Senin, 31 Oktober 2016

Segudang Manfaat Menggunakan Uang Elektronik

Oktober 31, 2016


Saya merupakan tipe orang yang nggak suka bawa uang tunai banyak-banyak di dompet. Alasannya karena kalau saya pegang uang tunai pasti jadi lebih boros, dan merasa kurang aman, karena saya pernah beberapa kali kehilangan dompet. Maka itu saya membiasakan diri dan lebih senang berbelanja menggunakan uang elektronik atau e-cash atau uang digital. Karena bank tempat saya menabung adalah BCA sejak tahun 2013 sampai sekarang, uang elektronik yang saya gunakan adalah Debit BCA dan Flazz.

Saya sering belanja pakai Debit BCA untuk transaksi bernilai kecil seperti ketika membeli buku, kebutuhan rumah tangga di minimarket dan supermarket, makan di restoran, mempercantik diri di salon hingga transaksi yang lumayan besar seperti membeli lemari dan televisi. 

Apa aja sih enaknya punya kartu Debit BCA?

ATM BCA Ada Di Mana-Mana


Kartu Debit BCA selain untuk belanja juga merupakan kartu ATM. Jadi, kalau kebetulan dapat merchant yang nggak bisa melayani transaksi dengan kartu atau mesin EDC nya lagi nggak bisa digunakan, bisa langsung ambil uang tunai dulu di ATM BCA terdekat. ATM BCA mudah banget ditemukan di mana saja, di mall, pom bensin, minimarket dan tempat-tempat umum lainnya. Selain untuk mengambil uang tunai, saya juga biasanya beli pulsa via ATM, daripada pusing-pusing cari tukang pulsa.

Bisa Digunakan di Banyak Merchant

Belanja kebutuhan hari-hari di Indomaret, minimal pembeliannya Rp 20 ribu

Debit BCA ini bisa banget digunakan di banyak merchant. Ada puluhan ribu merchant bertanda Debit BCA yang tersebar di seluruh Indonesia. Saya sering menemukan toko yang cuma bisa pakai Debit BCA untuk transaksi elektroniknya. Jadi, saya selalu tidak lupa memastikan kartu Debit BCA saya banyak saldonya, biar nggak repot.

Saldo Minimum yang Ditahan di Bawah Rp 50 Ribu

Ini yang paling saya suka, pernah beberapa hari lalu, saldo saya tinggal Rp 70 ribu, dan masih bisa diambil Rp 50 ribu. Pernah punya bank lain, yang saldo minimumnya Rp 100.000 dan itu agak bikin nyesek kalau pas lagi butuh-butuhnya perlu uang, dengan pakai BCA saya nggak perlu sesedih itu.

Lebih Hemat dan Nggak Perlu Nerima Kembalian dalam Bentuk Permen

Kalau belanja pakai kartu debit, jumlah uang kita yang berkurang ya sejumlah nominal barang belanjaan kita. Misalnya, kalau harga barangnya Rp 130 ribu, ya berkurangnya segitu. Beda dengan kalau tarik tunai di ATM dulu, pasti harus nariknya Rp 150 ribu, belum lagi kalau pecahannya Rp 100 ribu, jadi yang diambil harus Rp 200 ribu. Nah, sisa kembalian ini pastinya sangat menggoda buat dibelanjakan lagi, jadinya lebih boros. Ini juga sangat menguntungkan ketika pedagang bisanya suka banyak alasan bilang nggak ada uang kecil atau nggak ada kembalian dan menyuruh kita untuk beli barang lain supaya uangnya pas, kalau pakai debit nggak ada alasan tuh kembalian kurang seribu ditawarin diganti permen!

