Jumat, 14 Oktober 2016

6 Cara Jitu Menghadapi Masa Bokek




Setiap orang bahkan yang sudah begitu sigapnya mempersiapkan dana tak terduga, punya tabungan yang banyak, berinvestasi di sana-sini, pastilah pernah mengalami satu masa dalam sepanjang hidupnya dimana dirinya menghadapi kesulitan keuangan atau permasalahan finansial. Saya sendiri termasuk orang yang sering impulsif dalam membelanjakan uang terutama sebelum menikah. Meski sudah berupaya menyisihkan dana darurat setiap bulannya, terkadang uang tersebut terpaksa dipakai ketika keadaan keuangan saya memburuk. Terutama saat saya pernah memutuskan untuk menjadi freelancer dengan penghasilan yang tidak menentu setiap bulannya.

Setelah menikah, saya semakin berpikir untuk jangka panjang, saya dan suami pun menyisihkan uang untuk biaya persalinan. Tapi ternyata di usia kandungan 6 bulan, saya diharuskan rawat inap di rumah sakit karena perut saya yang sakitnya bukan main dan ternyata saluran pencernaan saya terinfeksi bakteri. Jadilah dana bersalin itu pun terpakai. Hidup memang menawarkan ketidakpastian. Terkadang di satu masa kita bisa punya banyak uang, di masa yang lainnya, untuk makan saja harus dihitung-hitung dengan cermat. Tapi, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Berikut ini 6 cara solusi keuangan untuk mengatasi bokek yang sudah saya praktekan sendiri

Jual Barang yang Sudah Tidak Terpakai

Kalau lagi bokek, coba deh lihat ke sekitar, barang-barang apa aja yang ada di rumah kamu, yang masih punya nilai jual dan nggak terpakai. Saya pernah jual netbook saya yang sudah rusak. Tadinya bingung juga mau jual kemana barang rusak seperti itu, dan apakah ada yang mau beli. Saya juga nggak niat mereparasinya karena harganya pasti mahal banget. Tapi saya juga nggak mau terus-terusan nyimpan netbook ini di rumah, karena buat apa? Kalau mau dibuang ya dibuang kemana? Masa ke tempat sampah? Saya pun mencoba menjualnya ke toko service laptop di ITC BSD. Di toko pertama cuma dihargai 100 ribu rupiah. Agak sedih juga sih, kalau dijual dengan harga segitu. Alhasil saya lebih memilih pulang dulu, karena sudah banyak toko yang tutup. Besok saya niatnya ke sana lagi ke toko yang berbeda. Sesuai harapan, besoknya di toko yang beda, netbook saya dihargai 300 ribu rupiah! Lumayan banget, sesuatu yang saya pikir cuma akan jadi sampah di rumah, ternyata masih berharga.

Menjual Barang yang Sudah Kebanyakan

Tanpa sadar manusia itu kadang suka nimbun barang. Entah baju, tas, buku, atau apapun. Kalau kamu punya barang yang sekiranya masih bisa bernilai dan dirasa kebanyakan, jual aja. Jual dengan harga murah. Misalnya kamu punya handphone sampai 3 buah. Nah, daripada boros juga isi pulsa 3 HP, lebih baik dijual. Memang nilainya pasti turun, tapi daripada kamu nggak bisa makan saking bokeknya. Atau kamu punya tumpukan baju yang masih oke tapi kamu udah bosen pakainya, ya jual aja. Begitu juga dengan buku-buku. Daripada sesak di lemari atau di rak buku, lebih baik dijual saja buku-buku lama kamu dengan harga murah. Saya pernah punya dua handphone dan satunya saya jual aja karena jarang dipakai juga. Setelah itu saya bisa tetap bisa hidup dengan satu handphone dan nggak merasa rugi, malah uangnya lumayan banget untuk nambah-nambah tabungan.

Mencoba Usaha atau Bisnis Kecil

Mungkin kamu bingung kenapa saat bokek saya justru menyarankan bisnis yang jelas-jelas butuh modal. Begini, bokek itu biasanya nggak tiba-tiba alias jauh-jauh hari kamu tahu kalau sebentar lagi uang kamu akan menipis. Paling nggak kamu masih punya dong uang untuk pulsa smartphone. Nah, bisnis itu kadang bisa kamu jalankan sesederhana memanfaatkan smartphone yang kamu punya. Saya sendiri sangat mengoptimalkan gadget yang saya punya, ya laptop dan handphone

Suami saya punya kemampuan desain grafis, dan sering dapat pesanan buat desain logo, spanduk, sertifikat, dan lain-lain. Kami pun membuat bisnis kecil di bidang jasa desain grafis bernama Meon Design. Suami yang mengeksekusi pesanan, saya yang mempromosikan. Lewat setiap kanal social media yang saya punya, Facebook, Twitter, Path, Instagram, saya selalu posting hasil kerjaan suami saya yang dipesan klien. Lambat laun teman-teman saya banyak yang tahu, dan dari social media itulah pesanan dari rekan-rekan saya pun berdatangan. 

