Kamis, 23 Februari 2017

Bahagia di Hari Tua Itu Ketika Bisa Tetap Berdikari dan Nggak Jadi Beban Anak

Februari 23, 2017
Foto: huffingtonpost.com



Siapa yang mampu menjaminkan kebahagian di hari tua kita? Pertanyaan di atas terus menerus terngiang dalam benak saya sejak dua bulan lalu, sejak saya melahirkan seorang anak yang otomatis membuat saya menjadi orangtua. Pertanyaan itu semakin gaduh di pikiran saya terlebih ketika melihat ibu saya yang semakin tampak tua dari hari ke hari tapi ia masih dengan sigap membantu saya mengurus bayi saya, cucu pertamanya. Meski terkadang menggendong cucunya yang semakin berat itu membuatnya sakit pinggang, ia senantiasa tersenyum, tak peduli berapa banyak rambutnya yang kian memutih dan kerutan yang timbul di berbagai tempat. Bahagiakah dia?


Bahagia di hari tua itu adalah ketika tidak menyesali semua keputusan yang telah diambil sewaktu muda, tidak takut nggak bisa makan di hari esok
Bahagia di hari tua itu ketika kita berterima kasih pada setiap jejak yang diukir masa muda kita, pada setiap jengkal pengalaman, pada setiap detik waktu yang menua bersama kita, pada setiap jerih payah serta kejatuhan dan kebangkitan yang telah lewat

Seperti apa bahagia di hari tua versi saya? Melihat anak saya tumbuh menjadi pribadi yang mengagumkan, mencapai kesuksesan versinya sendiri, dan senantiasa diberkahi kesehatan dan rezeki yang halal. Itulah hal-hal yang dapat membuat saya bahagia. Ketika tua, fisik mulai melapuk, tapi semangat tidak boleh meredup. Bahagianya saya adalah jika di saat raga sudah tak lagi seprima di waktu muda saya tidak menjadi beban bagi orang lain, terlebih anak saya sendiri.

Semoga kelak ketika tua nanti, saya tidak menuntut anak saya untuk menafkahi saya yang merenta. Saya melahirkannya karena ingin memberi kehidupan padanya, bukan berharap balas budinya di hari senja saya. Menua bukan berarti harus menyusahkan. Sebisa mungkin saya membuat anak saya bangga terhadap orangtuanya bukan membuatnya susah.

Setiap anak kelak akan punya kehidupannya sendiri, tanggung jawab, dan bebannya masing-masing. Mereka tidak pernah minta dilahirkan untuk menjadi penampung orangtuanya, mereka tidak berharap ada di dunia untuk menjadi pengurus kita. Kalau kita sebagai orangtua mendidiknya untuk menjadi orang dewasa yang mandiri, seharusnya orangtua yang paling depan menjadi contoh seperti apa menjadi mandiri. Seperti apa berdiri di kaki sendiri, tanpa menjadi beban orang lain.

Ayah saya meninggal saat saya berumur 11 tahun, kakak saya berumur 14 tahun dan adik saya berumur 3 tahun. Ibu saya tidak bekerja sejak menikah dengan ayah, dia menjadi ibu rumah tangga yang fokus mengurus anak. Setelah ayah meninggal, ibu pun kesulitan mendapatkan kerja karena usia yang tidak lagi muda dan sama sekali tidak punya pengalaman bekerja. Hidup kami pun berubah, untuk biaya hidup dan sekolah kami dibantu oleh saudara-saudara. Ibu mencoba berjualan tapi selalu gagal. Ketika sudah tua, ia pun mendapat kerja sebagai buruh di konveksi, bersama orang-orang yang pendidikannya sebenarnya jauh di bawah dia.

Berkaca dari pengalaman kami sekeluarga di masa lalu dan melihat ibu yang tidak bekerja, saya menanamkan di hati saya bahwa jika saya sudah berkeluarga, saya tidak ingin menjadi beban orang lain. Saya tidak ingin ijazah saya berdebu begitu saja,

Meski kini sekarang saya sedang tidak bekerja karena belum lama melahirkan dan memutuskan resign karena lokasi kerja yang jauh yang membuat saya kesulitan menempuhnya saat tengah hamil besar, suatu saat saya pasti kembali bekerja. Entah itu bekerja di kantoran lagi, atau fokus merintis usaha kecil. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kemampuan saya dan tetap ingin berguna untuk sekitar.

Salah satu keuntungan yang ingin saya dapatkan dengan bekerja kembali nanti adalah melanjutkan kembali kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang pernah saya miliki. Dengan menjadi peserta program Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun, kelak masa tua saya tidak akan diliputi kecemasan-kecemasan yang tidak perlu.

Akan tetapi, jika keadaan saya belum memungkinkan lagi menjadi pekerja dalam waktu dekat, saya akan memfokuskan diri menekuni bisnis yang saya rintis bersama suami di bidang penyedia jasa desain grafis. Dengan begitu saya tetap bisa mendaftar program jaminan hari tua di BPJS Ketenagakerjaan sebagai pekerja Bukan Penerima Upah (BPU). Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) adalah pekerja yang melakukan kegiatan atau usaha ekonomi secara mandiri untuk memperoleh penghasilan dari kegiatan atau usahanya tersebut. Yang termasuk kategori ini tentunya orang-orang yang bekerja mandiri,  termasuk misalnya seperti tukang ojek dan supir angkot. Besaran iuran yang dikenakan sebesar 2% dari upah yang diterima untuk program Jaminan Hari Tua. Selain itu pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) juga bisa ikut program Jaminan Kematian dengan membayar Rp 6.800,- dan program Jaminan Kecelakaan Kerja.


Pada akhirnya, saya ingin bekerja dengan sangat keras saat saya masih muda dan kuat. Kelak buah dari kerja keras pasti akan berujung manis. Saya ingin di masa tua saya, saya melakukan hal-hal yang menyenangkan. Hal-hal yang sempat terpinggirkan di masa muda karena persoalan prioritas. Saya ingin menghabiskan sisa-sisa waktu saya di dunia dengan semakin banyak membaca buku, terus menulis, memelihara blog, melukis dan menikmati pemandangan anak dan cucu yang tumbuh dengan sebagaimana mestinya. Memastikan saya dan dunia merawat mereka dengan baik dan benar. 

Kini, saya tak ingin menyia-nyiakan waktu yang saya punya untuk terbuang begitu saja. Saya tak ingin masa muda saya berlalu tanpa arti. Karena warisan yang paling bermakna bagi anak saya bukanlah harta yang melimpah, tapi kisah tentang daya juang dan bertahan hidup. Agar kelak ia tahu bahwa dibutuhkan lebih dari sekadar tangguh untuk hidup sebagai manusia.