Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Toto dan Garis-Garis Wajah yang Tak Pernah Selesai

Gambar
Tidak ada hasil yang selesai dari sebuah sketsa. Pada hakikatnya, sketsa bukan gambaran utuh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sketsa mengandung arti sebuah lukisan cepat, hanya garis-garis besarnya saja. Gambaran besar tanpa detail, rancangan kasar, begitu kira-kira pengertian ringkasnya. Itu pun yang terlihat dari karya-karya Toto BS.“Kekasaran itulah sebuah keindahan.” ungkapnya pada saat pembukaan pameran tunggalnya di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki. Pameran “Sketsa Spontan” ini berlangsung dari tanggal 5-10 April 2014 dan merupakan pameran tunggal ketiga Toto setelah sebelumnya berpameran di Rumah Proses Bandung (2009) dan Galeri Millenium (2009). Spontan berarti serta merta, tanpa dipikir, dan melakukannya dengan dorongan hati. Toto menangkap ekspresi lebih dalam dari bidikan kamera. Dua kali saya dibuatkan sketsa di kertas oleh Toto, dua kali juga saya mendapatkan gambaran yang berbeda. Pada gambar pertama wajah saya tampak sendu, padahal saya tidak memperlihatkan rona…

Menatap Bali melalui Kacamata Pelukis Belanda

Gambar
Pameran “Banten” Jan Peter van Opheusden


Wajah-wajah polos anak-anak di Bali lengkap dengan udeng-nya (ikat kepala khas Bali) terangkum dalam lukisan “Children of Bali” dari Jan Peter van Opheusden yang dipamerkan di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, 24 Maret-11 April 2014. “Ketika melukis anak-anak itu, saya memotret mereka terlebih dulu, saya tidak mengkopi, foto hanya sebagai medium.” ujar Opheusden. Anak-anak tentu tidak bisa berdiam dalam waktu lama untuk dilukis. Selain anak-anak, ada upacara, tarian, dan aktivitas lainnya yang juga Opheusden tuangkan dalam pameran bertajuk “Banten” itu. Kata Banten yang dimaksud bukanlah Banten sebagai sebuah provinsi, tapi ‘Banten’ yang berarti ‘persembahan’ atau dedikasi dalam bahasa Bali. Sejumlah  upacara memang sering sekali bisa ditemukan di Bali, kepada alam, mereka memberikan persembahan dalam bentuk ‘sesajen’.
“Tajen” sebagai kegiatan sabung ayam yang begitu mudah dijumpai di Bali, juga dihadirkan Opheusden. Dari lukisan yang indah-indah …

Pameran Tunggal Sahat Simatupang

Gambar
Karya yang hadir apa adanya

Melukis tanpa rencana. Lukisan-lukisan Sahat Simatupang hadir ‘dengan sendirinya’. Ketika berhadapan dengan kanvas putih di hadapan, dirinya tak pernah merencanakan apa yang akan ia buat, ia tidak memikirkan judul atau tema sebagai patokan. Yang terpenting, dirinya harus selalu ‘masuk’, menyatu ke dalam lukisan yang dibuatnya. Tak heran, bentuk-bentuk unik pun muncul, seperti di lukisannya yang berjudul “Kehidupan” ada gambar-gambar ikan di sana. “Seperti ada yang menggerakan saya, jika kemudian muncul bentuk mata, ikan, dan bentuk-bentuk lainnya, jika awalnya gambar orang kemudian berubah menjadi bentuk lainnya lagi yang tampil, itu bukan masalah, bahkan jika nantinya menjadi abstrak pun, juga tidak masalah.” ujar Sahat. Judul dalam sebuah lukisan hanyalah sebuah nama, ia menganalogikan lukisannya seperti bayi yang baru lahir, yang terlahir lebih dulu baru kemudian diberi nama, maka judul lukisan baru diberikannya ketika lukisannya itu jadi. Ia mengatakan b…