Kamis, 15 September 2022

Melihat yang Tak Terlihat dan Mendengar yang Tak Terdengar dari Tubuh Yuni

Foto: imdb.com

Kebebasan dan kemerdekaan tidak pernah menjadi sesuatu yang terberikan cuma-cuma atau begitu saja. Karena bukan pemberian, kebebasan dan kemerdekaan adalah suatu hal yang perlu diupayakan dan diperjuangan; tentu juga dirayakan – pada akhirnya.


See the Unseen, Hear the Unheard

Foto: imdb.com

Sejak awal menonton film Yuni, kita melihat hal-hal yang mungkin jarang ditampilkan di film Indonesia terutama film remajanya. Adegan film ini dibuka dengan Yuni (Arawinda Kirana) yang sedang memakai celana dalam dan bra. Belum lagi kita juga akan melihat bagaimana Yuni memakai pembalut di toilet sekolah. Kita melihat bagaimana pubertas pada remaja perempuan khususnya, berlangsung dalam tubuh Yuni.


Hanya saja, Yuni menjalani keremajaan itu dengan tantangan-tantangan yang di luar jangkauan usianya, yaitu pernikahan. Pernikahan yang tentunya terlalu dini untuk dialami oleh remaja seusia dirinya.


Ada satu contoh temannya, yaitu Tika (Anne Yasmine) yang sudah mengalaminya dan menceritakan betapa tidak mengenakkannya pernikahan dini yang ia jalani. Mulai dari sakit saat melahirkan, hingga suaminya yang tidak bantu mengurus anak, sampai dirinya yang tidak pernah merasakan orgasme.


Ini ia ungkapkan saat terjadi percakapan seputar seksualitas di rerumputan di mana Yuni dan teman-temannya berbaring sambil bercakap-cakap. Di situ Tika bilang tidak tahu seperti apa rasanya orgasme, dan dia menyarankan kalau mau tahu rasanya, coba untuk masturbasi. Dan informasi tentang "cara masturbasi untuk perempuan" pun dicari oleh Yuni saat dia di rumah dengan mencarinya di internet.  Yang langsung dipraktikkannya saat itu juga.


Nyaris semua dialog di film ini sungguh menegaskan kebingungan Yuni, yang sesungguhnya sangat khas remaja, terutama remaja yang akan lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan bingung akan cita-cita serta arah hidupnya. Tampak dari dialog Yuni dan Ibunya via telepon.


Yuni: Tadi Bu Lis tanya Yuni, mau terusin ke perguruan tinggi atau nggak. Katanya suruh diobrolin sama ibu bapak.

Ibu Yuni: Oh gitu. emang kamu mau terusin ke perguruan tinggi.

Yuni: Ya pengin sih.


Tapi keinginan Yuni ini tidak tampak sebagai sesuatu yang dia perjuangkan habis-habisan, melainkan masih tenggelam dalam kebingungan. Yang tentunya sangat lumrah sekali dialami oleh para remaja di mana buta akan kehidupan kuliah, bingung ingin pilih jurusan, dan langkah selanjutnya yang berkaitan dengan masa depan.


Seperti halnya dialog ini dilanjutkan sendiri oleh Yuni yang mempertegas kebingungan dirinya.

Yuni: Masih bingung juga. Soalnya kalo gak nerusin kuliah, terus ngapain?

Ibu Yuni: Bisa kerja di pabrik. atau ngajar PAUD Bu Ida.

Yuni: Selain itu?


Di sini ketika Yuni menanyakan adakah pilihan selain itu, ibunya justru tidak menjawab dan hanya mengatakan bahwa yang penting jangan jadi TKW (Tenaga Kerja Wanita), jangan jadi pembantu. Cukup ibu dan bapaknya yang kerja seperti itu. Ini sebetulnya menandakan bahwa orang tua Yuni tentu juga menginginkan Yuni memiliki masa depan yang lebih baik dari mereka, orang tuanya.


Lalu saat Yuni bertanya kalau bapaknya lebih ingin Yuni bagaimana, ibunya menjawab bapaknya ingin Yuni lanjut kuliah. Biar jadi pegawai. Ibunya juga sempat bertanya, “kalau mau jadi penyanyi harus sekolah musik, Yun?”


