Minggu, 01 November 2020

Terhubung Kembali dengan Diri Sendiri

November 01, 2020 1


Tahun 2020, salah satu hal yang saya syukuri adalah mengetahui yang namanya Mbak Ika dan Mas Vicario. Pertama kali saya tahu mereka berdua itu dari webinar “Follow Your Flow, Pendekatan Anti Mainstream untuk Hidup yang Lebih Kece”. Ketika saya buka link pendaftarannya tertera deskripsi:


“Apakah lo mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan di bawah ini?

Kenapa banyak belajar tapi ga pinter pinter?

Kenapa kok bahagia rasanya susah banget?

Gimana supaya bisa punya motivasi tinggi?

Apa artinya ‘living to the fullest’?

Apa 3 skill utama dalam hidup?


Kalo iya, sama dong! Yuk kita belajar dari pengalaman Aristiwidya yang selama 20 tahun ga berhenti untuk mencari tahu, memikirkan, dan mencoba menjawab pertanyaan ini buat dirinya sendiri.”


Wah, ya tanpa pikir panjang saya langsung aja daftar ikutan. Padahal nggak tahu juga tentang pembicaranya. Tapi itu nggak penting buat saya, karena temanya aja menurut saya udah menarik banget.


Saat itu ya saya ikut aja. Dalam pikiran saya, “toh gratis ini” kalau memang nggak menarik ya tinggalkan saja. Sungguh, saya ikut webinar itu tanpa ekspektasi tinggi. Ternyata setelah mengikutinya, itulah alasan kenapa saya sungguh bersyukur mengenal Mbak Ika dan Mas Vicario.


Selama sesi itu berasa banget energi yang mengalir dari keduanya. Dengan ikutan webinar ini, pikiran dan perasaan mulai tersentuh, mulai tergerakkan. Nggak kebayang, gimana rasanya kalau mereka beneran ada di depan mata. Karena cuma di layar aja, berasa banget energi positifnya sampe luber-luber ke mana-mana.


Setelah ikutan, benang kusut dalam kepala dan hati itu mulai terurai. Saya bisa melihat jalan keluar dari permasalahan dengan lebih jelas, lebih jernih. Sekalipun mungkin di hadapan nanti akan ada masalah baru yang menghadang. Ya nggak apa-apa. Yang penting satu masalah besar sudah terselesaikan, dengan pertimbangan matang, dan saya harus siap dengan risiko serta konsekuensinya. 


Daripada masalah itu berlarut, membuat beban menjadi semakin berat. Lagian juga, masalah akan selalu ada dalam hidup, dengan adanya masalah, kita juga jadi terlatih untuk menemukan solusi.


Menemukan Purpose dan Memupuk Motivasi

Setelah mengikuti webinar pertama mereka itu, saya pun mampir ke podcast-nya mereka juga. Nah, kebetulan ada yang menarik banget. Berikut ini dua podcast yang baru saya dengerin dan tertarik banget untuk nulisinnya lebih lanjut.


Podcast pertama yang menarik adalah yang judulnya, “Beneran deh, ada cara lain untuk menemukan purpose gak sih?”


Saya sendiri termasuk orang yang bisa dibilang mungkin masih nggak tahu juga apa purpose hidupnya, hahaha. Menurut Mbak Ika, yang bisa kita lakuin untuk menemukan purpose kita adalah dengan menuliskan 25 hal yang menjadi curiosity kita, dan juga 25 hal tentang masalah di dunia yang mau kita pecahkan. Nah, purpose itulah intersection di antara keduanya. Selain itu, kita juga bisa memulai dengan membayangkan, kelak ketika kita udah nggak ada, kita ingin orang mengenang kita sebagai apa. Itu juga bisa dijadiin sebagai cara menemukan purpose.


Tapi, lantas, kalau nggak punya purpose dalam hidup, apakah salah? Ya nggak salah juga menurut Mbak Ika. Selagi kita nyaman-nyaman aja dengan hidup kita, nggak ngerasa cemas menikmati hidup yang tanpa arah, ya nggak apa-apa juga. Wow, menarik, ya! Karena menurut saya pun, hidup yang nggak terarah dan nggak terencana, bukan berarti hidup yang tanpa makna juga, kan?