Naik Kereta Tanpa Antre di Loket

Selain Debit BCA, uang elektronik yang saya punya adalah Flazz. Saya beli Flazz di halte bus Transjakarta. Dari berbagai tawaran kartu yang dikeluarkan bank lain saya lebih memilih Flazz, karena saya punya kartu Debit BCA, jadi lebih mudah juga untuk isi ulang (top up). Selain untuk naik bus Transjakarta, Flazz juga saya gunakan untuk naik kereta Commuter Line. Sebelum resign karena hamil, saya kerja di daerah Tebet dan rumah saya di Tangerang. Setiap hari pulang-pergi saya naik kereta dan Flazz ini sangat memudahkan perjalanan, saya nggak perlu buang-buang waktu setiap mau naik kereta harus antre di loket. Lamanya antre di loket bisa buat saya terlambat dan ketinggalan kereta. Pernah suatu ketika kartu Flazz saya tertinggal di rumah, dan sedih banget karena harus antre panjang.
Sayangnya Flazz ini punya kekurangan, kalau hilang dan ditemukan orang lain dalam keadaan saldo yang lumayan, agak rugi juga. Karena menggunakannya mudah banget nggak perlu pakai pin seperti kartu ATM. Saya pernah kehilangan dompet, beberapa hari kemudian, dompet ternyata ada yang mengembalikan, setelah saya periksa, yang masih utuh justru kartu ATM BCA saya, sementara uang tunai dan Flazz hilang tak bersisa. Beruntung saya nggak pernah taruh uang tunai banyak-banyak di dompet dan untungnya lagi, Flazz saya kebetulan isinya nggak banyak, jadi nggak sedih-sedih banget.

 #MyBCAexperience #InovasiBCA


Foto: Aprillia Ramadhina


berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition

Jumat, 14 Oktober 2016

6 Cara Jitu Menghadapi Masa Bokek

Oktober 14, 2016



Setiap orang bahkan yang sudah begitu sigapnya mempersiapkan dana tak terduga, punya tabungan yang banyak, berinvestasi di sana-sini, pastilah pernah mengalami satu masa dalam sepanjang hidupnya dimana dirinya menghadapi kesulitan keuangan atau permasalahan finansial. Saya sendiri termasuk orang yang sering impulsif dalam membelanjakan uang terutama sebelum menikah. Meski sudah berupaya menyisihkan dana darurat setiap bulannya, terkadang uang tersebut terpaksa dipakai ketika keadaan keuangan saya memburuk. Terutama saat saya pernah memutuskan untuk menjadi freelancer dengan penghasilan yang tidak menentu setiap bulannya.

Setelah menikah, saya semakin berpikir untuk jangka panjang, saya dan suami pun menyisihkan uang untuk biaya persalinan. Tapi ternyata di usia kandungan 6 bulan, saya diharuskan rawat inap di rumah sakit karena perut saya yang sakitnya bukan main dan ternyata saluran pencernaan saya terinfeksi bakteri. Jadilah dana bersalin itu pun terpakai. Hidup memang menawarkan ketidakpastian. Terkadang di satu masa kita bisa punya banyak uang, di masa yang lainnya, untuk makan saja harus dihitung-hitung dengan cermat. Tapi, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Berikut ini 6 cara solusi keuangan untuk mengatasi bokek yang sudah saya praktekan sendiri

Jual Barang yang Sudah Tidak Terpakai

Kalau lagi bokek, coba deh lihat ke sekitar, barang-barang apa aja yang ada di rumah kamu, yang masih punya nilai jual dan nggak terpakai. Saya pernah jual netbook saya yang sudah rusak. Tadinya bingung juga mau jual kemana barang rusak seperti itu, dan apakah ada yang mau beli. Saya juga nggak niat mereparasinya karena harganya pasti mahal banget. Tapi saya juga nggak mau terus-terusan nyimpan netbook ini di rumah, karena buat apa? Kalau mau dibuang ya dibuang kemana? Masa ke tempat sampah? Saya pun mencoba menjualnya ke toko service laptop di ITC BSD. Di toko pertama cuma dihargai 100 ribu rupiah. Agak sedih juga sih, kalau dijual dengan harga segitu. Alhasil saya lebih memilih pulang dulu, karena sudah banyak toko yang tutup. Besok saya niatnya ke sana lagi ke toko yang berbeda. Sesuai harapan, besoknya di toko yang beda, netbook saya dihargai 300 ribu rupiah! Lumayan banget, sesuatu yang saya pikir cuma akan jadi sampah di rumah, ternyata masih berharga.

Menjual Barang yang Sudah Kebanyakan

Tanpa sadar manusia itu kadang suka nimbun barang. Entah baju, tas, buku, atau apapun. Kalau kamu punya barang yang sekiranya masih bisa bernilai dan dirasa kebanyakan, jual aja. Jual dengan harga murah. Misalnya kamu punya handphone sampai 3 buah. Nah, daripada boros juga isi pulsa 3 HP, lebih baik dijual. Memang nilainya pasti turun, tapi daripada kamu nggak bisa makan saking bokeknya. Atau kamu punya tumpukan baju yang masih oke tapi kamu udah bosen pakainya, ya jual aja. Begitu juga dengan buku-buku. Daripada sesak di lemari atau di rak buku, lebih baik dijual saja buku-buku lama kamu dengan harga murah. Saya pernah punya dua handphone dan satunya saya jual aja karena jarang dipakai juga. Setelah itu saya bisa tetap bisa hidup dengan satu handphone dan nggak merasa rugi, malah uangnya lumayan banget untuk nambah-nambah tabungan.

