Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Mendidik Murid, Mendidik Diri

Gambar
"Percuma menjadi guru jika kau lupa untuk mendidik muridmu yg paling penting, yakni dirimu sendiri" -April Tupai Menjadi guru privat awalnya bukanlah sebuah cita-cita, itu hanyalah sebuah sampingan. Sekedar untuk mencari uang tambahan saat saya masih kuliah dulu. Namun, rupanya bertemu dgn anak-anak bisa jadi pengobat hati yg sedang terluka. Mereka membuat hidup saya lbh bewarna, membuat saya menjadi punya arti dan merasa dibutuhkan. Walau terkadang miris ketika mendengar cerita mereka seputar pacaran, dan putus cinta. Anak kelas 6 SD yg harusnya msh senang2 bermain dan belajar sudahkah harus berpait2 dgn kata putus pacaran? Lantas menjabarkan mantan2nya yg tidak sedikit. Tentu saja dibarengi dgn kisah penyitaan BB oleh gurunya, sampai sang guru mendapat berkantong2 plastik penuh BB. Mungkin mereka tak lagi mengenal fase anak2, ketika mereka bahkan tidak tahu, apakah mereka masuk kategori itu? Ketika tak lg ada ciri khusus yg dapat terlihat, selain umur yg masih muda sekali d…

Perkenalan Sewon Art Space

Gambar
Bulan Juli 2011 kemarin, tepatnya tanggal 29, Sewon Art Space Yogyakarta melangsungkan pembukaan pameran yang berjudul“To Know The Unknown” (Mengenal yang Tidak Dikenal) yang sekaligus menjadi ajang memperkenalkan art space baru tersebut dengan memamerkan karya dari 3 perupa Indonesia dan 3 perupa Austria. Karya-karya yang dipamerkan hingga 12 Agustus 2011 ini merupakan kolaborasi dari seniman yang berasal dari 2 negara tersebut. Mengapa dipilih sistem kolaborasi? Karena sistem pameran kelompok sudah biasa dalam dunia seni visual, tapi soal kolaborasi, biasanya tampil berupa bentuk kerjasama dalam seni musik, film atau pertunjukkan.Project pertama yang dianggap jarang dan tidak biasa ini – karena menampilkan karya kolaborasi seniman dari 2 negara – diharapkan menjadi batu loncatan yang cukup baik untuk Sewon Art Space ke depannya. Proses perekenalan ini melibatkan Marbod Fritsch, Lukas Birk, dari Bregenz, dan Karel Dudesek dari Vienna, sedangkan dari pihak Indonesia tercantum nama Nur…

“Mencatat Batu”, Mencatat Perasaan dalam Ingatan

Gambar
Batu, seperti yang kita lihat sehari-hari merupakan benda mati yang begitu kaku, namun benda bisu itu disulap oleh Komroden Haro menjadi sesuatu yang seolah hidup, seperti manusia. Itulah yang terjadi pada pameran tunggalnya yang berlangsung dari tanggal 6-14 Agustus 2011 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). 40 patung-patung yang membatu itu seperti berutur, seolah berbicara. Beberapa di antaranya masih dijadikan Komroden Haro sebagai medium untuk mengangkat cerita tentang kehidupan, semacam perantara pesan dari sang senimannya, tapi beberapa yang tampak istimewa justru ketika batu-batu itu seperti bercerita sendiri, bertutur melalui bahasa diamnya.
Seperti patung batu yang ia beri judul “Berkeringat”, tampilannya begitu sederhana, dengan tonjolan-tonjolan di luar permukaan batu yang merepresentasikan keringat, tapi kesederhanaan itulah yang terasa mengusik, benda yang mati macam batu, dapat dikhayalkan berkeringat layaknya makhluk hidup. Tak jauh berbeda dengan karya “Sleeping Stone” ny…

“My Imaginarium”, Meretas Batas dalam Karya Seni Rupa dan Desain Interior

Gambar
Tidak ada yang tidak mungkin dalam penciptaan sebuah karya seni. Karena bentuk kebebasan yang paling optimal memang hanya dapat diperoleh di sini, meskipun batasan-batasan tertentu masih sedikit-banyak menungganginya, karena, tentunya tidak ada kebebasan yang benar-benar penuh, dalam hal apa pun. Pada celah itulah, Rio Setia Monata, mencoba mengeluarkan ide-ide fantastisnya dalam pameran tunggalnya yang berlangsung dari tanggal 29 Juli- 9 Agustus 2011 di Tembi Rumah Budaya, Yogayakarta. Dalam usianya yang terbilang cukup belia, pria kelahiran Ambarawa, 20 Maret 1989 itu memperlihatkan karya-karyanya yang mewakili jiwa anak-anak muda, sekaligus dengan perlawanan untuk meretas batas baik di dalam seni, maupun di jurusan Desain Interior, tempatnya menimba ilmu. Seni-seni yang dianggap agung biasanya menafikan sisi fungsional. Pembeda macam itu hanya agar menghindari lahirnya seniman-seniman ‘tukang’, yang hanya mampu melahirkan benda-benda fungsional yang biasanya mengabaikan sisi esteti…