Mbak Ika pun bilang juga, bahwa hidup akan selalu ngarahin kita ke purpose kita. Karena sekali pun mungkin hidup kita seperti nggak ada arahnya, bisa jadi tetap ada benang merahnya. Di situlah kita bisa melihat pattern hidup kita dengan lebih jernih. Dengan melihat ke belakang, kita bisa saling menghubungkan peristiwa dan pengalaman yang pernah kita alami, ini juga yang bisa disebut dengan connecting the dots. “Karena otak kita adalah mesin makna. Otak secara otomatis ingin memaknai segala hal yang terjadi dalam hidup kita,” ujar Mbak Ika.


Bicara soal purpose, tentunya nggak bisa lepas juga dari motivasi. Karena purpose itu bisa mengaktifkan motivasi. Ini pun dijelaskan dalam podcast selanjutnya yang berjudul, “Kalo gue lagi butuh inspirasi dan motivasi, mulai darimana?” Kita pasti pernah berada dalam keadaan di mana kita nggak punya motivasi dan nggak menemukan inspirasi sama sekali. Padahal, motivasi itu ternyata bisa didapat sesederhana dengan kita melakukan sesuatu dan yang bisa men-drive motivasi ada 3 hal, yaitu autonomy, mastery, dan purpose.


Autonomy artinya kita punya pilihan dan ruang untuk hasrat kita dan pikiran kita. Kita punya pilihan untuk fokus kepada kekuatan kita dan bukan kelemahan kita.


Mastery artinya tentang bagaimana kita ingin "naik kelas", melakukan sesuatu yang lebih baik, dan apa yang ingin kita asah lebih lagi.


Sedangkan purpose, seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, tentang bagaimana kita bisa punya hidup yang lebih bermakna.


Latihan gampangnya, Mbak Ika menyarankan, setiap hari cobalah daily stand up dengan diri sendiri, coba diem dulu dan nyusun apa aja yang mau dikerjain hari ini.  Dengan terus bergerak, kita membuat momentum, dan momentum itulah yang menciptakan motivasi.


Sementara inspirasi, bisa jadi sesuatu yang memotivasi kita juga. Inspirasi ini bisa juga dikatakan sebagai "eureka" atau "AHA" moment yang kadang didapatkannya ketika kita sedang rileks. Jadi, penting juga dalam hidup untuk nggak selalu nginjek "gas" terus.


Selain itu, untuk bisa memupuk motivasi, penting bagi kita untuk mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang juga punya motivasi tinggi. Tidak hanya mengkurasi orang-orang di sekitar kita, tapi juga buku-buku yang kita baca, orang-orang yang kita follow di media sosial, podcast yang kita dengerin, dan lain sebagainya. Agar kita bisa fokus pada intention kita.


Nah, jadi kalau kamu mulai ngerasa hilang arah, hidup kayak nggak ada makna dan motivasi serta inspirasi lenyap entah ke mana, coba baca lagi deh, tulisan ini dan dengerin podcast Follow YourFlow dan ikutin Instagramnya @followyourflow.id. Siapa tahu kamu jadi bisa mulai terhubung lagi dengan diri kamu sendiri.


Tentang Kelas Meracik Hidup


Setelah ikutan webinar dan dengerin podcast mereka, saya makin tertarik untuk ikutan program Meracik Hidup di bulan Agustus. Di kelas pertama aja sesinya Mbak Ika udah menggelitik banget, "Who Are You without Your Roles or Titles?" Kalimat ini menohok banget sih. 


Selama ikut kelas Meracik Hidup, saya ternyata nemuin satu kesenangan baru, yaitu bikin puisi! Nggak tahu kenapa kok ya ngerasa nemu flow banget pas bikin puisi. Semoga bisa mewujud jadi sebuah buku, ya! Amin!


Makasih banget Mbak Ika dan Mas Vicario di kelas terakhir kemarin udah "maksa" kita untuk mikirin goal kita beserta langkah-langkah untuk mencapainya. Ini bener-bener bantu saya untuk lebih clear ngelihat jalan di hadapan saya. Berani mengambil langkah walaupun ke dunia baru yang belum pernah saya jalanin sebelumnya. 


Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang udah kalian kasih ke para peserta kelas. Semoga semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya dari hal yang kalian lakukan; semakin banyak orang yang menjalani hidupnya penuh nikmat dan makna.

 

 




Selasa, 29 September 2020

Resensi Buku Sains “Religius”, Agama “Saintifik”: Dua Jalan yang Punya Kebenarannya Masing-Masing

September 29, 2020 0



Sains dan agama sudah sejak lama dalam pandangan (beberapa) orang, ibarat air dan minyak atau bumi dan langit. Senantiasa dianggap berseberangan, berlawanan. Tapi, apakah memang keduanya seekstrim itu berjauhan? Memangnya tidak bisa kalau mereka saling hidup bersisian, bersinggungan dan beririsan lalu punya hubungan yang begitu mesra?


Saya pikir setelah membaca buku Sains “Religius” dan Agama “Saintifik”: Dua Jalan Mencari Kebenaran yang ditulis oleh Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla yang diterbitkan oleh Mizan Publishing, saya bisa mendapatkan sedikit jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Karena selain judulnya begitu menarik, gambar sampulnya juga ciamik. Ada dua buah lempeng berbentuk sabit yang masing-masing ujungnya saling bersentuhan. Ya, seolah-olah membicarakan pertemuan antara dua kutub yang begitu berbeda; agama dan sains.


Sayangnya, setelah membaca habis satu buku tersebut, saya masih belum mendapat gambaran yang cukup jelas tentang seperti apakah sains yang religius itu? Dan seperti apa jugakah agama yang saintifik itu? Isinya tidak berisi esensi yang sungguh-sungguh menjadi representasi dari judulnya (dan gambar sampulnya).


Padahal Haidar Bagir di bagian awal buku ini menuliskan, “Di satu sisi kita kewalahan dengan pengikut agama yang mau menang sendiri dan mengafir-ngafirkan sains dan filsafat. Tetapi di sisi lain, kita dapati ada juga pemuja sains yang menafikan filsafat dan membodoh-bodohkan pemikiran agama. Kapan manusia benar-benar bisa bebas dari para bigot dan ekstremis yang ada di berbagai kelompok ini?” (Hal 31). Sungguh sebuah paragraf yang menggugah pembaca untuk ingin tahu bagaimana mereka yang bertentangan ini bisa berdamai pada akhirnya.


Memang ia pun memaparkan solusinya yaitu bahwa ia percaya yang kita butuhkan adalah reintegrasi antara sains, filsafat dan agama. Ya di dalam buku ini Haidar Bagir juga membahas cukup banyak tentang filsafat.


Walaupun reintegrasi menurutnya bukanlah berarti mencampuradukkan ketiganya, tapi menggabungkan dengan jernih dan tetap mempertahankan batas wilayah masing-masing. Selain itu juga mempertanggung-jawabkan kebenaran-kebenaran yang diperoleh sehingga pengetahuan kita akan lengkap dalam berbagai aspek. Tampak ideal sekali, ya? Tapi, sebenernya reintegrasinya itu seperti apa dalam pemahaman singkat dan mudahnya?


Saya kira saya akan menemukan benang merah antara sains dan agama atau keselarasannya karena saya menemukan sebaris kalimat di halaman 86 mengenai “hukum-hukum alam yang tak lain adalah Sunnah Allah di alam semesta”. Sayangnya tidak dijabarkan lebih jauh dan lebih mendalam lagi mengenai hal tersebut.


Sementara itu hubungan agama dan sains yang penuh konflik tentu sudah bukan rahasia lagi. Sangat mudah sekali menemukannya. Lantas bagaimana dengan hubungan yang harmonis? Apakah ada? Apakah cukup hanya sekadar mengetahui bahwa dalam sejarah, ada banyak tokoh cendekiawan muslim yang menjadi ilmuwan dan berkontribusi pada kemajuan sains modern? Rasanya para ekstrimis agama yang anti sains tak lantas jadi mencintai sains hanya sekadar diajarkan soal sejarah tersebut.


