orang yang sangat serampangan. Saya nggak peduli hidup esok itu seperti apa, saya cuma puas-puasin gimana nyenengin hidup saya untuk hari ini. Besok mah gampang. Gitu aja terus prinsipnya. Kenapa? Karena ngerasa nggak punya tanggungan. Mungkin juga karena saya ngerasa nggak punya tujuan. Sampai semua itu buyar saat saya akhirnya punya anak.

Saya yakin Tuhan kasih saya anak, salah satu hikmahnya adalah supaya saya hidup jadi orang yang punya tujuan. Sebelum punya anak mah mana kepikiran sih buat punya rumah dan mobil, hahaha? Secara saya kostan aja pindah-pindah. Kendaraan? Ya selalu pakai transportasi umum. Sejak punya anak, wah punya mobil dan rumah, langsung ada di top of mind lah.
Sumber gambar: Instagram @moneysmartid


Saya mulai cari-cari informasi soal mengatur keuangan, dari mana aja, dari buku, artikel di internet, sampai Instagram. Kalau akun instagram, favorit saya ya juga mamah-mamah muda, seperti Andra Alodita. Waktu dia share tentang dana darurat, waahhh itu ketampol banget. Langsung mikir, kudu segera banget nih nyiapin dana darurat. Terus kalau buku, saya suka bukunya Prita Ghozie, yang judulnya Make It Happen, nah kalau artikel internet, saya suka banget sama artikel-artikel di MoneySmart.id.

Artikelnya itu gampang banget diterapin untuk bikin keuangan lebih sehat, terutama untuk kaum milenial (seperti saya) yang mau kaya tapi juga ingin bisa senang-senang. Terkait generasi sandwich, kalau kamu ingin terbebas, MoneySmart.id juga kasih solusinya, kamu bisa baca di sini StresTanggung Orangtua dan Anak? Begini Solusinya!

Ini artikel bermanfaat banget. Gimana cara kamu bisa survive jadi generasi sandwich, dan gimana kamu nggak stres jadi generasi yang terhimpit dua tanggung jawab ini. Intinya, menurut saya, kalau jadi generasi sandwich ya solusi paling jelasnya kita harus kaya!


Sumber: www.moneysmart.id


Kalau kita miskin terus ya itu karena kitanya nggak mau berjuang habis-habisan. Percaya, deh, kalau kita kaya, kita bisa kasih manfaat lebih untuk sesama. Kita bisa bantu orangtua, misalnya bikinin mereka bisnis, atau aset yang bisa kasih mereka passive income. Kita juga bisa kasih yang terbaik untuk anak kita, supaya mereka mandiri, supaya mereka terbebas dari keterhimpitan menjadi generasi sandwich di masa depan.


7. Kalau kita termasuk generasi sandwich, ingatlah bahwa cukup kita saja yang mengalaminya, bukan generasi penerus kita

Gambar: Canva.


Ini hal yang selalu saya tanamkan. Saya merasakan betul nggak enaknya jadi sandwich generation. Ibu saya nggak bekerja setelah menikah. Saat ayah meninggal, anak masih kecil-kecil. Ibu nggak bisa bekerja lagi, karena dianggap sudah tua dan nggak punya pengalaman. 

Pedih rasanya kalau ingat masa-masa itu. Masa di mana saat masih kecil, saya malu mendapat uang santunan anak yatim dari masjid atau meminta surat keterangan tidak mampu untuk pengajuan beasiswa. Hal-hal semacam itu seolah semakin memojokkan saya bahwa saya adalah orang yang “kurang beruntung”, orang yang berbeda dari orang-orang lainnya, orang yang… (saya benci menyebutnya) patut dikasihani.

I’ve been there. Dan saya ingin anak saya terbebas dari merasakan sandwich generation ini. Kelak dia akan punya keluarga, punya anak. Dia nggak mungkin punya anak yang langsung mandiri, kan? Paling tidak sampai anaknya berusia 18 atau 22 tahun, lho! 

Karena itu, selain memberikan yang terbaik untuk anak saya, kelak yang bisa saya lakukan untuk meringankan bebannya saat dewasa adalah menjadi orangtua yang mandiri. Sekarang dan nanti. Sekarang, ataupun 50 tahun lagi. Semoga senantiasa bisa. Karena berdikari, adalah keharusan bagi setiap manusia.

Yuk, mulai makin #CerdasDenganUangmu sekarang, jangan tunda-tunda lagi!
Foto: Aprillia Ramadhina