Minggu, 24 Maret 2019

Hijrah dari Wartawan: Career Pivot

Maret 24, 2019


Sebenarnya, agak berat melepas profesi yang begitu membuat saya nyaman. Tapi, hidup terkadang hanya perihal menggenggam dan melepaskan. Karena, nyaman belum tentu aman. Selama jadi wartawan, saya merasakan dua kali perusahaan media tempat saya bekerja tutup. Sudah jadi rahasia umum, jangan kerja di media kalau tujuannya mau kaya.

Kemudian saya berpikir, sampai kapan saya akan menggeluti profesi ini. Saya senang menulis. Tapi, tentu saya tahu betul, bahwa menjadikan menulis sebagai sebuah pekerjaan, tidak lantas hanya harus jadi wartawan saja. Ada banyak peluang lainnya, toh saya udah ngerasain sendiri, di mana saya dibayar sebagai blogger, sebagai orang yang nulis press release, sebagai pengisi konten di website perusahaan-perusahaan, penulis buku. Jadi ada banyak saluran menghasilkan uang dari menulis, nggak mesti jadi wartawan.

Career Pivot

Karena itulah saya hijrah. Sekarang saya jadi Digital Content Strategist di sebuah startup. Ini challenging banget menurut saya. Karena selama kerja dari tahun 2011, saya nggak pernah jadi anak Marketing. Sekarang, divisi itulah tempat saya berada. Biarpun saya juga udah berkecimpung dari tahun 2013 di media online, tapi tetap aja dunia digital itu nggak saya paham-paham banget.

Saya tahunya cuma liputan, nulis, ngedit, tayangin tulisan, udah. Selebihnya bukan bagian saya. Tapi namanya manusia, ya kalau mau naik kelas, harus ada keterampilan baru yang dipunya. Walaupun sekarang kerjanya di startup, karena perkembangannya lumayan bagus, startup ini punya empat lini bisnis. Jadi, ya lumayan banget, kan kerjanya. Hahaha. 

Ada yang bilang, “Karir itu tumbuhnya ke atas, bukan ke samping”. Bodo amat. Emang kenapa kalau karier saya bukan meninggi tapi melebar? Di usia 29 tahun, saya mulai semuanya dari nol lagi. Menggarap tulisan yang mungkin nggak keren di mata banyak orang. Nulis tentang laundry. Tapi, yang mungkin juga nggak banyak orang tahu. Yang kami kerjakan di startup ini adalah bagian dari misi merevolusi industri laundry.

Industri yang dianggap banyak orang nggak keren. Industri yang nggak seksi. Yang isinya orang-orang gaptek. Tapi, kami semua percaya. Bahwa bukan hal yang mustahil membantu mereka “naik kelas” dengan bantuan teknologi.

Bertumbuh dan Bertansformasi

Sumber gambar: Instagram @motivated.mindset


Orang yang pernah lihat CV saya pernah bilang, "Kamu ini berubah-ubah ya. Ini multi talent apa emang bingung?" dengan nada yang agak ngerendahin. Padahal andai dia paham kalau saya begitu karena memang saya memilih untuk pivot. Untuk menyesuaikan apa yang saya bisa dengan perkembangan zaman. Bahwa saya menolak untuk "gitu-gitu aja". Berpindahnya saya adalah untuk bertumbuh. Lagipula apa yang salah dengan menjadi orang yang bingung? Memangnya kenapa jadi orang yang berjalan tanpa tahu arah?

Saya hijrah dari wartawan karena saya tahu, kalau mau di jalur ini terus, paling nggak ke depannya harus kayak Najwa Shihab atau Andy Noya. Tapi nyatanya saya nggak kepikiran mau ke arah sana. Itulah mengapa, 7 tahun saya on-off dari dunia media, saya rasa cukup untuk saat ini saya memulai menjelajah ke ranah yang lain. Walau saya nggak tahu sampai kapan. Tapi, yang saya tahu pasti, semua yang saya kerjakan punya satu benang merah; menulis.