Hanya ada satu contoh yang dikemukan Haidar Bagir mengenai lahirnya sebuah penemuan karena terinspirasi kitab suci, yaitu tentang Prof Abdus Salam. Ia mengaku mendapatkan inspirasi penemuannya dalam penyusutan teori penyatuan gaya nuklir lemah dari Al-Quran. Tapi juga tidak jelas, dari surat apa dan ayat yang mana ia mendapatkan inspirasinya tersebut. Sementara contoh lainnya dikatakan adalah Albert Einstein yang mengemukakan teori relativitas dari imajinasi, dan sederet ilmuwan lainnya yang menemukan penemuan ilmiah juga dari imajinasi. Tapi, tentang yang diilhami kitab suci, contohnya hanya satu itu saja dan yang seperti saya katakan; tidak dijelaskan dengan lebih detail atau spesifik.


Tidak Ada Tuhan Itu Tidak Masuk Akal


Sementara itu Ulil menuliskan betapa “tidak masuk akal”, ketika sains, yang mengandalkan fondasi empiris (di mana sesuatu itu ada dan tidak harus dibuktikan dengan indera), sehingga sesederhana itu mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Bagi Ulil, ini sama tidak masuk akalnya dengan sains yang menjelaskan kemunculan kehidupan melalui teori evolusi di mana tidak adanya campur tangan Tuhan.


Ia katakan tidak masuk akal karena menurut perbandingan yang ia buat, yaitu dua contoh susunan huruf yang satu acak dan yang satunya tersusun dengan benar, maka berarti ada “penyusun huruf”. Rasanya, para ekstrimis sains yang anti agama tak lantas jadi mengindahkan agama hanya karena argumen “penyusun huruf” tersebut.


Padahal, andai tidak hanya sekadar tidak masuk akalnya kedua hal tersebut yang dibahas, tapi juga contoh-contoh betapa masuk akalnya agama, sehingga tidak perlu bertentangan dengan sains, mungkin pembahasannya akan jadi jauh lebih menarik lagi.


Jadi, intinya untuk kamu para pencari pesan moral dalam sebuah karya, maka pesan moral dari buku ini adalah: Jangan pertentangkan agama dan sains karena iman bukan lawan dari pengetahuan. Hanya ditekankan bahwa sains dan agama memang bukan musuh bebuyutan, tapi tidak juga dijelaskan dengan mendalam seperti apa jalinan persahabatannya?


Akhir kata, semoga kita bisa menghidupkan harapan di buku ini: senantiasa dihindari dari kepongahan dalam beragama, maupun dalam berilmu, - atau dalam keduanya.

 

Jumat, 28 Agustus 2020

Review Novel Dua Dini Hari: Misteri Pembunuhan Anak Jalanan yang Terstruktur, Sistematis dan Masif!

Agustus 28, 2020 1



Saya bukan penggemar novel bergenre thriller. Tapi, setelah membaca novel Dua Dini Hari yang ditulis oleh Chandra Bientang - seorang teman saya waktu kuliah di jurusan Filsafat UI - , rasanya saya mulai tertarik dengan genre ini.  Novel ini merupakan karya Cacan (panggilan akrabnya) yang menang kompetisi menulis novel urban thriller yang diadakan oleh penerbit Noura dan diterbitkan menjadi buku.

Novel Dua Dini Hari, berkisah tentang pembunuhan anak-anak jalanan di kawasan Jatinegara. Bagi saya, cerita ini bukan sekadar cerita misteri biasa. Cerita dalam buku ini seperti ingin menyentil rasa kemanusiaan kita. Bukan sekadar memecahkan teka-teki pembunuhan, tapi mempertanyakan hal-hal yang tak dipandang dan dinihilkan orang. Siapa peduli dengan anak jalanan? Hidupnya saja diabaikan, apalagi kematiannya.

Tapi di dalam buku ini, ada tokoh yang begitu peduli, yaitu seorang pemuda bernama Elang, yang bersikeras menyelidiki kematian anak-anak jalanan. Padahal ia bukan polisi. Hanya anak dari seorang polisi saja. Elang bahkan belum lulus Akpol. Serangkaian peristiwa membuat Elang pun bertemu dengan Kanti, yang sedang cuti kuliah dan bekerja sebagai ilustrator lepas.

