Postingan

Mengatasi Keterlambatan Bicara pada Anak di Atas Umur Dua Tahun dengan Terapi Sensori Integrasi

Gambar
Terapi sensori integrasi dapat membantu anak-anak yang terlambat bicara.
Menginjak dua tahun, Arina belum bisa mengucap banyak kata. Kata yang keluar tidak lebih dari 10 kata. Bahkan, merangkai kalimat dengan dua kata pun ia tak bisa. Timbul rasa khawatir bahwa ia mengalami keterlambatan bicara.
Jika melihat artikel berjudul Keterlambatan Bicara yang ditulis oleh Amanda Soebadi dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM di website Ikatan Dokter Anak Indonesia atau Idai.or.id Arina mengalami perkembangan yang cukup normal sampai usia 1 tahun. Hanya saja, menjelang usia 18 bulan, tidak ada perkembangan dari kata-kata baru yang diucapkannya.

Namun, saya mencoba terus bersabar dan terus melatihnya. Tapi, sampai usia dua tahun empat bulan, karena tak ada perkembangan yang signifikan, saya dan suami memutuskan untuk memeriksakannya ke klinik tumbuh kembang.
Setelah konsultasi dengan dokter, dan dites beberapa hal, Arina dirujuk untuk assessment dan terapi sensori integrasi. Dokter bilang, …

Teruntuk Harapan-Harapan yang Tak Pernah Menjadi Kenyataan

Gambar
Katanya, kunci untuk tidak terlalu banyak kecewa, adalah jangan terlalu tinggi berharap. Atau kalau tidak mau kecewa, tidak usah berharap sekalian. Padahal, harapan itu, kadang walau tidak kita inginkan, sudah tumbuh duluan.
Kadang, kita nggak bisa mengukurnya seberapa tinggi, nggak bisa mencegahnya berkembang seberapa besar. Ingin berusaha melenyapkan dan meniadakannya pun sulit. Semakin berusaha mencegahnya ada, justru ia hidup dengan sendirinya. Tak dirawat dan tanpa kesengajaan.
Tiga puluh tahun usia saya. Saya sudah akrab dengan banyak harapan-harapan yang gugur. Berapa kali berhadapan dengan pintu yang tertutup, menghadapi penolakan-penolakan dan kekalahan-kekalahan. Menggenggam peluang-peluang yang terhempas. Membuang banyak waktu untuk kesia-siaan.
Nyatanya, memang ada yang sia-sia di dunia ini, juga ada hal-hal yang mustahil di semesta ini. Mereka yang bilang bahwa tak ada yang mustahil selagi mau berusaha dengan gigih, mungkin sesederhana mereka belum menemukan kemustahilan it…

Hijrah dari Wartawan: Career Pivot

Gambar
Sebenarnya, agak berat melepas profesi yang begitu membuat saya nyaman. Tapi, hidup terkadang hanya perihal menggenggam dan melepaskan. Karena, nyaman belum tentu aman. Selama jadi wartawan, saya merasakan dua kali perusahaan media tempat saya bekerja tutup. Sudah jadi rahasia umum, jangan kerja di media kalau tujuannya mau kaya.
Kemudian saya berpikir, sampai kapan saya akan menggeluti profesi ini. Saya senang menulis. Tapi, tentu saya tahu betul, bahwa menjadikan menulis sebagai sebuah pekerjaan, tidak lantas hanya harus jadi wartawan saja. Ada banyak peluang lainnya, toh saya udah ngerasain sendiri, di mana saya dibayar sebagai blogger, sebagai orang yang nulis press release, sebagai pengisi konten di website perusahaan-perusahaan, penulis buku. Jadi ada banyak saluran menghasilkan uang dari menulis, nggak mesti jadi wartawan.
Career PivotKarena itulah saya hijrah. Sekarang saya jadi Digital Content Strategist di sebuah startup. Ini challenging banget menurut saya. Karena selama kerj…

2018, Tahun (Kembali) Ngantoran yang Luar Biasa!

Gambar
Jadi, waktu akhir 2017, saya nulis salah satu resolusi saya di tahun 2018 adalah ngantor lagi. Biar lebih stabil, biar nggak sering-seringlah ngandelin hadiah lomba atau kompetisi hahaha. Dan, itu terkabul. Bahkan di saat usia saya pas menginjak 29 tahun. Saya bekerja di sebuah media lagi. Walau, pada akhirnya saya tidak terlalu lama di sana. Tepat 5 bulan saya bekerja, saya mengajukan resign.
Saat itu, keadaan tampak tidak memungkinkan untuk saya bekerja di tempat yang jauh dari rumah, sementara saya juga masih menyusui. Iya, saya nggak sefleksibel waktu masih single. Bisa ngekos di mana-mana. Dan entah kenapa, Arina juga jadi sering sakit sejak saya kerja lagi. Kerja jauh dari rumah juga membuat energi saya habis di perjalanan. Pulang larut, pagi-paginya harus berangkat lagi.
Waktu saya sama Arina jadi sangat minim. Bahkan, pernah saya benar-benar sampai di rumah jam 12 malam karena ada acara yang harus diliput. Pernah juga saat ada acara kantor di mana peran saya cukup penting, saya…

7 Cara #CerdasDenganUangmu Agar Berhenti Jadi Generasi Sandwich

Gambar
Tahu, kan apa itu generasi sandwich? Dalam artian sederhananya, generasi sandwich merupakan sebutan untuk orang-orang yang terhimpit dengan tanggung jawab (finansial) dalam mengurus anak dan orangtua. Biasanya generasi sandwich memiliki anak-anak yang masih kecil (di bawah 18 tahun) yang tentunya belum mandiri secara finansial, dan orangtua yang juga bergantung padanya, karena tidak punya penghasilan atau dana pensiun.
Saya, termasuk dalam generasi yang terhimpit itu. Apakah kamu juga sama seperti saya? Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk terbebas dari menjadi generasi sandwich dan memutus mata rantainya? Berikut ini 7 cara #CerdasDenganUangmu agar berhenti jadi generasi sandwich.
1. Gaya hidup minimalis, gaji maksimalis, tabungan fantastis!