Dialog di telepon antara Yuni dengan ibunya ini saat Yuni sedang mencuci baju sebetulnya sesuatu yang menarik. Di satu sisi, keinginan kuliah Yuni didukung oleh bapaknya. Di satu sisi, ibunya juga mempertanyakan soal “menjadi penyanyi” yang berarti ibunya tahu apa kesenangan dan kebisaan Yuni.


Karena Yuni pun mengaku memang ingin kuliah antara jurusan Fisika atau Musik, di mana di dua bidang itulah dia punya nilai yang cukup mumpuni. Dialog ini sebenarnya terjadi dua arah, tidak ada pemaksaan dari pihak ibunya yang melarang betul-betul Yuni untuk melanjutkan kuliah, juga tidak ada singgungan sedikit pun soal menikah saja setelah lulus sekolah.


Ibunya masih membuka kemungkinan lain, kalaupun tidak kuliah, ya bekerja. Namun, hal itu perlahan berubah ketika para pria mulai tiba-tiba melamar Yuni. Karena ada pamali yang katanya kalau menolak lamaran sampai tiga kali akan susah kelak mendapatkan jodoh.


Diskursus yang Tidak Terwujud dalam Dialog

Ada dua adegan di mana Yuni bicara cukup Panjang dengan ibunya melalui telepon. Yang pertama adalah yang sudah dijelaskan di atas, ketika Yuni bingung mau kuliah atau apa. Yang kedua terjadi ketika Yuni tiba-tiba dilamar Iman, saudara Wa Tardi, tetangga depan rumahnya.


Seolah percakapan pertama di telepon itu menguap begitu saja bersama angin, tidak masuk ke dalam telinga ibunya Yuni.


Ibunya cuma bingung kenapa orang yang baru kenal Yuni langsung melamar. Begini dialog mereka.

Ibu Yuni: Lalu gimana? Kamu gak mau nikah?

Yuni: Yuni gak pernah mikirin nikah, Bu. Mikirin pacaran aja gak.

Ibu Yuni: Emangnya rencana kamu apa?


Di sini tampak betul bahwa ibu Yuni tidak pernah benar-benar peduli pada keinginan anaknya yang pernah diutarakan, walau memang tidak terlalu lantang.

Di sini juga Yuni tampak terdiam sejenak, dan hanya menjawab.

Yuni: Ya Yuni juga gak tau, Bu. Yuni masih ingin coba banyak hal. Mau lulus, mau nerusin sekolah lagi kayaknya.

Ibu Yuni: Tapi masih bingung kan mau masuk jurusan apa?


Kebingungan yang sebaiknya bisa dibantu atau diarahkan oleh orang tua, justru membuat remaja seperti Yuni semakin bingung dan tambah cluelessYuni balik bertanya lagi apakah ibu dan bapaknya memang ingin dia menikah. Ibunya cuma menjawab bahwa tidak menyangka anaknya akan dilamar secapat itu.

Ibunya pun memberikan kesempatan Yuni untuk memikirkan sendiri apa yang terbaik untuk Yuni. 

 

Belenggu yang Samar Tetaplah Sebuah Pasungan

Kita tidak melihat sosok pemuka agama yang radikal di film ini. Agama tampil tidak terlalu menonjol. Bahkan dari simbol-simbol yang dihadirkannya. Berbeda misalnya dengan film  Perempuan Berkalung Sorban yang memang bahkan dari judul serta posternya saja membawa atribut keagamaan tertentu.


Di film Yuni kita akan dengan mudahnya melihat bahwa unsur agama sebenarnya tidak sekental atau sedalam itu.


Seperti misalnya dari Yuni dan teman-temannya yang hanya pakai kerudung saat di sekolah atau dari nenek Yuni yang bahkan berkerudung dan juga merokok serta pakai daster lengan pendek.


Tapi, bahkan yang tampak tidak radikal pun bukan berarti tidak membahayakan. Terlihat bagaimana niatan Mang Dodi yang ingin poligami padahal sudah kakek-kakek. Belum lagi bagaimana dia memandang keperawanan sebagai sesuatu yang menambah "value" Yuni sebagai perempuan sampai dia mau menambah "harga" Yuni sebesar dua kali lipat dari mahar yang diberikan (total Rp50 juta) jika di malam pertama Yuni ternyata masih perawan.