Keduanya bertemu di kantor polisi, saat Kanti melaporkan bahwa dirinya mulai merasa terteror karena sepertinya ia melihat hal yang seharusnya tak boleh ia lihat dari kamar kosnya. Elang sendiri bahkan juga mengalami teror yang tak kalah hebat yang membuatnya nyaris kehilangan nyawa. Dan saya pun merasa ikutan terteror ketika membacanya novel ini; siapa pun bisa dibunuh, dan siapa saja juga bisa menjadi pembunuh.


Konspirasi Rakyat Jelata dan Penegak Hukum

Agak sulit menulis review novel ini tanpa sedikit pun spoiler. Saya sungguh tak menyangka Cacan bisa menghadirkan pemilik toko roti, pemilik toko kelontong, pemilik laundry, hingga penyedia jasa pelenyapan orang bisa saling bekerja sama untuk sebuah kejahatan yang terstruktur, masif, dan sistematis bersama-sama dengan para penegak hukum. Hhm, sebuah cerita yang nyerempet-nyerempet bahaya, ya. Hahaha. 

Cacan menyoroti Jatinegara khususnya dengan segala lika-likunya. Gang-gang sempit, dan semua hal yang jauh dari kehidupan gemerlap. Malam-malam yang mencekam. Rasa aman yang rasanya tidak pernah benar-benar ada.

Saya sungguh nggak paham, bagaimana Cacan bisa menemukan kalimat yang begitu menggelitik seperti yang tertulis di halaman 223, “Hanya ada satu hukuman untuk para pendosa. Selamanya, mereka harus berbuat dosa.” Saya sungguh angkat topi membaca kalimat ini. Membayangkan bagaimana betapa getirnya hidup seseorang menjalani hukuman selamanya berbuat dosa, seperti sebuah derita yang tak ada akhir.

Untuk tahu kenapa kalimat tersebut bisa ada di novel ini, kamu wajib baca novelnya, ya! Karena kalimat ini bukan hanya kalimat kiasan atau quotes cantik yang sekadar jadi tempelan di buku ini. Kalimat ini benar-benar menjelaskan tentang nasib yang dijalani seorang tokoh di novel ini. 

Ending yang Sulit Diungkapkan

Saya berada di ambang nyata dan fantasi saat membaca novel ini, terutama ketika saya sampai menuju bagian akhir cerita. Bagi saya, ending-nya menyedihkan untuk kedua tokoh utama yaitu Kanti dan Elang. Sungguh, cara Cacan mengakhiri novelnya ini sedikit di luar dugaan dan tetap berujung pada misteri yang seolah-olah tak ada akhirnya. Misteri yang tak ada kata selesai.

Secara teknis, tempo cerita ini cukup pas. Tidak terlalu lambat, tidak juga terlalu tergesa-gesa. Cacan tampaknya tahu betul kapan kejutan-kejutan perlu dimunculkan, dan kapan perlu ditahan.

Saya rasa kisah ini punya premis yang menarik, juga alur yang ciamik, dan banyak hal yang tak disangka ternyata saling berkelindan. Kalau dijadikan film, cocok banget Joko Anwar yang jadi sutradaranya. Hehehe. Karena ini cerita bukan cuma tentang bunuh-bunuhan aja, tapi ada unsur sosial dan politis di dalamnya. Tentang kemanusiaan, tentang keadilan, tentang power

Setelah membaca dan menulis review novel ini, kata keadilan menjadi sangat asing, sekaligus akrab. Tapi, yang jelas dari itu, keadilan menjadi semakin buram di mata saya. Apa itu adil?

Menarik, ya? Untuk kamu yang mau baca buku ini, kamu juga bisa membelinya dalam bentuk e-book di Google Play dengan klik link di sini

Selasa, 21 Juli 2020

Pengalaman Bekerja Sebagai Senior Content Editor di ShopBack Indonesia

Juli 21, 2020 0


Setiap pengalaman hidup saya pastinya merupakan sebuah perjalanan yang berharga. Termasuk selama bekerja di ShopBack Indonesia sebagai Senior Content Editor. Setiap harinya menawarkan hal baru dan ada banyak hal yang saya syukuri selama bekerja di sana.
Berikut ini sedikit yang bisa saya rangkum.