Mencoba Usaha atau Bisnis Kecil

Mungkin kamu bingung kenapa saat bokek saya justru menyarankan bisnis yang jelas-jelas butuh modal. Begini, bokek itu biasanya nggak tiba-tiba alias jauh-jauh hari kamu tahu kalau sebentar lagi uang kamu akan menipis. Paling nggak kamu masih punya dong uang untuk pulsa smartphone. Nah, bisnis itu kadang bisa kamu jalankan sesederhana memanfaatkan smartphone yang kamu punya. Saya sendiri sangat mengoptimalkan gadget yang saya punya, ya laptop dan handphone

Suami saya punya kemampuan desain grafis, dan sering dapat pesanan buat desain logo, spanduk, sertifikat, dan lain-lain. Kami pun membuat bisnis kecil di bidang jasa desain grafis bernama Meon Design. Suami yang mengeksekusi pesanan, saya yang mempromosikan. Lewat setiap kanal social media yang saya punya, Facebook, Twitter, Path, Instagram, saya selalu posting hasil kerjaan suami saya yang dipesan klien. Lambat laun teman-teman saya banyak yang tahu, dan dari social media itulah pesanan dari rekan-rekan saya pun berdatangan. 

Modal uang itu perlu, tapi nggak selalu dalam jumlah besar. Dengan modal pulsa internet aja kita bisa mulai bisnis dan mendatangkan uang. Lagipula modal nggak hanya uang, tapi kemampuan, pertemanan, dan waktu. Iya, waktu. Daripada waktu dihabiskan cuma untuk posting kegiatan sehari-hari yang nggak penting-penting banget, lebih baik manfaatkan layanan internet untuk mencari rezeki. Ketika usaha dirasa sedang menurun, lebih giat lagilah berpromosi. Jangan ketika keuntungan yang datang sedikit lantas malas mengurus bisnis. Apapun yang terjadi, terus lakukan apa yang kamu bisa dengan sebaik-baiknya, walaupun sesusah apapun keadaan kamu.

Ikut Lomba

Masih dengan modal smartphone kamu, cari deh info mengenai lomba-lomba di internet yang sesuai minat kamu. Usahakan ikut lomba yang kamu nggak perlu bayar, alias gratis. Ikuti lomba yang memang kamu punya kemampuan di bidang tersebut. Misalnya kamu suka dan bisa motret, ya ikut aja lomba fotografi. Kalaupun nggak punya kamera tapi kamu yakin sama kemampuan kamu, jangan segan-segan pinjam kamera teman. Kalau kamu suka ngeblog, ikuti lomba-lomba nulis blog. Memang untuk sebagian orang, hal-hal seperti ini (ikut lomba) cuma hal yang sia-sia, dan bikin capek. Tapi nggak ada salahnya dicoba. Kalaupun kamu nggak menang, kamu secara langsung sudah mengasah kemampuan kamu dan belajar lagi. Apalagi kalau kamu juga memperhatikan karya para pemenangnya, kamu jadi semakin tahu karya yang bagus itu seperti apa.

Mengumpulkan Recehan

Jangan anggap sepele uang koin 500 rupiah atau 1000 rupiah yang kamu punya. Saya punya kebiasaan nabung uang koin di celengan yang saya dapat dari kembalian belanja. Di saat lagi butuh banget, pernah saya bongkar dan setelah dihitung-hitung, nominalnya bisa sampai ratusan ribu rupiah! Keren, kan! Agak ribetnya pas mau dipakai, saya harus tukar dulu uang koin tersebut, biasanya saya tukarnya ke minimarket karena mereka memang butuh uang receh untuk kembalian.

Pinjam Uang Teman

Kalau udah kepepet banget, dan udah rasanya mentok sana-sini ya mau nggak mau pinjam uang teman. Saya pernah pinjam uang teman di saat dompet saya hilang dan tidak pegang uang sama sekali. Jumlahnya memang tidak banyak, asal bisa dipakai untuk makan dan mengurus urusan kehilangan itu, dari buat surat ke kantor polisi sampai membuat ATM baru ke bank. Tapi kalau setiap saat lagi butuh uang pinjam ke teman kan pasti malu, dong. Bisa bisa nanti dicap tukang ngutang sama teman sendiri, atau bisa-bisa timbul mindset dalam pikiran dia kalau kita hubungi dia cuma pas ada maunya aja yaitu mau minjem duit. Jangan sampai, deh. 


