Jumat, 30 Maret 2018

Tersiksa Karena Diare Saat Hamil dan Menyusui

Maret 30, 2018



Ada banyak hal di dunia ini yang sulit dibayangkan jika belum pernah dialami secara nyata. Salah satunya menjadi ibu. Menjadi ibu itu tidak bisa dikhayalkan sebelum benar-benar merasakannya. Saya baru merasakan bahwa menjadi ibu dibutuhkan perjuangan yang luar biasa, ketika memiliki Arina, anak saya. Baby blues setelah melahirkan adalah salah satu cerita, yang sudah saya tulis di sini. Diare, adalah cerita lainnya.

Jangan pernah sepelekan diare. Saya sudah beberapa kali dirawat di rumah sakit karena masalah ini. Salah satu yang paling parah adalah saat saya hamil 6 bulan. Sejak pagi, perut saya tidak enak. Saya buang-buang air sampai empat kali. Untungnya, saat itu sedang ada suami saya. Saat perut saya kembali melilit luar biasa, langsung menjerit dan bilang, “Bawa aku ke rumah sakit, sekarang!”

Sebegitunya saya nggak tahan sama sakitnya. Padahal, saya tipikal orang yang kalau sakit, ke dokter aja males. Kalau saya sampai minta ke rumah sakit, itu artinya saya udah bener-bener nggak kuat. Di rumah sakit saya langsung masuk UGD. Setelah diinfus dan diambil darahnya, saya dinyatakan harus dirawat. Karena ada infeksi di saluran pencernaan.

Diare saat nggak hamil aja udah menyiksa, ini saat lagi hamil enam bulan. Rasanya nusuk banget sampai ke ulu hati. Dokter kandungan saya saat itu juga ikutan meriksa. Saya dikasih obat antikontraksi. Karena khawatir kalau karena sakit perutnya ini bisa memicu kontraksi, sedangkan usia kandungan baru enam bulan.

Saya juga di-USG, untuk tahu apakah si bayi baik-baik saja saat ibunya buang-buang air terus begini.

“Ibu abis makan apa, sih?” tanya dokter kandungan saya saat itu.”

“Seinget saya, saya makan biasa aja. Tapi memang kebetulan kemarin malam makan ayam bakar.”

“Di pinggir jalan, ya? Tempatnya bersih nggak? Ayamnya mateng bener, nggak? Besok-besok jangan makan sembarangan, ya Bu. Kalau bisa jangan yang di pinggir jalan, dan masakannya harus matang. Kalau kurang mateng bisa kemungkinan ada bakteri yang juga masuk.”

Saya langsung manggut-manggut.

Empat hari saya dirawat. Dan setelah melahirkan, diare ini kembali menghantui saya lagi. Tepatnya saat Arina baru berusia tiga bulan. Saya diare sampai sekitar lima belas kali di rumah. Lima belas kali dalam sehari! Ini rekor. Saya sampai lemes banget. Di samping itu saya masih terus nyusuin. Kebayang nggak rasanya gimana, nyusuin sambil badan lemes. Rasanya udah kayak dehidrasi dan mau pingsan. Alhasil karena badan udah semakin nggak enak dan sampai demam, saya minta dibawa ke rumah sakit.
 
Path mengingatkan saya pernah dirawat di rumah sakit karena diare :(.

Lagi-lagi saya harus dirawat. Diagnosanya ya karena diare akut. Untuk yang kali itu saya nggak tahu sebab pastinya apa kenapa saya diare. Yang jelas saat itu saya masih dalam keadaan sering limbung karena baby blues. Memangnya beban pikiran dan stres bisa mengakibatkan diare? Bisa banget!

"Saluran gastrointestinal kita, yakni lambung dan usus memiliki banyak saraf. Otak kita memengaruhi apa yang terjadi di saluran pencernaan kita dan juga sebaliknya,” ujar Kyle Staller, M.D., M.P.H., seorang Gastroenterolog di Massachusetts General Hospital seperti dikutip dari Self.com. Stres bisa membuat usus rentan meradang. Hasilnya bisa diare, atau sembelit. Akan tetapi, lebih sering akibatnya adalah diare. Pada akhirnya organ-organ dalam tubuh kita merupakan satu kesatuan, yang tentunya sangat dipengaruhi kondisi psikologis kita juga. Stres, kecemasan dan lain sebagainya dapat berdampak pada fisik kita. 