1. Mengelola Blog dengan Berjuta-juta Pageview

Ini pengalaman pertama dalam hidup saya bertanggung jawab untuk mengelola blog berjuta-juta pageview. Bekerja sama dengan vendor, freelancer, dan anak magang untuk menghasilkan artikel yang tidak hanya menarik untuk pembaca tapi juga bermanfaat bagi perusahaan. Karena setiap artikel di blog ShopBack adalah bagian dari konten pemasaran.

2. Memproduksi Artikel Advertorial untuk Berbagai Macam Brand

Senang sekali di sini saya mendapatkan kesempatan untuk menulis artikel advertorial dari para klien ad sales ShopBack. Berbagai brand tersebut di antaranya adalah, POND’S, Garda Oto, Anlene, Fujifilm, Huawei, Oppo, Realme, Fatigon, Slim & Fit, dan masih banyak lagi.

3. Bekerja Sama dengan Banyak Tim dari Berbagai Divisi

Hal paling menyenangkan yang nggak mungkin saya lupa adalah bekerja sama dengan teman-teman dari berbagai divisi, mulai dari tim Design, Campaign, Paid Marketing, Partnership dan Sales. Bangga sekali saya bisa kerja bareng dengan orang-orang bertalenta dari divisi-divisi tersebut.

4. Content Partnership dengan pihak Line Today

Ini juga bagian yang membanggakan, karena artikel-artikel blog ShopBack bisa tayang di Line Today, yakni pada momen bulan Ramadhan. Walaupun untuk bisa mengintegrasikannya dengan baik harus beberapa kali menghubungi pihak tim IT agar tidak hal-hal eror saat artikel tersebut tayang di Line Today.

5. Offsite Naik Kapal Pesiar


Desember 2019, seluruh ShopBacker di semua negara ikutan offsite naik kapal pesiar. Ini merupakan pengalaman yang bisa dibilang juga paling menyenangkan. Kami semua berkumpul di kantor pusat ShopBack yang ada di Singapura sebelum berangkat. Lumayan banget 3 hari 2 malam di kapal pesiar. Di sana juga makin kenal dengan tim-tim dari negara lain. Seru abis!

6. Olahraga di Kantor

Sebelum pandemi, tiap hari Rabu malam setiap abis jam kantor biasanya ada sesi olahraga. Itu untuk pertama kalinya saya ikutan olahraga di kantor. Saat itu saya sempat ikutan sesinya pound fit. Enak banget!

7. Bekerja Sama dengan Orang-orang dari Negara Lain


ShopBack ada di 9 negara, Singapura, Indonesia, Australia, Vietnam, Thailand, Taiwan, Korea, Malaysia dan Filipina. Kerjaan kita pun pastinya berhubungan juga dengan tim dari negara lain. Jadi, kita terbiasa juga untuk komunikasi dengan bahasa Inggris. Ini jadi semakin melatih skill bahasa Inggris yang saya miliki. 

Tentu ada banyak hal lainnya yang pastinya sangat menyenangkan dan jadi pengalaman berharga buat saya selama bekerja sebagai Senior Content Editor di ShopBack Indonesia. Pengalaman yang sangat berharga, yang nggak akan saya lupa sampai kapan pun. Saya bangga betul pernah jadi bagian dari keluarga ShopBack Indonesia. 

Semoga semua tim yang bekerja di ShopBack bisa terus sukses dan bertumbuh, begitu pun untuk ShopBack Indonesia, semoga bisa terus berjaya di tahun-tahun berikutnya! Amin.





Selasa, 12 November 2019

Perjalanan Aman dan Nyaman dengan Transportasi Masa Kini yang Lebih Baik

November 12, 2019 8
stasiun MRT Dukuh Atas
Stasiun MRT Dukuh Atas. Foto: Aprillia Ramadhina.
Beberapa hari ke belakang, ramai sekali diberitakan tentang sebuah tempat baru di Blok M bernama M Bloc Space. Saya pun penasaran ingin tahu seperti apa tempatnya. Ditambah saya memang berniat mencoba naik MRT yang juga ada di Blok M. Jadi, saya pun berniat mengunjungi M Bloc Space yang lagi ngehits dan wisata transportasi dengan mencoba naik MRT. Untuk sampai di Blok M, saya terlebih dulu harus ke Ciledug terlebih dulu.