Nah, biar nggak perlu malu dan gengsi di hadapan teman sendiri, lebih baik pinjam uang lewat layanan pinjaman online, seperti contohnya UangTeman. Prosesnya cepat dan terpercaya untuk kamu yang butuh dana talangan. Jika permohonan pinjaman kamu disetujui, hari itu juga uang langsung ditransfer ke rekening kamu. Pengajuan pinjamannya juga mudah, karena dilakukan secara online, jadi bisa dimanapun dan kapanpun, jelas jadi bisa hemat waktu dan energi. UangTeman solusi yang pas bikin #UrusanBeres. Untuk mengajukan pinjaman kamu juga nggak perlu memberikan jaminan apa-apa. Maksimal pinjaman yang bisa kamu ajukan Rp 2 juta dengan waktu pengembalian 30 hari. Dengan UangTeman kebutuhan keuangan yang mendesak bisa teratasi dengan cepat. "Ini adalah curhatan finansial #TemanNgeblog dan solusi yang bikin #UrusanBeres”.


Foto: Aprillia Ramadhina

Rabu, 12 Oktober 2016

3 Buku Keren yang Dapat Menghidupkan Kreativitasmu

Oktober 12, 2016

Kamu seorang pekerja kreatif? Sebagai pekerja kreatif tentu kamu nggak boleh kehabisan kreativitas. Tapi sekreatif-kreatifnya manusia, pasti pernah merasa mentok, mandek. Padahal, kreativitas itu bisa diasah, bisa dilatih. Menjadi kreatif itu butuh momentum, yakni saat yang tepat untuk bergerak. Momentum ini perlu diulang terus menerus hingga menjadi kebiasaan, terbiasa menjadi kreatif.

Tiga buku keren di bawah ini memang nggak lantas bikin kamu jadi dapat banyak proyek, atau tiba-tiba membuat kamu menjadi mahir membuat sesuatu. Karena tiga buku ini nggak bicara soal meningkatkan kemampuan teknik, kamu bisa dapat itu di buku yang jelas-jelas membahas tentang “how to” yang sesuai dengan bidang yang kamu tekuni. Tapi tiga buku ini membahas ke hal yang lebih esensial, bagaimana kamu hidup melalui kreativitasmu. Tiga buku ini bisa membuat kreativitas kamu terus berkobar dan menyala lebih terang!

“Show Your Work!”  Karya Austin Kleon

Buku ini dibuka dengan quotes dari John Cleese, “Kreativitas bukan bakat, melainkan cara kerja.” Di buku ini kamu akan semakin tahu betapa pentingnya keterkaitan antara karya yang bagus dengan promosi yang baik. Memang karya yang bagus akan menemukan konsumennya sendiri, akan tetapi, berkarya bagus saja tidaklah cukup. Kunci sebagai pekerja kreatif agar mudah ditemukan adalah dengan berbagi. Sudah bukan zamannya lagi berkarya diam-diam dan menimbunnya seperti harta karun. Dengan berbagi dan memanfaatkan jaringan, kamu bisa memperoleh konsumen yang bisa jadi tidak kamu bayangkan sebelumnya. Bagaimana kamu bisa terhubung dengan banyak orang dan karyamu bisa diketahui lebih luas lagi, kalau kamu hanya menyimpannya saja dan tidak memperlihatkannya kepada dunia? 

“Hiduplah Imajinasi Raya” Karya Wahyu Aditya

Dalam buku ini, Wahyu Aditya mengalihrupakan kalimat inspirasi para tokoh dan netizen menjadi ilustrasi. Di buku ini kamu bisa melihat bagaimana Wadit (begitu Wahyu Aditya biasa dipanggil) mengolah dan menyerap kata-kata bijak kemudian mengubahnya menjadi gambar inspiratif. Sebagian besar quotes tokoh yang diambil Wadit bersumber dari Twitter, salah satunya tweet dari @quraishihab “Mencintai sesuatu sewajarnya saja, membenci sesuatu juga sekadarnya saja, tapi bersyukur harus sebanyak-banyaknya.” Selain Quraish Shihab, tokoh-tokoh lain yang kalimat inspirasinya dibuat menjadi ilustrasi antara lain Pablo Picasso, Jusuf Kalla, Bob Sadino, Edward Suhadi, Anies Baswedan, dan masih banyak lainnya. Buku ini sangat direkomendasikan buat kamu yang sedang merasa “mentok” dalam proses kreatif kamu ketika mencipta sesuatu.