Kerumitan yang dirasakan perempuan melalui tubuh, pikiran, dan perasaannya mungkin bisa juga kita temui dalam film seperti Pieces of a Woman (2020) atau Marriage Story (2019), hanya saja, tentu tantangan Yuni sebagai perempuan Indonesia jauh lebih berlapis.


Gempuran itu datang dari norma agama, sosial, adat, kepercayaan, dan lain sebagainya yang membuat kondisi seorang perempuan di Indonesia bisa sangat terepresi. Sedikit diangkat juga tentang bagaimana isu keperawanan mencuat ketika sekolah Yuni hendak mengadakan tes keperawanan, hingga Mang Dodi yang melipatgandakan mahar asalkan Yuni masih perawan. Sedangkan tokoh perempuan-perempuan di film luar negeri saat ini tentu tidak perlu mengalami perendahan harkat dan derajat hanya semata-mata "sudah tidak perawan".


Di film ini kita akan melihat beragam selubung samar itu menjadi tantangan bagi Yuni dan tokoh-tokoh perempuan lainnya di film ini, Tika yang menjadi ibu muda yang tidak dibantu oleh suaminya dalam mengurus anak dan belum pernah merasakan orgasme sejak menikah, Sarah yang dipaksa menikah muda dengan pacarnya oleh masyarakat yang memergoki mereka berduaan, Suci yang mengalami KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) oleh suaminya, juga Asih yang memilih menjadi pribadi dengan gender yang berbeda, tapi hidupnya terasingkan oleh keluarganya. Bahkan Bu Lilis, yang tidak didukung oleh Kepala Sekolah ketika ingin membantu muridnya (terutama perempuan) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kita melihat bagaimana Kepala Sekolah di sekolah Yuni menasihati Bu Lilis untuk tidak mengiming-imingi beasiswa kuliah kepada siswanya, terutama perempuan. Yuni, bukan hanya terbatasi oleh tidak adanya dukungan dari keluarga, tapi juga bahkan dari institusi pendidikan tempatnya menimba ilmu.

 

Ketika Yuni Berbicara Melalui Tubuhnya

Foto: imdb.com

Yuni gemar bernyanyi, tapi di sekolahnya kegiatan musik ditiadakan karena alasan suara adalah aurat. Suara di sini menjadi luas cakupannya, yaitu juga sebuah pendapat, gagasan, pikiran. Tentu tampak jelas bagaimana dari awal sampai akhir keinginan Yuni ingin kuliah seolah tak ada yang betul-betul mendengarnya.


Bicara soal bagaimana tubuh perempuan dan pengalaman perempuan yang berbeda dan perlu diangkat sebagai cara perempuan untuk bersuara, dilihat dan didengar, tentu tidak bisa lepas dari apa yang diperjuangkan oleh para feminis postmodern, salah satunya filsuf Helene Cixous.


Unheard dan unseen tidak jauh berbeda, menurut Cixous dalam bukunya, keduanya merupakan istilah untuk mengungkapkan "pembacaan" pada sesuatu yang "tidak terbaca", yang dapat terletak pada kerapuhan, namun itulah yang menjadi sebuah penemuan, invention (Cixous, 1998).


Di film Yuni, elemen-elemen seperti pembalut, celana dalam, dan bra yang ditampilkan secara lugas, turut membangun cerita, membantu “menjernihkan” hal-hal yang tampak “berkabut” sejak awal.


Ketika Yuni perlahan menemukan dirinya, dalam kalimatnya jelas, walau dia tidak tahu di masa depan dia ingin jadi apa, yang jelas tidak ingin suram. Hanya saja keinginan-keinginan itu tidak benar-benar dipahami oleh orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang-orang masih saja terus bertanya, “Yuni rencananya apa?”


Cixous juga menyebutkan dalam bukunya Laugh of Medusa (1976) tentang tubuh perempuan harus didengar, yang ia jabarkan dapat dilakukan dengan menulis, atau seksualitas. Karena tubuhnya itulah yang bisa dijadikan media perjuangannya. Di sini Yuni memang tidak berjuang melalui tulisan, tapi itulah yang dilakukan oleh Kamila Andini selaku sutradara dan penulis naskah film ini. Melalui karyanya inilah cara Kamila Andini juga “bersuara”.


Sementara tubuh Yuni jelas sekali dari beberapa adegan di film ini, mulai dari bagaimana dia menolak lamaran-lamaran, bagaimana dia dengan secara sadar dan sengaja berhubungan seksual dengan teman sekolahnya yang menaruh hati padanya, Yoga (Kevin Ardilova) di sebuah ruangan kosong.