Arina terpaksa harus ikut nginap di rumah sakit karena saya dirawat :(. 


Tahu nggak rasanya lagi hamil besar dan bayi lagi aktif-aktifnya di dalem perut tapi terus diare? Setiap berapa menit saya meringis, sampai nggak bisa tidur di rumah sakit.

Tahu nggak rasanya buang air besar terus-terusan, cuma selang beberapa menit, sementara anak terus-terusan minta dinenenin?

Diare saat hamil dan menyusui itu sungguh menyiksa.

Nggak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Tubuh rasanya lemes selemes-lemesnya. Rasanya nggak tega waktu dirawat karena Arina jadi harus ikut nginep di rumah sakit.

Dirawat di rumah sakit setelah belasan kali buang air besar dalam sehari


 Mencegah dan Mengatasi diare


Diare sepertinya terlihat sepele, tapi menurut Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI tahun 2011 tentang Situasi Diare di Indonesia, pada tahun 2008, diare dan gastroenteritis merupakan penyakit urutan pertama yang menyebabkan pasien rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia, dengan jumlah pasien sebanyak 200.412. Urutan ini disusul oleh penyakit demam berdarah dengue, serta demam tifoid di urutan kedua dan ketiga. Apakah diare bisa menyebabkan kematian?  

Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2007, tentang penyebab kematian untuk semua umur, diare merupakan penyebab kematian ke-13, setelah penyakit jantung iskemik dan pneumonia. Bahkan, penyebab kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) yang terbanyak adalah diare, yakni sebesar 31,4%, lebih tinggi dari pneumonia (23,8%). Begitu juga penyebab kematian anak balita (usia 12-59 bulan), diare menjadi penyebab terbanyak (25,2%). 

Jadi, masih mau menganggap enteng diare? Diare bisa sampai menyebabkan kematian karena tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Karena itu, atasi diare dengan tepat dan benar. 

Karena sudah sering merasakan diare yang berdampak pada rawat inap di rumah sakit, saya ingin membagikan cara mencegah dan mengatasi diare yang saya dapat dari dokter-dokter yang pernah menangani saya.

1. Cuci Tangan

Cuci tangan mungkin terlihat persoalan sepele. Tapi, kuman itu paling banyak ada di jari dan tangan kita. Kalau kita makan tanpa cuci tangan dengan bersih, ada kuman-kuman yang ikut masuk ke dalam tubuh. Cuci tangan tidak hanya sebelum dan sesudah makan saja, tapi juga ketika hendak mengolah makanan.

2. Perhatikan Kebersihan Makanan

Bukan hanya kebersihan tangan yang penting tapi juga kebersihan makanan yang kita konsumsi. Paling baik tentunya kita mengonsumsi makanan yang kita olah sendiri. Kita tahu sumbernya dari mana, mengolahnya dengan higienis, dan tentunya tanpa pengawet dan bahan-bahan kimia berbahaya. Tapi, jika ada keadaan yang memaksa tidak bisa mengonsumsi makanan yang dibuat sendiri, ada baiknya pilih tempat makan yang memang terjamin kualitas makanan dan kebersihan tempat makannya.

3. Hidrasi Tubuh dengan Baik

Jangan sampai tubuh kekurangan cairan saat diare. Diare pada dasarnya adalah reaksi tubuh ketika ada hal yang tidak beres dan tubuh ingin mengeluarkan racun tersebut. Karena proses pengeluarannya inilah, banyak cairan tubuh yang ikut larut, keluar dan hilang. Karena itu penting untuk mengganti cairan tubuh yang hilang dengan minum air putih yang cukup dan minum oralit.

4. Fasilitasi Stres dengan Baik

Sama seperti emosi pada umumnya, stress harus bisa dikeluarkan agar tidak membahayakan kondisi tubuh kita. Yang perlu diperhatikan dari stres adalah bukannya melenyapkannya, tapi mengeluarkannya dengan cara yang efektif. Misalnya, jika ingin marah, ya marahlah. Ingin sedih, ya menangislah. Usahakan untuk tetap mengontrolnya, jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Karena stres yang dipendam sama seperti memelihara monster yang dipasung. Dampaknya bisa lebih parah dan fatal untuk jangka panjangnya.
  

5. Tingkatkan Daya Tahan Tubuh

Jika daya tahan tubuh kita meningkat, penyakit juga akan jauh dari kita. Diare biasanya rentan menyerang orang-orang yang daya tahan tubuhnya sedang lemah. Karena itu usahakan selalu makan makanan yang sehat, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup. Bila perlu konsumsi vitamin supaya nggak gampang sakit.

6. Minum Obat Diare

Jika diare sudah mengganggu, sementara kondisi fisik masih bisa beraktivitas da nada kegiatan penting yang tidak bisa ditinggalkan, segera atasi diare dengan minum obat diare. Tapi, ingat, diare itu alarm tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang tidak semestinya ada di tubuh, jangan langsung menghentikannya secara tiba-tiba. Ini bisa membuat organ kaget, dan racun yang harusnya keluar malah tidak bisa keluar. Obat diare yang terlalu keras juga justru malah bisa menyebabkan sembelit. Pilih obat yang bukan tiba-tiba membuat “mampet”, tapi, yang dapat menyerap racun, bakteri, dan virus, kemudian mengeluarkannya dari tubuh kita.


Jika diare tidak juga berhenti dan justru membuat tubuh semakin lemas, segera hubungi dokter. Yuk, jadi manusia yang semakin sadar akan tubuhnya sendiri. Dengan meningkatkan kesadaran akan gejala penyakit yang datang menghampiri, kita akan lebih sayang lagi dengan tubuh kita ini. Punya pengalaman juga seputar diare dan cara mengobatinya? Boleh share di kolom komentar ya! 


Foto dan desain grafis: Aprillia Ramadhina

Referensi: 
- Situasi Diare di Indonesia, Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI tahun 2011
- https://www.self.com/story/stress-diarrhea-and-constipation

Kamis, 29 Maret 2018

Jalan-jalan ke Taman Gajah Tangerang

Maret 29, 2018



 Arina mulai jalan dari sekitar umur 13 bulan kalau nggak salah. Supaya dia lebih lancar lagi jalannya, saya dan suami penginnya ajak dia jalan di taman. Tapi, di dekat rumah nggak ada taman. Jadilah saya searching taman yang ada di Tangerang. Munculah Taman Gajah. Kami bertiga pun ke sana pada suatu sore yang cerah di akhir pekan. Pas sampai sana, ternyata rameee banget! Ya mungkin karena ini liburan yang murah meriah dan memang jarang banget ada taman di Tangerang.



Masuknya tentunya gratis, cuma bayar parkir aja. Di dalam taman selain banyak tempat buat duduk dan nongkrong-nongkrong ada banyak permainan anak-anak juga. Uniknya semua terbuat dari ban. Ternyata memang karena taman ini disponsori sama Gajah Tunggal, perusahaan ban itu. Namanya aja jadi Taman Gajah. Selain untuk main anak-anak, pasangan pacaran, karena dekat dengan sungai, taman ini juga dijadiin tempat mancing.



Kalau lapar juga bisa makan di sini, ada banyak jajanan. Mulai dari somay, kentang goreng, mie instan, dan masih banyak lagi. Harganya juga terjangkau banget, mulai dari Rp 10 ribuan. Jadi bawa Rp 50 ribu aja udah bisa jajan banyak di sini. Kebayang kan kalau jalan-jalannya ke mall, duit segitu dapat apa kalau bawa keluarga? Haha.



Di sini juga ada musala dan toilet. Letak taman ini persis di sampingnya Yuppentek. Enaknya kalau ke sini ya kalau nggak pagi-pagi ya sore-sore. Kalau siang pasti panas. Sayangnya tempat sampahnya nggak terlalu banyak. Jadi kalau mau buang sampah ya mesti agak jalan sedikit dulu lah. 



Bakal main ke sini lagi? Pastinya. Biar nggak ke mall mulu kalau jalan-jalan. Semoga makin banyak taman di Tangerang, biar jadi tempat wisata keluarga. Karena kalau yang orang tahu cuma Taman Gajah ya jadinya gitu, penuh dan terlalu ramai. Untungnya sih tamannya luas juga. Jadi bisa tetap nyaman. Nggak cuma keluarga yang kelihatan liburan di taman. Banyak juga pasangan yang pacaran. Cocoklah buat pasangan yang mau cari suasana baru atau ya sekadar bokek aja, hahaha.

Foto: Aprillia Ramadhina & koleksi pribadi



Sabtu, 24 Maret 2018

Peran Fundamental Edukasi dalam Memajukan Bangsa

Maret 24, 2018



Sekolah mengajarkan kita untuk selalu seragam, tapi dunia luar mengharuskan kita menjadi yang berbeda, untuk bisa outstanding. Di sekolah kita harus mahir di banyak pelajaran, sementara di kehidupan, mereka yang bertahan adalah yang punya keahlian khusus dan spesifik.

Apa sih fungsinya pendidikan kalau kita bisa belajar dari sekolah kehidupan? Apa sih pentingnya edukasi kalau semua orang di sekitar bisa kita jadikan guru? Sejak dulu, saya sering bertanya-tanya, buat apa sekolah? Kenapa banyak sekali peraturan di sekolah?

Sepatu dan kaos kaki saya pernah disita guru waktu SMA karena sepatu saya ada garis berwarna merahnya (tidak hitam semua). Begitu juga kaos kaki saya, ada gambarnya (tidak putih semua). Tapi, saat disita, saya punya akal lain. Sebagai pengurus OSIS saat itu, tentunya saya punya loker di ruang OSIS. Di sana saya menyimpan sandal jepit. Jadi, tak masalah sepatu saya disita, saya tetap bisa pakai alas kaki.

Ibu saya juga pernah dipanggil untuk ketemu guru BK (Bimbingan dan Konseling) karena saya sering sekali datang terlambat. Saat terlambat, biasanya saya dihukum tidak boleh masuk kelas sampai dua jam pelajaran. Bagi saya itu tak masalah. Justru enak nggak harus ada di kelas.

Setelah menunggu, biasanya kami yang terlambat dihukum lari keliling lapangan. Yang selalu menghukum kami itu adalah Pembina OSIS. Dan berhubung saya pengurus OSIS, Pembina OSIS ini hafal bangetlah sama muka saya. Dia selalu bilang, sambil geleng-geleng kepala nggak habis pikir kalau lihat saya telat, “April, April. Kamu ini anak OSIS kok hobinya telat. Bukannya jadi panutan dan kasih contoh untuk anak-anak lain.”

Saya cuma cengar-cengir aja.

Kenapa saya yang rumahnya nggak jauh-jauh amat dari sekolah bisa sering terlambat? Karena saya senang menerobos pagar sekolah di detik-detik menjelang pagar itu ditutup. Mendebarkan memang, tapi seru. Itu salah satu keseruan yang bisa saya temukan dari sekian banyak pelajaran yang membosankan di kelas.

Ditegur Guru Matematika di SMA

Image: Aprillia Ramadhina


Karena sering terlambat, beberapa kali saya tidak masuk saat pelajaran matematika, berhubung pelajaran itu dijadwalkan di dua jam pertama. Saat itu kalau absen kita lebih dari tiga kali dalam sebulan, kita nggak boleh ikut ulangan.

Saya pernah kena tegur saat absen saya sudah dua kali dalam sebulan, sementara saat dia melihat nilai-nilai saya tidak ada yang jelek. Ia agak heran kenapa saya yang absennya banyak bisa tetap dapat nilai bagus. Kemudian dia bilang kalimat yang cukup menohok. “Percuma kamu pintar kalau nggak disiplin.”

Ketika sudah tak lagi berada di dunia sekolah, saya tahu mengapa datang tepat waktu itu penting. Karena itu bagian dari respek kita terhadap orang yang sudah meluangkan waktunya untuk kita. Waktu adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki manusia. Ketika seseorang memberikan waktunya untuk bertemu kita dan kita justru menyia-nyiakannya dengan terlambat menemuinya, itu sama saja kita tidak menaruh rasa hormat kepadanya dan telah membuatnya kehilangan hal berharga yang bahkan tak bisa kita kembalikan lagi.

Pada akhirnya, peraturan di sekolah, seabsurd apa pun itu, walau kelihatannya tak ada kaitannya dengan menentukan isi kepala seseorang, dibuat untuk menciptakan keadilan. Ada hukuman dan sanksi yang sama bagi siapa pun yang melanggar, tanpa pandang bulu. Pendidikan memang tidak bertujuan untuk membuat murid sekadar pintar, tapi juga santun dan punya respek terhadap orang lain.