“Indiepreneur” Karya Pandji Pragiwaksono

Buku ini bisa menjadi jawaban dari pertanyaan banyak orang: “Bisakah seseorang hidup dari karyanya?” Dalam buku ini Pandji menjabarkan bahwa hidup dari karya dengan tetap menjaga idealisme bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia membuktikannya sendiri ketika berkecimpung di empat jenis industri, film, buku, musik dan stand-up comedy. Ia memberikan batasan yang begitu jelas antara bekerja dengan berkarya. Menurutnya, orang yang bekerja melakukan pekerjaan dengan baik karena iming-iming gaji dan takut kena sanksi, berbeda dengan orang yang berkarya yang akan merelakan waktu, tenaga, uang untuk memuaskan dirinya.

Salah satu cara yang dibahas Pandji dapat hidup dari berkarya ialah dengan berkolaborasi. Kolaborasi yang dibahas di buku ini adalah kerja sama yang terjalin antara pekarya yang bereputasi baik dan punya personal branding yang kuat dengan perusahaan atau brand, yang tentunya menguntungkan dua belah pihak. Bekerja sama dan berkolaborasi membuat pekarya mendapat peluang untuk membawa diri dan karyanya ke jenjang yang lebih tinggi. Kerja sama dalam berkarya akan membantu pekarya hidup layak dari karyanya.

Tiga buku ini sangat direkomendasikan untuk kamu para pekerja kreatif. Sebagai pekerja kreatif, kamu tentu tahu, bahwa punya bakat dan kemampuan yang bagus aja nggak cukup untuk bisa eksis. Tiga buku ini intinya membuat kamu tidak berhenti “belajar”. Belajar dari pengalaman dan proses kreatif orang lain, belajar untuk berbagi dan mempromosikan karya dengan baik, serta yang terpenting, belajar meningkatkan momentum kreativitas terus menerus.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Berkembanganya Potensi Diri Karena Kemajuan Teknologi Komunikasi

Oktober 08, 2016

Membangun sebuah bangsa berarti harus dimulai dengan membangkitkan diri sendiri. Individu yang berkembang dan berdaya, adalah pion-pion yang akan menggerakan perubahan dan kemajuan suatu negara.

Pergerakan sebuah negara dipengaruhi oleh perubahan kebiasaan masyarakatnya. Perubahan kebiasaan ini salah satunya dibentuk oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih dari hari ke hari.

Sekarang kita merasa hidup menjadi semakin mudah dengan dapat mengetahui berita terbaru di dunia, arah jalan, jalur lalu lintas yang  lancar, atau sesederhana memesan makanan, transportasi dan lain sebagainya. Dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang tak bisa dibendung, bisa jadi kita akan terperangah di kemudian hari. Apa pun bisa terjadi di masa depan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah dan memudahkan hidup banyak orang.

Terutama dengan hadirnya internet dan media sosial yang tidak hanya bisa diakses melalui komputer atau laptop, tapi juga dari ponsel pintar (smartphone). Dalam survei yang dilakukan Google pada tahun 2015, 43% masyarakat Indonesia sudah menggunakan ponsel pintar. Ponsel pintar membuat orang menjadi begitu fleksibel untuk mengakses internet dan berselancar di dunia maya. Nyatanya, internet dan media sosial tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi tapi juga berkontribusi pada kemajuan suatu bangsa serta telah mengubah ekonomi global dan masyarakat di seluruh dunia.

Sir Timothy John Berners-Lee yang membuat proyek World Wide Web yang membuat kita bisa mengakses informasi melalui media internet mengatakan bahwa “Web lebih kepada kreasi sosial daripada sekedar ciptaan mesin teknis semata. Saya merancangnya untuk efek sosial, membantu orang untuk bekerja sama,” ia mengatakan ini dalam bukunya Weaving The Web: The Original Design and Ultimate Destiny of the World Wide Web (2000).

Dalam memanfaatkan teknologi komunikasi, saya sendiri pun merasakan banyak sekali keuntungannya, beberapa di antaranya:

Menjadi Orang yang Mudah Ditemukan

Tahun 2015 saya menerbitkan buku berjudul “Turn on the Radio” di bawah naungan penerbit Bukune. Tidak lama setelah buku tersebut terbit, seorang penyiar radio menghubungi saya melalui direct message di Twitter untuk mewawancarai saya perihal buku tersebut. Bayangkan jika saya tidak punya akun Twitter, mungkin dia akan kesulitan menghubungi saya.

Mudah Menjalin Relasi

Dari akhir tahun 2011 sampai Agustus 2016 kemarin, saya menjalani profesi sebagai wartawan di berbagai media. Untuk bisa mewawancarai narasumber saya merasa sangat terbantu dengan hadirnya media sosial. Cukup hubungi lewat media sosial dan meminta kontak Whatsapp atau alamat e-mail (surat elektronik), maka janjian untuk wawancara pun dapat dilakukan.


Menjalankan Bisnis Tanpa Harus Beranjak dari Rumah

Saya mempromosikan bisnis kecil saya di bidang penyedia jasa desain grafis, Meon Design melalui setiap kanal media sosial yang saya punya. Dari sebuah posting-an tentang aktivitas saya di Path, teman SMP saya kemudian meminta kontak Whatsapp saya dan memesan desain sertifikat untuk acara kantornya. Dari promosi melalui tweet saya di Twitter, seorang teman Twitter yang bahkan belum pernah saya lihat wajahnya di dunia nyata memesan logo untuk website-nya. Sangat menyenangkan bukan, berhubung saya sedang hamil, berbisnis tanpa harus keluar rumah sangat membuat nyaman.

Belajar Ilmu Secara Gratis

Sejak menikah saya tinggal terpisah dari ibu saya. Meski saya belum mahir memasak, saya sangat terbantu dengan situs-situs yang menampilkan resep-resep memasak dan jika ingin lebih jelas lagi, tinggal buka video tutorial di Youtube. Tidak hanya masak, tapi apapun bisa dipelajari melalui internet. Di Youtube ada banyak tutorial yang bisa dipelajari mulai dari melukis, photoshop, tutorial kunci gitar, make up, kreasi jilbab dan lainnya. Berbagai tips juga bisa ditemukan, mulai dari soal kecantikan, kesehatan, karir, hingga keuangan.


Mendapatkan Suntikan Motivasi Ketika Melihat Kesuksesan Orang Lain

Ketika melihat teman yang mempromosiakan karyanya di media sosial dan melihat teman yang sukses berjualan online, saya sering merasa terpacu dan termotivasi untuk semakin menggali bakat yang saya punya. Saya menjadikan pencapaian kesuksesan seseorang yang terdekteksi di dunia maya bukan untuk diirikan tapi sebagai pembelajaran dan dorongan untuk berusaha lebih giat.

Dapat Mengubah Pola Kerja Konvensional

Jika bekerja pada umumnya harus berada di kantor, dan semacamnya, ketika menjadi wartawan saya jadi bisa lebih fleksibel mengatur waktu dan lokasi bekerja. Setelah tidak menjadi wartawan, saya bisa menjadi kontributor di media hanya dengan mengirimkan email dan tidak perlu datang ke kantor. Tidak mustahil lambat laun bekerja dengan cara seperti ini akan diadaptasi di banyak perusahaan.

Alternatif Terapi Kebahagiaan

Media sosial bisa menjadi salah satu alternatif terapi di abad ini karena melalui media sosial, kita bisa menyalurkan emosi yang tak tersalurkan di dunia nyata. Mengapa menyalurkan emosi di media sosial yang berarti melibatkan masyarakat luas? Karena sejatinya manusia ingin didengar, kalaupun tidak ada yang berkomentar atau peduli, setidaknya dengan menulis perasaan dan emosinya kepada sosial media, kita sudah berbicara kepada diri sendiri. Saya setelah hamil dan memutuskan untuk berhenti dari kantor tempat saya bekerja, berhubungan dengan teman-teman di media sosial menjadi hal yang penting. Saya merasa menjadi tidak sendirian.

Saya berharap akan ada lebih banyak orang lagi yang hidupnya merasa terbantu dengan kecanggihan teknologi komunikasi, semakin banyak terjalinnya kolaborasi kreatif, terbukanya peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Semoga komunikasi dan informasi dapat lebih mudah diakses oleh mereka yang tinggal di daerah terpencil. Harapan ini akan menjadi keniscayaan, jika kesenjangan digital di masyarakat mampu terjembatani  dengan baik.

 Foto: Aprillia Ramadhina