Saat itu Yuni, menghampiri Yoga terlebih dulu, di mana Yoga hanya terdiam, dan Yuni juga yang mengarahkan tangan pria itu ke payudaranya. Ditambah juga adegan saat Yuni masturbasi. Di sini pemikiran Yuni akan kebebasan termanifestasi melalui tubuhnya. dengan menghancurkan sensor, ya Kamila bahkan mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Magdalene.co bahwa tidak ada yang dihilangkan dari naskahnya, dia berhasil mengartikulasikan limpahan makna yang mengalir ke segala arah.


Ketika hidup dalam lingkungan dengan budaya yang cenderung represif, diam tentu bukan menjadi jalan keluar. Yuni sudah mengupayakan banyak hal agar dirinya didengar, tapi orang-orang di sekitarnya masih saja menganggap Yuni sebagai hal yang tidak "terbaca".


Meski berbicara melalui tubuh dan aspek seksualitas, tubuh yang menjadi sarana Yuni untuk berbicara tidak menjadi suatu hal yang vulgar, melainkan puitis; poetic body dalam istilah Cixous), karena tubuh di sini menjadi sebuah penanda (signifier). Di sinilah bahasa menjadi sesuatu hal yang sublim.


Ketika tubuh yang menjadi narasi, menjadi teks yang bicara (speak) bukan lagi hanya terlihat (seen) tapi juga terdengar (heard).


Yuni yang tampak memakai celana dalam dan bra, Yuni yang terlihat mengenakan pembalut, Yuni yang masturbasi, Yuni yang menghampiri Yoga untuk berhubungan seksual, bukanlah adegan-adegan sensual yang semata “kosong” tetapi inilah cara Yuni “berbicara” melalui tubuhnya. Inilah jouissance seperti yang dikatakan oleh Cixous.


Cixous mengaitkan jouissance sebagai kesenangan atau gairah seksual perempuan, yang tergabung dalam aspek mental, fisik, dan spiritual, yang justru menjadi sumber kekuatan kreatif seorang perempuan untuk menemukan sepenuhnya "suara" mereka.


Usai berhubungan badan dengan Yoga, Yuni pun mengutarakan hal-hal yang ingin dia suarakan. Tentang keresahan dia. Bagaimana dia merespon soal pamali ketika hendak menolak lamaran kedua, dengan jelas dia bilang tidak mau dimadu, apalagi dengan kakek-kakek.


Dan bagaimana juga dia mengeluh tentang dirinya yang tidak bisa menceritakan semua itu kepada keluarga dan teman-temannya. Karena akan selalu ditanya balik, “apa cita-citanya”, di saat dia pun juga tidak tahu mau jadi apa, yang dia tahu pasti hanya tidak mau masa depannya suram.


Namun, di balik semua kebingungan Yuni, kita juga akan melihat dan mendengar, bagaimana dia menolak lamaran-lamaran itu dengan tegas. Kepada Iman, dia bilang dia tidak mau menikah dengan Iman. Kepada Mang Dodi, Yuni bilang dirinya sudah tidak perawan agar tidak dinikahi. Kepada Pak Damar, Yuni kabur dari rumahnya di saat acara pernikahan.


Semua keputusan itu diambil Yuni sendirian. Tidak ada bantuan dari keluarganya untuk ikut menolak lamaran tersebut. Menarik melihat bagaimana Yuni yang masih gamang soal masa depannya, tapi punya ketegasan yang dia bangun sendiri soal beragam lamaran yang tidak jelas tersebut.


Tubuh Yuni yang sudah sangat puitis sejak awal, sempurna puitisnya pada bagian ending film, berjalan sendiri di atas pasir. Di atas tanah yang penuh kerikil dan tampak tidak rata, dengan baju pengantin warna ungu serta diguyur hujan di tengah lapang sambil diiringi puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni, sungguh mewakili tindakan Yuni saat itu. Di mana dia melangkah tanpa keraguan, dan tanpa perlu berucap apa-apa lagi.


Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

 

 Daftar Pustaka

Cixous, Helene, dan Derrida Jacques. 2002. Veils. California: Stanford University Press.

Cixous, Helene. 1976. The Laugh of Medusa. Chicago: The University of Chicago Press.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar