Kamis, 08 Juni 2017

Duahari.com, Tempat Beli Aksesoris Handphone yang Unik dengan Harga Terjangkau

Juni 08, 2017

[Sponsored Post] Sebentar lagi THR turun, ya. Biasanya dua minggu sebelum lebaran. Kalau udah pegang THR, rasanya udah nggak sabar untuk dibelanjain ya, hahaha. Enaknya sih beli gadget baru. Eh, tapi kalau kebutuhan kamu masih banyak banget, buat mudik, buat kue lebaran, ketupat, dan lain sebagainya, rasanya sayang, ya kalau uangnya buat beli gadget. Bisa-bisa ludes seketika, hahaha. Nah, biar gadget yang kita punya tampil lebih baru dan keren, mending beli aksesorisnya aja, yuk. Lumayan banget lho, bikin handphone kita rasanya makin personal. Jadi kalau ditaruh barengan sama handphone orang lain nggak bakal ketuker, hihi.

Ada tempat belanja online yang produknya unyu-unyu banget nih, buat kamu yang lagi cari aksesoris handphone. Namanya Duahari.com. Apa sih, serunya belanja di Duahari.com?

Produknya Unik dan Harganya Terjangkau

LED Selfie Light

Mau cari aksesoris handphone yang kayak gimana juga ada di sini. Dari mulai kabel data USB, screen protector, earphone, sampai yang unik kayak mobile humidifier yang bisa buat wajah kita terhidrasi juga ada. Handphone kita jadi semacam nano spray gitu deh. Ada LED Selfie Light yang cocok untuk yang mau selfie tapi tempatnya kurang cahaya. Ada Speaker Bluetooth Waterproof, buat kamu yang hobi nyanyi-nyanyi di kamar mandi dan ada banyak case handphone yang lucu-lucu dan menggemaskan. Untuk handphone case bergambar stitch harganya Rp 40.000. Ring holder-nya juga macem-macem, dari yang bentuknya standar sampai bentuk angsa, hello kitty, rubah dan lain-lain. Harganya cuma Rp 10.000 - Rp 12.000 aja. Sedangkan untuk tempered glass ada yang dijual mulai harga Rp 18.000.
Tempered glass sale jadi Rp 18.000


Gratis Ongkos Kirim ke Seluruh Indonesia

Case handphone nya gemesin amat :)

Ini yang menurut saya paling enak. Percuma harga produknya terjangkau kalau ongkos kirimnya mahal. Apalagi untuk teman-teman yang tinggalnya di daerah, bisa-bisa lebih mahal ongkos kirimnya. Kalau belanja di Duahari.com udah nggak perlu cemas soal ongkos kirim, karena gratis tis tis. Dan lebih enaknya lagi, gratisnya ini seluruh Indonesia. Alias nggak cuma Jabodetabek aja.


Cicilan 0% Semua Produk

Speaker Bluetooth Waterproof

Produk di Duahari.com juga bisa dicicil. Untuk kenyamanan dalam berbelanja, Duahari.com menghadirkan fasilitas cicilan 0% untuk semua produk dengan tenor cicilan hingga 12 bulan.

Bisa Bayar di Tempat

Mobile Humidifier

Ini juga salah satu hal yang memudahkan kita banget dalam belanja online. Bayar di tempat. Untuk ibu-ibu kayak saya nih ya agak ribet kan kalau mau beli barang online mesti bayarnya via transfer ke ATM dulu. Lagipula nggak semua orang pakai mobile banking untuk transfer sana-sini. Jadi, bisa bayar di tempat itu buat si sangat memudahkan. Bisa juga bayar di Indomaret. Ini memudahkan banget kalau misalnya lagi di jalan dan nggak nemu ATM, secara Indomaret banyak bertebaran di mana-mana.

 
Jaminan Pengembalian Produk

Ring holder 

Duahari.com juga ada layanan pengemballian produk. Jadi, kalau misalnya nggak puas nih ya, kamu bisa kembalikan produk dengan batas waktu klaim 15 hari setelah produk kamu terima.

 
Bagaimana Cara Belanja di Duahari.com?

Cari produk yang kamu mau di website-nya. Bisa melalui fitur pencarian atau pilihan kategori. Klik produk, nanti akan muncul halaman detail produk, dan klik tombol “BELI”,  lalu klik "Lanjutkan Pembayaran" jika kamu ingin menyelesaikan transaksi. Atau klik "Lihat/Ubah isi Bag" jika kamu ingin mengubah isi pesanan.

Untuk sekadar informasi, kantornya Duahari.com terletak di Komplek Grogol Permai, Jakarta Barat. Kamu bisa menghubungi kantornya di:
Telephone:02122562080
E-mail: support@duahari.com

Kalau mau belanja langsung aja kepoin website-nya ya Duahari.com. Bisa juga cek Facebook Fanpage nya di sini: Duahari biasanya sering ada giveaway gitu. Atau lihat-lihat instagramnya di @duahariindonesia

Selamat berbelanja!

Foto: dok. Duahari.com

Senin, 05 Juni 2017

Enam Bulan Arina, Enam Bulan Saya Menjadi Ibu

Juni 05, 2017

Tidak terasa anak saya sudah berusia enam bulan. Usianya beralih dari yang tadinya hanya minum ASI mulai dikenalkan makanan baru. Ada rasa haru di dada saya. Ah, sudah semakin besar ya, dia, nggak cuma nenen aja sekarang, tapi udah maem.

Arina 1 bulan udah ke mall :D


Enam bulan Arina, sejauh ini perkembangan Arina tampak sewajarnya. Karena saa tidak memaksakan ia harus punya kebisaan-kebisaan yang mendahului umurnya. Alhamdulillah, dia berkembang sebagaimana mestinya, yang penting tidak terlalu terlambat saja.
Arina 2 bulan

Enam bulan Arina, enam bulan saya menjadi ibu. Selama 6 bulan ini selain prestasi Arina yang berkembang dengan optimal dari hari ke hari, bulan ke bulan. Yang perlu saya hargai juga adalah prestasi diri saya sendiri. Bagi saya, selain mengagung-agungkan kebisaan anak, setiap ibu jangan lupa menghargai dirinya sendiri. Selagi masih sewajarnya dan tentunya tidak perlu berlebihan.
Arina 3 bulan, abis tes darah di rumah sakit :(

Selama 6 bulan ini, Alhamdulillah Arina bisa ASI eksklusif. Itu pun juga selalu direct breastfeeding. Kalau saya pergi, Arina pasti ikut, dan dia akan selalu menyusui di mana pun ia berada. Breastfeeding everywhere. Entah itu di ruang menyusui, di mobil, di rumah saudara, di restoran.
Arina 4 bulan lagi semok-semoknya :D

Pernah saya coba pakai botol, beberapa kali dia nggak mau, pakai sendok juga nggak mau. Ya sudahlah, memang dia senangnya menyusu langsung. Lagipula memang lebih enak. Dia tahu seberapa banyak susu yang dia butuhin. Kebetulan juga menyusui langsung itu paling praktis, nggak perlu mompa, merah, masukin botol ke kulkas, angetin botol, dan lain sebagainya. Mamaknya malas repot, hahahaha. Padahal, sih memang karena belum mahir merah aja, dan belum punya pompa yang bagus.

Dulu, awalnya saya merasa menyusui itu menyakitkan. Puting yang lecet dan perih, payudara yang bengkak dan sakitnya seperti membatu, belum lagi pegalnya menyusui sambil menggendong. Saya yang awalnya sering pengin nyerah aja, ternyata saya bisa sampai di bulan keenam. Luar biasa.


Arina 5 bulan

Enam bulan Arina, enam bulan yang penuh cerita, dari drama hingga komedi. Ada banyak kekonyolannya yang selalu mengundang tawa. Dari mulai sering ngemutin baju dan bra mamanya, ngemut kaki sendiri, sampai makan MPASI diobok-obok dan masukin kepala ke dalam piringnya. Ada banyak juga dramanya. Waktu dia usia 3 bulan, dia kena infeksi saluran kemih. Tiap pipis jerit kencang banget kaya kesakitan. Beberapa hari setelahnya mamaknya yang dirawat karena diare lebih dari 15 kali sehari. Dan… ada banyak drama lainnya, saat dia bisa rewel tanpa sebab, dan bikin orang serumah bingung serta nggak tahu mesti ngapain lagi.

Enam bulan Arina, dia kemarin nyoba makan pisang dan wortel untuk menu pertamanya. Waktu dikasih pisang dia kayanya terlalu seret. Jadi, besoknya saya kasih puree wortel dan dia mau. Besoknya saya coba kasih dua kali, pagi dan siang, masih wortel, dia tetep mau. Yeay, setelah tanya sana-sini, baca sana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk coba kasih dia sayuran dulu, tapi tetap menu tunggal. Saya pengin tahu kalau yang rasanya nggak enak kaya wortel gitu kira-kira dia doyang nggak, ya. Nanti makan buah yang lebih enak jadinya lebih gampang. Alhamdulillah dia doyan! 
Arina jelang 6 bulan

Tapi dramanya bukan di dia suka atau nggak ternyata, bukan juga di kerepotan bikinnya. Bikinnya nggak terlalu susah, dan dianya mau aja nelen. Tapi dramanya itu di proses ngasih makannya, sodara-sodaraa... Jadi dia ini nggak betah didudukin, uget-uget nggak bisa diem, coba digendong juga melenting terus, susah nyendokin, alhasil ada yang masuk idung, hahahaha. Ealla, ternyata ngantuk, maunya nenen dan bobo. Siangnya dicoba lagi, masih tuh heboh nggak jelas. Yaudah mamaknya nyerah, taro piring, taro anak di kasur lantai. Eh dia gegulingan nyamperin piringnya, diobok-obok aja dong itu wortel, sampe tangannya berlumuran dan muncrat-muncrat ke kasur. Dan piringnya dia gigitin. Bahkan dia masukin muka! Siapa yang ngajarin mam kaya empus gitu, sih dek?
Arina mulai makan MPASI :D

Ah, ke depannya nanti, pasti akan ada lebih banyak drama dan komedi lagi. Tapi saya benar-benar bahagia sekaligus terharu bisa bersama dia selama enam bulan ini. Waktu yang terlalu sebentar. Enam bulan, kami berdua sama-sama belajar dan tumbuh menjadi manusia baru, ia sebagai anak-anak dan saya sebagai ibu. 


Karena saat melahirkannya, saya juga terlahir menjadi pribadi baru, dengan peran yang dilakoni seumur hidup; menjadi ibu.

Jumat, 02 Juni 2017

Mengeluhlah Sewajarnya

Juni 02, 2017


Saya sering bertemu dengan orang yang mengeluh “Gue bosen banget!” tapi setelah mengatakan itu ya dia nggak ngapa-ngapain juga, nggak beranjak dari aktivitasnya yang buat dia bosan itu. Tadinya lagi tidur-tiduran, terus ngerasa bosan karena nggak ngapa-ngapain, eh tetep aja tidur-tiduran, bukannya milih untuk ngapa-ngapain kek biar nggak bosan.

Saya juga sering ketemu sama orang yang udah gedeg banget sama kerjaannya, tiap hari yang diomongin cuma keburukan tempat kerjanya dan betapa dia udah nggak tahan dan mau keluar aja terus yang diucapinnya. Tapi yang dia lakuin, dia milih untuk stay. Iya, stay. Nggak berusaha keluar, nggak berusaha ngelamar tempat lain, nggak nyari-nyari kerjaan lain juga.

Lebih sering lagi ketemu sama orang yang udah nggak nyaman sama hubungan asmaranya. Tiap hari curhatnya pengin bubar aja. Pengin cari pacar baru. Tapi setiap keluhan-keluhan itu lambat laun pun nggak berujung apa-apa. Dia tetep aja berada di hubungan yang dia sendiri tahu jalan di tempat dan cuma buat stuck. Dia bertahan cuma karena udah pacaran lama banget aja.

Saya nggak paham sama pola pikir orang yang begitu. Nyiksa diri nggak sih? Saya kalau ngerasa nggak puas sama sesuatu ya coba terima dulu dengan lapang dada, kalau dadanya ternyata nggak terlalu lapang untuk nerimanya, ya saya ngeluh. Abis ngeluh, saya protes. Abis protes saya berusaha ngubah, kalau ternyata nggak bisa diubah, yaudah tinggalin aja. Itu yang saya lakuin ketika ngalamin tiga hal di atas. Soal aktivitas, kerjaan dan asmara.
Mengeluhlah beberapa saat aja, setelah itu perbaiki keadaan
Dulu, saya juga punya pacar yang bikin lelah batin. Nggak mau dengar pendapat orang. Egoisnya luar biasa. Nggak pedulinya juga luar biasa. Cuma saya yang berusaha terus menerus memperbaiki hubungan. Saya coba terima, tapi capek juga. Saya ngeluh dan protes malah dibalas dengan sikap yang lebih menyebalkan. Saya pun nyerah. Secinta-cintanya saya sama dia, saya memilih melepaskan.

Saya juga pernah kerja di tempat yang menyebalkan. Yang janjiin harapan palsu, sampai yang tidak konsisten perihal penggajian. Saat saya protes dan bertanya apakah akan ada perubahan, ternyata setelah ditunggu dan ditanyakan terus, keadaan justru malah kian memburuk. Sesuka-sukanya saya sama kerjaannya, saya memilih meninggalkan.

Setelah menikah, hamil dan saya harus resign karena pindah tempat tinggal yang jauh dengan tempat kerja, saya jadi sering merasa bosan di rumah. Iya, saya ngeluh ke beberapa teman, bahkan ke suami sendiri. Tapi saya selalu melawan kebosanan saya, dengan apapun. Mengakali rutinitas saya, sering-sering pergi keluar sama suami, mengisi hari-hari dengan bercakap-cakap dengan teman (meski lewat dunia maya), menulis, melukis dan lain-lain. Melakukan  aktivitas yang selalu berbeda agar saya tidak kerap merasa bosan atau terbuai leyeh-leyeh di atas kasur terus. Senyaman-nyamannya saya sama rutinitas dan aktivitasnya, saya memilih untuk selalu bergerak.

Kita terlahir bukan untuk memperbaiki segala hal. Kita harus bisa terima kenyataan kalau ada hal-hal tidak menyenangkan di dunia ini yang tidak bisa kita perbaiki. Jangan pernah memaksakan memperbaiki apapun kalau hanya menyiksa diri.

 
Mengeluh Itu Wajar

Mengeluh itu manusiawi banget. Mengeluhlah pada tempatnya dan ala kadarnya. Kalau bisa malah mengeluhlah dengan cara yang elegan. Mengeluh yang elegan gimana? Bikin puisi kek, bikin lagu kek. Atau tuangin gagasan yang kesannya nggak ngeluh tapi lebih kepada ingin jajak pendapat orang. Bikinlah status yang seolah-olah itu cuma fiksi aja, bukan lagi curhat galau. Mengeluh di socmed itu sah-sah aja. Asal nggak nyeret-nyeret orang ikutan down dan nelangsa aja dan jangan kelewat sering juga. Jangan sampai teman-teman di socmed harus terpaksa ngeliat status kegalauanmu itu lebih dari tiga kali sehari, dan diulang setiap hari. Mengeluhlah ke keluarga, ke teman, atau kalau mau lebih spiritual lagi, ke Sang Pencipta.


Segala yang berlebihan itu nggak baik, apalagi ngeluh. Tapi kalau terlalu nahan diri banget untuk nggak ngeluh sama sekali ya nggak sehat juga. Ngeluh yang dipendem terus-terusan dan mencoba menipu diri serta abai sama perasaan sendiri itu bisa bikin stres. Nggak usah ditekan atau diumbar, tapi difasilitasi dengan baik aja. Mengeluhlah sesukamu, sampai kamu lelah. Kalau udah capek sendiri, lama-lama juga males ngeluh mulu.

Foto: Pixabay.com