Modal uang itu perlu, tapi nggak selalu dalam jumlah besar. Dengan modal pulsa internet aja kita bisa mulai bisnis dan mendatangkan uang. Lagipula modal nggak hanya uang, tapi kemampuan, pertemanan, dan waktu. Iya, waktu. Daripada waktu dihabiskan cuma untuk posting kegiatan sehari-hari yang nggak penting-penting banget, lebih baik manfaatkan layanan internet untuk mencari rezeki. Ketika usaha dirasa sedang menurun, lebih giat lagilah berpromosi. Jangan ketika keuntungan yang datang sedikit lantas malas mengurus bisnis. Apapun yang terjadi, terus lakukan apa yang kamu bisa dengan sebaik-baiknya, walaupun sesusah apapun keadaan kamu.

Ikut Lomba

Masih dengan modal smartphone kamu, cari deh info mengenai lomba-lomba di internet yang sesuai minat kamu. Usahakan ikut lomba yang kamu nggak perlu bayar, alias gratis. Ikuti lomba yang memang kamu punya kemampuan di bidang tersebut. Misalnya kamu suka dan bisa motret, ya ikut aja lomba fotografi. Kalaupun nggak punya kamera tapi kamu yakin sama kemampuan kamu, jangan segan-segan pinjam kamera teman. Kalau kamu suka ngeblog, ikuti lomba-lomba nulis blog. Memang untuk sebagian orang, hal-hal seperti ini (ikut lomba) cuma hal yang sia-sia, dan bikin capek. Tapi nggak ada salahnya dicoba. Kalaupun kamu nggak menang, kamu secara langsung sudah mengasah kemampuan kamu dan belajar lagi. Apalagi kalau kamu juga memperhatikan karya para pemenangnya, kamu jadi semakin tahu karya yang bagus itu seperti apa.

Mengumpulkan Recehan

Jangan anggap sepele uang koin 500 rupiah atau 1000 rupiah yang kamu punya. Saya punya kebiasaan nabung uang koin di celengan yang saya dapat dari kembalian belanja. Di saat lagi butuh banget, pernah saya bongkar dan setelah dihitung-hitung, nominalnya bisa sampai ratusan ribu rupiah! Keren, kan! Agak ribetnya pas mau dipakai, saya harus tukar dulu uang koin tersebut, biasanya saya tukarnya ke minimarket karena mereka memang butuh uang receh untuk kembalian.

Pinjam Uang Teman

Kalau udah kepepet banget, dan udah rasanya mentok sana-sini ya mau nggak mau pinjam uang teman. Saya pernah pinjam uang teman di saat dompet saya hilang dan tidak pegang uang sama sekali. Jumlahnya memang tidak banyak, asal bisa dipakai untuk makan dan mengurus urusan kehilangan itu, dari buat surat ke kantor polisi sampai membuat ATM baru ke bank. Tapi kalau setiap saat lagi butuh uang pinjam ke teman kan pasti malu, dong. Bisa bisa nanti dicap tukang ngutang sama teman sendiri, atau bisa-bisa timbul mindset dalam pikiran dia kalau kita hubungi dia cuma pas ada maunya aja yaitu mau minjem duit. Jangan sampai, deh. 


Nah, biar nggak perlu malu dan gengsi di hadapan teman sendiri, lebih baik pinjam uang lewat layanan pinjaman online, seperti contohnya UangTeman. Prosesnya cepat dan terpercaya untuk kamu yang butuh dana talangan. Jika permohonan pinjaman kamu disetujui, hari itu juga uang langsung ditransfer ke rekening kamu. Pengajuan pinjamannya juga mudah, karena dilakukan secara online, jadi bisa dimanapun dan kapanpun, jelas jadi bisa hemat waktu dan energi. UangTeman solusi yang pas bikin #UrusanBeres. Untuk mengajukan pinjaman kamu juga nggak perlu memberikan jaminan apa-apa. Maksimal pinjaman yang bisa kamu ajukan Rp 2 juta dengan waktu pengembalian 30 hari. Dengan UangTeman kebutuhan keuangan yang mendesak bisa teratasi dengan cepat. "Ini adalah curhatan finansial #TemanNgeblog dan solusi yang bikin #UrusanBeres”.


Foto: Aprillia Ramadhina