 
Belajar dari Kehidupan di Jalanan

Image: Aprillia Ramadhina


Saya juga pernah terjun ke jalanan sewaktu masih kuliah. Merasakan secuil perjuangan mereka yang hidupnya mengamen dari satu bus ke bus lainnya. Mengalaminya membuat saya semakin sadar, bahwa proses itu jauh lebih penting dari hasilnya.

Teman pengamen saya itu bilang begini, “Jalanan itu cuma proses, Pril. Kita juga nggak mau kok selamanya di jalanan. Gue pengin suatu saat kayak teman gue, yang tadinya cuma ngamen di bus, jadi nyanyi di kafe. Dari pengamen jalanan, terus jadi punya album.”

“Kenapa nggak kerja yang lain aja?” tanya saya.
“Kalau ada kerjaan yang lebih baik juga gue mau kok. Andai aja gue sekolah lebih tinggi.”
Ya, pada akhirnya pendidikan dan edukasi itu penting. Walaupun ilmu memang bisa didapat dari mana saja.
“Gue nggak bisa ngelamar kerjaan yang lebih bagus karena gue nggak punya ijazah sarjana kayak lo nanti, Pril.”

Kita nggak bisa menutup mata. Untuk di beberapa bidang pekerjaan, latar belakang pendidikan itu masih dipentingkan. Memang Steve Jobs dan banyak tokoh dunia lainnya membuktikan bahwa kecerdasan mereka lebih penting dari institusi pendidikan atau sekadar duduk di bangku sekolah. Tapi, toh nggak semua orang bisa kayak Steve Jobs.

Dari mereka yang hidupnya jauh lebih keras dari saya, saya belajar untuk tidak memadamkan mimpi. Sebesar apa pun. Semustahil apa pun kelihatannya. Dari hukum rimba yang berlaku di jalanan, di mana yang kuat yang bertahan, saya belajar untuk mengasah mental agar sekuat baja.

Dari edukasi yang saya dapat di institusi pendidikan dan pengalaman nyata mengecap dunia jalanan, saya semakin yakin, edukasi dan pendidikan adalah tonggak utama yang membuat individu lebih berkarakter.

Orang yang teredukasi dengan baik memiliki peluang lebih banyak untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak, akses kesehatan yang lebih baik, serta dapat memilah informasi yang lebih akurat tentang apa pun.
Tahun 2014, saya pernah ikut jadi relawan mengajar Kelas Inspirasi Desa di Cikidang, Sukabumi. Photo: Ima Lolaita


Edukasi Membantu Kita Menemukan dan Mengeluarkan Potensi Terbaik yang Kita Miliki

EduCenter, mall edukasi pertama di Indonesia. Image: Aprillia Ramadhina. Photo: Educenter.id



Akar masalah dari kemiskinan dan rendahnya kualitas hidup adalah karena kurangnya pendidikan. Maka, penting bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang dapat meningkatkan kompetensinya untuk bersaing di masa depan secara efektif dalam ekonomi global. Penting juga bagi mereka untuk memiliki kemampuan yang lebih khusus sesuai minat dan bakat mereka. Kemudian mendalaminya hingga ketika dewasa, mereka akan mahir di bidang tersebut.

Untuk mendapatkan edukasi terbaik, terkadang, pendidikan di sekolah perlu ditopang dengan pendidikan lain di luar sekolah, seperti mengambil kursus untuk lebih dalam mempelajari suatu keahlian tertentu. Dengan kursus, anak bisa memilih kemampuan apa yang ingin mereka kuasai dengan waktu yang juga bisa mereka sesuaikan sendiri.

Selain menambah pengetahuan, kursus di luar sekolah juga membuat anak bisa punya kehidupan lain di luar sekolah. Mereka bisa bersosialisasi dengan anak-anak yang berasal dari sekolah lain, sehingga pertemanan mereka lebih kaya dan beragam.

Tapi, jika anak ingin mendalami lebih dari satu bidang, kursus di banyak tempat akan membuat anak lebih lelah karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain membuat lelah dan tentunya makan waktu lebih banyak. Akan lebih efektif jika ada satu tempat kursus yang bisa memuat banyak pilihan kursus yang sesuai dengan keinginan anak.

Memangnya ada? Ada. EduCenter namanya. Dalam satu gedung ada banyak institusi edukasi. Seperti mall, bisa bebas pilih sendiri mau ambil kursus yang mana aja, dari mulai kursus matematika, bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, musik, seni, hingga karate dan balet di satu tempat.


Image: Aprillia Ramadhina. Sumber: www.educenter.id


#EduCenter memang disebut sebagai mall edukasi pertama di Indonesia dengan konsep “one stop excellence of education”. Berlokasi di BSD, di sana ada banyak tempat kursus seperti Apple Tree Pre-School, UniSadhuGuna, Farabi Music School, Young Chefs’ Academy, CMA Mental Arithmetic, Shane Learning Centre, Calculus, Flamingo Studio, Wow Art Studio, Far East Education. Tidak hanya itu, selain tempat kursus juga ada restoran, food court, dan taman bermain anak. Jadi, selain lengkap untuk belajar, anak-anak juga bisa bermain. Belajar tentunya juga harus diimbangi dengan bermain agar anak tidak stres dan tertekan.

Suasana kelas balet di Flamingo Studio di EduCenter. Photo: Instagram @educenterid


 
Mengeduksi Diri, Memajukan Negara

Image: Aprillia Ramadhina

Negara yang maju adalah negara yang masyarakatnya terdidik dengan baik. Edukasi menjadi kunci kemajuan suatu bangsa. Karena ketika sistem pendidikan berjalan dengan baik, maka jangka panjangnya pembangunan di berbagai bidang juga akan meningkat.

Sederhananya seperti ini, orang yang terdidik dengan baik akan lebih berkarakter, karakter ini membentuk potensi dan diri yang kemudian membuat dirinya mampu bersaing dan memperoleh hidup yang lebih sejahtera. Ketika seseorang sejahtera, ia akan mudah mendapatkan akses-akses serta informasi ke berbagai bidang, mulai dari teknologi, kesehatan, serta ekonomi.

Mereka tahu bagaimana meningkatkan taraf kehidupan dengan memanfaatkan teknologi. Mereka lebih sadar diri untuk hidup sehat karena akses informasi tak terbatas ada dalam genggaman sehingga terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya yang merugikan. Karena terdidik, mereka bisa hidup lebih sehat, produktif dan sejahtera.

Orang yang berpendidikan dapat bekerja dan mendapat upah lebih layak. Jika tidak, mereka juga bisa memulai bisnis dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Memang untuk jadi pengusaha tidak ada syarat harus mengenyam pendidikan tinggi, tapi bukan berarti mereka tidak mempelajari suatu keahlian khusus atau berusaha lebih giat lagi.

Ketika orang-orang yang teredukasi dengan baik ini bekerja dan menghidupi dirinya dengan layak, maka kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat. Ketika kesejahteraan meningkat, negara juga akan lebih maju.


Contoh Edukasi Terbaik dari Negara Paling Bahagia di Dunia

Tahun ini Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia. Data ini didapat dari World Happiness Report 2018 yang dikeluarkan oleh PBB. Peringkat ini ditentukan berdasarkan penilaian terhadap banyak aspek, beberapa di antaranya dari kekuatan ekonomi dan tingkat harapan hidup.

Jika mau ditelusuri, Finlandia selain sebagai negara paling bahagia ini juga memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Itu dijelaskan dalam video yang diunggah di Facebook World Economic Forum berjudul This is why Finland is one of the best places in the world to be a student.





Di Finlandia murid jarang diberikan Pekerjaan Rumah (PR), sebaliknya mereka lebih banyak didorong untuk bermain. Sekolah juga boleh mengatur jam belajarnya sendiri. Anak-anak di sana memperoleh kesetaraan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan.  Profesi guru juga dihormati dan dihargai tinggi, serta dibayar dengan layak.

Finlandia menggelontorkan sekitar 1, 2% dari GDP untuk pendidikan. Jumlah ini lebih banyak dibanding negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) lainnya yang hanya berkisar 0.8 %

Tahun ini Indonesia mengalami penurunan peringkat dalam daftar World Happiness Report. Indonesia yang sebelumnya berada di peringkat 81 menjadi peringkat 96 dari 156 negara. Berkaca dari Finlandia, ternyata ada korelasinya sistem pendidikan yang maju dengan tingkat kebahagiaan bangsa. Jika Indonesia bisa memperbaiki kualitas pendidikannya dan masyarakat yang terdidik dengan baik semakin banyak jumlahnya, bangsa kita tidak hanya lebih maju, tapi juga sekaligus akan lebih bahagia.

Foto feature image: Aprillia Ramadhina